Showing posts with label Literasi. Show all posts
Showing posts with label Literasi. Show all posts

Monday, April 21, 2014

oleh: Indah Widiastuti

Shofiya, 5.5 tahun sudah masuk primary school sekarang, tepatnya di kelas preparation. Semacam kelas nol besar kalo di Indonesia. Sebulan pertama di sekolah, pelajaran yang didapatnya 'hanya' common rules di sekolah. Seperti, gimana konsep sharing mainan dengan teman, apa yang harus dilakukan saat ada yang jahil, aturan untuk minta kesempatang ngomong di kelas, dll. Sesekali dia juga membawa worksheetnya, coloring page ato craft sederhana.

Pada bulan kedua, barulah dia diajari membaca. Ga seperti bahasa Indonesia yang memiliki pola yang baku pada kata-katanya, bahasa Inggris lumayan tricky (ini istilah teacher Qoni, Lucia). A pada apple bisa beda dengan A pada Australia. Kadang huruf I dibaca ai, kadang ya i aja. Jadinya, anak-anak itu belajar dengan phonics, misalnya the name of the letter is I (ai) but it sounds i (seperti itchy).

Yang menarik, selain dengan cara itu, anak-anak belajar membaca dengan membaca. Maksudnya, mereka diminta membawa satu buah buku untuk dibaca di rumah tiap hari. Buku itu dikelompokkan dalam level tertentu sesuai tingkat kesulitannya. Buku pertama yang dibaca Shofi berjudul It is Big. Buku ini tipis sekali, 5-6 halaman dengan ilustrasi gambar yang menonjol. Tiap halaman hanya memuat satu kalimat dengan maksimal 4 kata.

       The truck is big
       The bicycle is small
       The lady is big
       The baby is small

Dan ajaibnya, saat saya contohkan untuknya di 1-2 halaman pertama, halaman berikutnya mampu dibaca dengan lancar oleh Shofi. Entah karena dia lihat gambarnya atau karena dia hapal bahwa kata itu berbunyi big.

Setiap hari Shofi membaca dengan cara seperti itu. Buku-buku dengan kalimat sangat sederhana dan diulang-ulang itu membuat dia mulai mengenali kata I, you, and, the, an.... Dia jadi hepi,, I can read the books, katanya...Semakin pe-de dan tambah semangat

Saat ini, Shofi sudah membaca buku level 4, dengan kalimat yang lebih kompleks. Semakin banyak buku yang dia baca, semakin banyak pula dia mengenali kata. Dengan cara belajar seperti ini, anak anak tak sekedar mampu membaca, tapi juga menjadi menyukai kebiasaan membaca. Reading is fun.....
Oleh: Pratiwi Retnaningdyah

Tahukah beda antara masyarakat yang berbudaya lisan dan tulis? Walter Ong menuliskan dengan gamblang betapa jauhnya perbedaan antara orality dan literacy dalam bukunya Orality and Literacy: The Technologizing of the World (1982).  Dalam masyarakat lisan, tidak ada istilah ungkapan seperti ‘coba dicek di buku,’ atau kalau dalam bahasa Inggris dengan idiom ‘look up something.’ Itu karena kata-kata memang tidak pernah divisualisasikan, dan hanya berupa bunyi. Dan karena hanya bunyi, maka akan cepat punah bila tidak dilestarikan. Kalaupun diabadikan, masyarakat lisan harus bergantung pada 'para tetua' yang dianggap lebih bijak dan berpengetahuan. 


                                                    


Dalam masyarakat lisan, pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan cenderung dianggap kurang penting, karena asumsi-asumsi sebagai berikut:

1.       Expression is additive rather than subordinative
Ekspresi dan pemikiran yang dituangkan dalam tulisan dianggap hanya tambahan saja, bukan subordinatif. Saya memaknainya sebagai cara berpikir di mana masyarakat lisan cenderung mengabaikan tulisan. Kalaupun ada, tidak terlalu dianggap keberadaannya, karena mereka lebih percaya ‘kata orang’ daripada ‘menurut buku.’ Sebaliknya, pemikiran yang subordinatif melihat tulisan sebagai rujukan yang diperlukan untuk memastikan kebenaran akan sesuatu.

2.       It is aggregative rather than analytic
Masyarakat lisan cenderung membawa kebenaran kolektif, apa kata kebanyakan orang, dan tidak membuka peluang untuk dikritisi. Itulah yang kemudian mengapa masyarakat lisan cenderung menjadi ‘follower,’ bukan ‘pioneer.’

3.       It tends to be redundant or "copious." 
Apa yang terungkap dari benak masyarakat lisan tidak terekam dalam teks, sehingga akan cenderung kabur dan gampang hilang. Teks itu sendiri berada ‘di luar’ benak, yang bisa senantiasa dirujuk bila pemikiran perlu dicek kembali kebenarannya. Teks yang dibaca akan membawa pikiran lebih lambat memproses informasi, dan memungkinkan masukan pertanyaan-pertanyaan kritis.  Masyarakat lisan tidak memiliki ritual seperti ini.

4.       There is a tendency for it to be conservative
Pengetahuan yang tidak diulang-ulang akan mudah hilang, dan untuk itu, masyarakat lisan berupaya keras mengingatnya. Ini membawa konsekuensi cara yang konservatif, dengan mengandalkan ‘para tetua’ yang dianggap lebih bijak dan berilmu sebagai sumber informasi. Akibatnya adalah tertutupnya peluang ‘bereksperimen.’ Sementara itu, masyarakat tulis menempatkan ilmu keluar dari pikiran dan menuangkannya di teks, dan merevolusi anggapan bahwa yang senior adalah yang lebih paham. ‘Repeaters of the past’ digantikan perannya oleh mereka yang lebih muda dan berani berinovasi.

5.       Out of necessity, thought is conceptualized and then expressed with relatively close reference to the human lifeworld
Pemikiran yang dianggap tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata atau yang dialami langsung pada saat itu cenderung dianggap tidak bermanfaat. Barangkali ini alasannya mengapa dunia literasi (baca-tulis) dianggap tidak popular atau penting bagi sebagian orang-tua. Buku tidak membuat kenyang, dan tidak nampak hasilnya secara langsung.

6.       Expression is agonistically toned
Dalam masyarakat lisan, orang-orang yang ‘literate’ cenderung dianggap memicu perilaku agonistik. Perilaku ini lebih dari sekedar agresif, dan mengacu pada pergulatan dan persaingan. Jangan heran bila kemudian kita melihat reaksi masyarakat terhadap sebuah buku atau pemikiran yang kontroversial atau dianggap keluar dari pakem sosial. Tulisan tidak dilawan dengan tulisan tanding, namun dengan kebrutalan yang bahkan melibatkan konflik fisik. Pembakaran buku adalah salah satunya. Lupa bahwa buku bisa menjadi abu, tapi pemikiran akan tetap tersimpan di benak pembacanya. Bila tidak sepakat dengan isi sebuah buku/tulisan, cara paling pas adalah menanggapinya lewat tulisan dan menyebarkannya. 

7.       It is empathetic and participatory rather than objectively distanced
Dalam masyarakat lisan, pengetahuan baru dilihat sebagai sarana untuk identifikasi komunal dan menimbulkan kedekatan emosional. Sebaliknya, dalam masyarakat tulis, pemikiran yang didapat dari proses pembacaan memungkinkan mereka untuk mengambil jarak antara diri dengan pemikiran baru tersebut. Membaca pemikiran Karl Marx bukan berarti setuju dengan Marxisme. Namun bagi masyarakat lisan, mengenal pemikiran Karl Marx bisa dianggap sebagai pendukung komunisme.

8.       It is Homeostatic
Masyarakat lisan hidup pada jaman kekinian, dan mengambil makna ujaran atas dasar apa yang ditangkap pada saat itu. Sementara itu, tulisan tak lekang dimakan waktu, dan membuka peluang berlapis-lapis pemaknaan. Karena masyarakat lisan tidak memiliki kamus, maka makna sebuah kata atau konsep bergantung pada kondisi ‘sekarang dan di sini.’

9.        It is situational rather than abstract.
Tanpa tulisan, konsep pemikiran akan bergantung pada situasi di mana satu kejadian berlangsung.


Kita lihat sekarang betapa dahsyatnya kebodohan dan pembodohan berlangsung bila literasi tidak menjadi nafas masyarakat kita. Jalan satu-satunya adalah mentransformasi diri dan memberdayakan masyarakat kita menjadi bangsa yang ‘literate.’ Sejujurnya, Islam adalah agama yang sangat maju dalam hal pentingnya tulisan. Lima ayat Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW menjadi dasar yang tidak bisa dibantah. Menurut Yedullah Kazmi, dalam artikelnya, "The Rise and Fall of Culture of Learning in Early Islam (Islamic Studies 44, no. 1 (2005)), posisi ayat-ayat ini begitu berdaya untuk mentransformasikan masyarakat dari yang berbasis orality menuju literacy

Masyarakat lisan adalah mereka yang terkungkung dalam mitos, dan Allah menurunkan Al-Qur’an, mewajibkan manusia untuk tidak hanya membaca dan membaca kembali, namun juga untuk menciptakan kondisi yang mendorong masyarakat meninggalkan mitos dari kebiasaan hidupnya. Sebagai gantinya, mereka harus menumbuhkan kebiasaan berpikir melalui pembacaan terhadap dunia dengan cara yang ilmiah, dengan tetap berpegang pada Allah sebagai pencipta alam semesta.

Jadi, apalagi yang kita tunggu? Ayo menuju masyarakat berbasis literasi. Sekarang!

Sunday, April 20, 2014

Oleh Nur Ana Sejati

Saya masih sibuk memasang-masang kabel LCD saat ia menghampiri. Berbeda dengan dua minggu sebelumnya saat saya jumpai di tempat kerjanya. Kali ini ia tampak lebih ceria dan akrab. Segera ia ulurkan tangannya sambil tersenyum hangat, “Bu Ana, saya sangat terkesan dengan tulisan ibu”.

Sebaliknya, saya hanya berkerut sambil memutar ingatan dari mana ia membaca tulisan saya. Rasanya belum pernah saya berikan alamat blog saya. Belum sempat saya tanya, ia sudah melanjutkan ceritanya “Kemarin waktu ada acara dengan Pak Wali saya langsung ingat Bu Ana. Persis seperti dalam tulisan tersebut”.

Ternyata Sekretaris salah satu SKPD tersebut membaca tulisan saya dari majalah kantor yang di kirim ke beberapa SKPD terkait di Pemda di provinsi tempat saya tinggal. Terus terang saya agak heran. Apa menariknya tulisan tersebut. Sebagai penulis pemula saya sendiri sering membanding-bandingkan tulisan satu dengan yang lain. Tulisan tersebut bukanlah tulisan yang saya anggap baik.

Apalagi, saya hanya sekedar melakukan repacking ide yang saya dapatkan dari radio saat pulang kantor. Artinya, tingkat originalitas idenya sangat rendah dan saya pikir banyak orang yang sudah memahami hal tersebut. Saat itu sedang gencar-gencarnya kasus debt collector katanya sering mengintimidasi nasabah. Saat di lakukan wawancara salah satu debt collector menyatakan bahwa :

…….Kedua, kami mencoba datang kembali dan menagih dengan cara baik-baik. Pada kali ketiga, bukannya mereka membayar tagihan-tagiahnnya tapi justru sederet makian dan kemarahan yang kami terima. Kami juga manusia biasa. Jadi kekerasan-kekerasan itu sebenarnya dipicu oleh nasabah sendiri.’

Beberapa saat kemudian, muncullah komentar yang bagi saya sangat menarik untuk disebarkan. Bunyinya:

“kenapa harus selalu menyebut manusia biasa untuk membenarkan tindakan itu? Kenapa tidak sebaliknya. Justru yang seharusnya di tanamkan dalam fikiran adalah bahwa kita adalah orang-orang yang luar biasa”.

Dalam tulisan yang berjudul Bukan Manusia Biasa saya mencoba mengulas dialog tersebut dan mendudukannya dalam konteks PNS. Pernyataan bahwa “saya hanyalah manusia biasa” sering dijadikan apologi ketika gagal melakukan sesuatu. Termasuk, apa yang disampaikan rekan saya. Bahkan, seorang walikota pun memohon permakluman atas nama “manusia biasa”.

Baiklah, poin saya di sini sebenarnya bukan pada tulisan tersebut. Tapi, bagaimana sebuah tulisan bisa mempengaruhi mindset seseorang hingga bisa berujung pada perubahan sikap dan tingkah laku. Kejadian di atas hanyalah contoh kecil. Kita bisa mengambil contoh yang lebih besar.

Mungkinkah kita mengetahui konsep invisible hand-nya Adam Smith kalau ia tidak menuliskannya dalam sebuah buku? Mungkinkah kita mengenal ilmu fisika, politik dan pemerintahan seandainya Aristoteles bapak filusuf ini hanya berfikir dan mengajar saja? Atau, mungkinkah gelombang sosialisme akan terus dikumandangkan hingga kini tanpa Karl Marx menyatakan gagasan-gagasannya dalam puluhan buku? Atau, mungkinkah gerakan emansipasi di Indonesia akan muncul jika Kartini tidak menulis surat kepada sahabatnya JH Abendanon?

Pramudya Ananta Toer mengatakan “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Ali bin Abi Thalib juga mengatakan “Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya”. Atau yang lebih menyeramkan lagi pernyataan Wiji Tukul ““Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!”

Di area marketing masyarakat awam mungkin hanya mengenal Hermawan Kertajaya dan Rhenald Kasali. Padahal banyak universitas yang menawarkan program tersebut. Ratusan perusahaan besar ada Indonesia. Tentu tanpa para marketer handal perusahaan-perusahaan tersebut akan gulung tikar. Namun, mengapa hanya ada dua nama yang dicatat sebagai tokoh marketing? Karena mereka berdua lah yang secara produktif menulis buku.

Sama halnya di area lainnya, pemerintahan, politik, ilmu pasti dan lainnya. Kita lebih banyak menemukan nama-nama asing yang bertaburan dalam buku-buku kita. Tak lain dan tak bukan, karena menulis belum dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.

Yuks, mari berbagi meski hanya lewat tulisan. Bisa jadi cerita yang kita anggap sangat sederhana justru mampu mengubah hidup seseorang...

Melbourne, 20 April 2014

Nur Ana Sejati



Oleh: Nur Afri H.N.

Mas Faqih lagi seneng-senengnya belajar tentang waktu. Sudah ada beberapa jam weker dan dinding yang rusak di tangannya. Tapi gak apalah, anggap aja itu harga buat pelajaran yang didapatnya. Agak kaget juga sebenarnya dengan ketertarikan Faqih akan hal ini. Batita gitu lho, biasanya masih suka bermain mobil, robot dan lain-lain. Sebagai orang tua pun, aku dan mas ga pernah memaksakan Faqih belajar. Buku memang kusiapkan sedari awal Faqih lahir agar kelak ketika masanya Faqih udah bisa membaca, dia ga perlu lagi bingung mendapatkan materinya, tinggal melahap ibarat kata. Kami juga perlu waktu untuk mencicil buku-buku bermutu yang di Indonesia harganya lumayan menguras kantong. Ternyata ketika tinggal di Melbourne, buku semacam itu bisa kita dapatkan dengan harga lebih terjangkau walaupun ga baru di toko barang bekas seperti Savers, Sunday Market di beberapa tempat di kota ini atau malah gratis meminjamnya dengan bergabung menjadi anggota perpustakaan. Asyik yah...

Aku berhutang budi pada buku "Jam Ajaib Kakek Berto" dari Time Life yang menjadi inspirasi awal Mas Faqih menyenangi pelajaran tentang satuan waktu. Setiap hari sebelum bobo malam, Mas Faqih akan selalu menagih buku-buku Time Life untuk 'disajikan' ke hadapannya. Kadang-kadang ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya, Mas Faqih akan membongkar sendiri kardus buku dan mengambil buku yang diinginkannya. Lalu mencoba membolakbaliknya untuk melihat gambar berwarna atau memainkan jarum jam dan ilustrasi di dalamnya.

Maaf ya nak! Mama belum sempat membuatkan lemari.... Someday, semoga mimpi Mama memiliki perpustakaan kecil untuk keluarga juga akan menjadi mimpimu. Perpustakaan dengan gemericik air di kolam ikan mini... Generasi penerus yang mencintai buku seperti perintah pertama Rabb pada Rasul-Nya; "Iqraa".

Ada cerita lucu juga. Gara-gara hobi baru Faqih ini, jam weker di kamar kami juga turut dikreasikan. Alhasil, besoknya aku terkaget-kaget dan hampir saja telat nyampe kantor. Fuh fuh, anak lanang...... Siapa lagi yang iseng kalo bukan Faqih, hehe...

Oh iya tambahan satu lagi, karena bapaknya sekarang pulang sebulan sekali, Mas Faqih jadi tertarik belajar membaca kalender juga. Tiap waktu memanjat sofa untuk menggapai kalender yang terpajang di dinding. Mengeja huruf demi huruf lalu bertanya padaku apa artinya. Tanpa disadari, semakin banyak bertanya Faqih jadi paham bagaimana cara membaca kalender. Tak ada paksaan sedikitpun, orang tua hanya fasilitator.

Berawal dari buku yang menggugah minat baca anak, pelajaran sederhana lainnya akan mengalir. Pada akhirnya aku pun berkata bahwa belajar melalui bermain itu menyenangkan ya, Nak!
Oleh Zubaidah Ningsih AS

Tulisan ini dibuat setelah saya mengamati anak-anak Indonesia yang besar di Australia. Mencoba menelaah mengapa pendidikan di Indonesia seakan-akan gagal memproduksi anak-anak cerdas dan pintar sehingga bule-bule terasa superior dibanding kita. Juga sebagai jawaban atas pertanyaan para rekan guru di Pondok Putri Hidayatullah Batu yang berkenan mengundang saya untuk sharing pengalaman di dunia pendidikan di Australia. Semoga bisa memberi manfaat.

Belajar di Australia sedikit banyak telah membantu saya membuka mata tentang pendekatan lain di dunia pendidikan. Bulan pertama mengikuti Introductory Academic Program; sebuah program khusus yang diselenggarakan untuk menjembatani perbedaan pola pendidikan Indonesia dan Australia; cukup membuat saya sadar betapa tidak kreatifnya saya. Setelah membaca beberapa jurnal tentang perbedaan filosofi pendidikan Barat-Timur baru sadarlah saya apa perbedaan mendasar diantara keduanya.

Di pendidikan timur dikenal filosofi guru-murid sedangkan di dunia barat lebih dikenal filosofi I message.Guru-murid adalah filosofi yang menempatkan guru adalah sumber ilmu dan penentu arah pendidikan, sedangkan I message adalah filosofi pendidikan yang menempatkan murid sebagai arah pendidikan dan pelaku utama proses pendidikan. Jika di timur dikenal proses ngenger, meguru atau nyantri dimana guru, ustadz atau kyai sebagai pusat segala ilmu, maka di dunia barat ini guru hanyalah sebagai fasilitator. Muridlah yang menentukan apa-apa yang ingin dia pelajari. Berangkat dari budaya guru-murid menjadi I message itu sendiri di Australia membuat saya lumayan shock setelah menyadari betapa tidak mandirinya saya dalam menggunakan otak.

Di Australia ini saya mulai dikenalkan penentuan sikap atau pilihan yang disertai pro-kontra dengan penyusunan argumen dan telaah yang kuat untuk mendukung ide. Karena terbiasa dengan filosofi guru-murid (dimana jika menentang maka saya adalah murid yang kurang ajar :p) agak beratlah saya mengubah paradigma pengikut menjadi pemimpin. Dari yang duduk di belakang saja sambil menunggu teman lain bersuara (menunggu efek dari keberanian teman lain yang mungkin berakibat dipuji atau dicela…tidak bersuara itu lebih aman) menjadi aktor utama yang dipaksa harus bersuara. Bukannya saya bukan anak pemberani (Zubeth gitu loh..preman sekolah dari kecil) cuma yang namanya nekat di sini harus nekat yang berbasis otak. Walhasil berdarah-darahlah saya memeras otak.

Berangkat dari pengalaman pribadi yang cukup bikin shock dimana sesama pelajar di Melbourne University ini juga bilang bahwa semester pertama adalah saat-saat tersulit dimana kami dilarang berharap mendapat nilai lebih dari P (pass…asal lulus dulu), maka saya memulai petualangan saya menjelajahi dunia pendidikan barat. Karena ingin lebih mengenal dari basic pendidikannya, maka fokus saya adalah pendidikan anak-anak. Agak berat saya masuk ke sekolah-sekolah karena saya memang tidak melakukan riset di sekolah-sekolah. Jadi saya mencoba mengamati dari jalur lain. Mengajar mengaji di sore hari sepulang anak-anak sekolah, ini cara yang saya pakai untuk mengenal pendidikan di sana. Selain itu mengikuti kuliah teman2 saya yang mengambil bidang pendidikan, berdiskusi dengan teman yang langsung melakukan riset terhadap anak-anak dan juga berdiskusi dengan orang tua murid sering saya lakukan. Dengan harapan saya bisa belajar dari mereka.

Dan petualangan itu saya mulai. Mengajar ngaji anak-anak di sini adalah hal yang cukup menantang. Seorang anak muslim keturunan Indonesia yang ikut orang tuanya tugas belajar di Australia ternyata terbentuk menjadi pribadi yang unik. Mereka sulit berbahasa Indonesia, sehingga saya terpaksa tetap berbahasa Inggris dengan konsekuensi banyak dibenarkan oleh mereka yang lebih jago. Plus mereka hidup di daerah yang heterogen dimana mereka harus berinteraksi dengan non-muslim. Dan dunia anak-anak adalah dunia polos yang penuh pertanyaan lugu namun sangat dalam maknanya. Maka sering saya mendapat pertanyaan yang membuat saya terdiam. Neraka katanya panas, memang berapa suhunya? Mengapa kami tidak boleh makan babi? Saya tidak percaya cerita Nabi-nabi, mana ada orang bisa bicara dengan hewan? Kamu yakin kamu tidak membuat-buat cerita nabi-nabi? Mengapa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang cukup membuat saya mempertanyakan lagi filsafat keimanan saya.

Di samping mempertanyakan content keagamaan dalam kegiatan mengaji itu, saya mengamati betapa liberalnya pemikiran anak-anak di sini. Mereka berani mempertanyakan apa-apa yang mereka rasa tidak rasional dengan tidak takut dipersalahkan, ditertawakan atau dikecam. Tak jarang saat saya menyampaikan materi mereka mengacungkan tangan, menunggu giliran dipersilahkan bicara dan tidak takut bertanya, menyampaikan opini, membantah atau bahkan mengeluh karena kelas terlalu lama dan membosankan (wuuppss…I think I failed to be a fun teacher :p). Hmm..cukup berbeda dengan saya yang dulu ngaji cuma bisa diam dan menerima apa saja. Belajar membaca Al Quran sampai bisa membaca secepat-cepatnya. Semakin cepat engkau membaca semakin berimanlah engkau. Banyak-banyak menghapal entah apa yang saya hapalkan… (parameter yang absurd untuk mengukur keimanan :D)

Selain mengamati pola pikir anak-anak yang liberal, saya juga mengikuti kuliah di mata kuliah Environment Education bersama Devin. Dalam kuliah itu dikenalkan adanya penggunaan obyek untuk menstimulasi ekspresi anak didik. Konsep yang dikembangkan dalam metode ini adalah dengan membiarkan anak didik mengekspresikan makna obyek tertentu dalam proses belajarnya. Dan yang lebih menarik lagi guru bisa mengembangkan daya kritis anak dengan membantunya terus bertanya tentang obyek tersebut. Learning through questions adalah konsep yang bisa dikembangkan untuk mengembangkan daya kritis anak sekaligus membangun pengetahuan seorang anak akan suatu obyek yang dekat dalam kesehariannya. Menurut saya proses belajar ini bisa membawa anak mempertanyakan hal-hal dalam kesehariannya yang tentu saja sangat membantunya memahami lingkungan di sekitarnya.

Selain konsep learning through questions ini, saya juga mengenal program Show and Tell yang banyak dikembangkan di sekolah-sekolah dasar di sini. Dalam program ini anak didik diharapkan membawa sebuah benda dan berbagi cerita tentang benda ini di depan teman-temannya. Dia bisa mengekspresikan pendapatnya akan benda tersebut sekaligus berbagi informasi mengenai benda ini. Keuntungan dari dua program ini adalah adanya pengembangan self actualization (aktualisasi anak didik) dan appreciation value (penghargaan pada anak didik).

Dua program ini berdampak pada pola pikir anak didik maupun pola pikir guru atau orang tua. Di sini banyak dikembangkan filosofi I message, pola pembelajaran dimana anak didik yang menentukan arah pembelajarannya dan guru atau orang tua menjadi fasilitator. Di sini juga dikembangkan guru atau orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya pusat informasi tetapi menjadi fasilitator yang diharuskan lebih menghargai, memberi ruang dan tentu saja lebih open minded. Orang tua dan guru diharapkan tidak egois, mau mengakui kekurangan dan terus mendukung anak2 dalam proses pembelajaran ini.

Pertanyaan yang muncul sekarang bisakah pendidikan Indonesia dibawa ke arah sana? Jawaban saya tentu saja bisa. Memang pendidikan Indonesia ditengarai masih terlalu padat dengan kungkungan standarisasi sehingga anak didik bahkan tak punya waktu untuk mengaktualisasikan dirinya. Kurikulum yang padat namun ternyata gagal membentuk pribadi2 yang mampu berpikir mandiri dan kritis dianggap gagal membangun sisi afeksi (perasaan) walaupun sukses dalam sisi kognisi (intelegensia). Kegagalan pendidikan ini membuat pendidikan Indonesia dianggap gagal membentuk kepribadian bangsa. Namun apakah kita tak bisa melakukan sesuatu untuk hal ini?

Saya pribadi bilang tentu saja bisa. Sebagai salah satu perangkat pendidikan negara, pengalaman belajar di luar negeri tentu saja akan mempengaruhi pandangan saya akan cara saya mengajar. Jika memang budaya pengembangan I message dianggap belum dikembangkan di Indonesia, maka bisa-bisa saja sekarang saya mencoba mengembangkannya. Sebagai orang tua pun saya rasa tidak kurang jalan kita untuk bisa membantu pengembangan jiwa kritis anak-anak. Pendidikan sekolah bukan satu-satunya wadah pendidikan anak-anak. Orang tua tetap memegang peranan penting dalam pengembangan jiwa kritis anak yang akan membantu pembentukan jiwa belajar sampai akhir hayat anak. Bertebarannya buku-buku sastra, buku-buku sains maupun alat bantu ajar lain bisa dimanfaatkan orang tua untuk membantu anak-ananya di rumah.

Jika fasilitas ini dirasa mahal, maka internet bisa menjadi salah satu jalan untuk membantu. LIPI telah menyediakan satu situs khusus e-book dimana ratusan buku bisa di donlot gratis. (klik http://www.buku-e.lipi.go.id/). Untuk ilmu pengetahuan alam, orang tua bisa saja mengarahkan anak anda mengunjungi website http://www.dynamicscience.com.au/ yang memberi warna lain penyampaian materi2 sains. Jika anda ingin belajar tentang alat-alat sekitar anda sehingga bisa dengan lancar dan pe de membantu anak-anak anda belajar, klik http://www.howstuffworks.com/ yang merupakan website untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja alat2 di sekitar kita.

Jangan lupa pendidikan sastra untuk anak-anak anda. Buku-buku cerita yang menceritakan pesan moral dapat anda gunakan untuk menutupi kekurangan pembangunan sisi afeksi anak-anak yang mungkin belum tercukupi di sekolah. Situs ini http://www.pacific.net.id/content/Dongeng/bobo/index.html bisa anda buka untuk mengunduh cerita-cerita klasik dari majalah Bobo yang banyak membawa pesan moral untuk anak-anak. Blog dan website para penulis yang sekarang bertebaran bisa anda gunakan untuk mencari cerita-cerita berkualitas untuk menyiapkan anak anda belajar dari cerita2 penggugah hati.

Jangan lupa perpustakaan umum bisa menjadi wadah anda belajar menggunakan buku-buku gratis, baik buku sastra, sains, religi maupun popular. Perpustakaan kota Malang adalah salah satu perpustakaan umum favorit saya dimana tersedia ruang anak-anak sampai ruang pameran yang bisa digunakan untuk pengembangan learning society (masyarakat belajar).Silahkan kunjungi web ini http://digilib.malangkota.go.id/ untuk mengunjungi perpustakaan ini lewat layar komputer anda. Semoga tiap2 PEMDA mulai mengembangkan fasilitas ini. Jika kota anda tak mempunyai fasilitas ini, bergabunglah dengan komunitas buku yang mulai berkembang. Dik Doang telah memprakarsai adanya komunitas buku yang mungkin bisa anda jadikan sumber inspirasi pengembangan komunitas buku. Silakan klik http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=1343 untuk melihat kegiatan peningkatan literasi masyarakat. Komunitas 1001 Buku juga bisa menjadi rekanan anda dalam membentuk perpustakaan swadaya di lingkungan anda.

Satu praktek menarik di Australia adalah bahwa sebuah sekolah mempunyai motto yang menarik. Motto ini diharapkan bisa mewarnai sikap anak didiknya. Motto ini misalnya honesty, integrity, responsible and getting along. Nilai-nilai ini akan selalu dikembangkan dalam segala proses belajar mengajar. Pengikutsertaan orang tua dalam program2 sekolah juga menjadi satu kunci penting berhasilnya proses penanaman nilai-nilai ini. Untuk lebih jelasnya silahkan mengunjungi web http://www.morelandps.vic.edu.au/. Web salah satu SD sebelah rumah saya di Melbourne. Silahkan dibaca program2nya dan mari dikembangkan program2 yang mungkin bisa anda realisasikan di lingkungan anda.

Saya tetap optimis bahwa pendidikan Indonesia akan semakin bagus. Tak benar jika bule selalu superior dibanding kita. Banyak sisi pendidikan Indonesia yang menurut saya banyak membantu saya menjadi orang yang lebih baik. Saya pribadi merasakan pentingnya religi dalam mendasari proses belajar saya. Saya tidak bisa mengklaim bahwa religi memang satu2nya kesuperioran pendidikan Indonesia karena ditengarai pendidikan agama negara kita juga gagal :p. Namun saya pribadi merasakan inilah nilai penting pendidikan Timur yang saya banggakan. Saat para teman lab saya telah kehilangan alasan kenapa mereka harus terus menerus belajar ketika alasan material telah tak lagi bisa membantu, maka saya merasa tenang ketika saya merasakan semangat ibadah padaNya menjadi alasan saya tetap belajar. Nilai-nilai agama untuk selalu menguak misteri alam sebagai jalan mengenal kebesaranNya plus kewajiban untuk selalu mengamalkan ilmu adalah semangat yang saya syukuri ada dalam dasar semua proses belajar saya.

Pendidikan sangat krusial untuk membentuk Indonesia yang lebih baik, dan anda akan selalu bisa berpartisipasi di dalamnya. Be creative and together we’ll make a better Indonesia!!!

Zubeth

P.S.: Tulisan ini dibuat ketika saya masih studi S2 di the University of Melbourne. Sampai saat in jabatan sampingan tetap sama: Kepala sekolah TPA Brunswick

Saturday, April 19, 2014

oleh Nur Ana Sejati

Panggilannya Lina. Setiap pagi ia selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh teman-teman di sekolah. Begitu ia masuk kelas semua segera mengerumuninya. Saat itu pula tangan-tangan mungil Lina segera mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya. Sebaliknya teman-temannya segera berebut memilih-milih beragam buku yang dibawakan Lina. Berbekal sebuah catatan Lina pun segera mencatat nama-nama sang peminjam di kolom judul buku yang telah disediakan. Tak lupa ia sampaikan kapan buku tersebut harus dikembalikan. Si peminjam pun sedetik kemudian langsung menekuri isi buku setelah menyerahkan beberapa rupiah pengganti uang sewa.

Lina adalah sahabat kecil saya saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di kota kecil di kaki Gunung MerbabuLina anak yang sederhana dan rendah hati meski orang tua termasuk orang kaya di desanya. Lina juga anak cerdas yang terlihat dari ranking yang diperolehnya setiap catur wulan. Saya sendiri selalu mengagumi tulisan tangannya yang sangat rapi.
Begitulah. Lina kecil mengelola perpustakaan pribadinya yang dipinjamkan kepada teman-temannya. Berbagai ragam buku cerita, komik, hingga majalah selalu melengkapi keceriaan masa kanak-kanak kami. Saya pun sempat mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif darinya.
Setamat SD saya tidak lagi satu sekolah dengannya. Ia melanjutkan sekolah di SMP Favorit di kota kami. Sementara saya di SMP di dekat rumah. Sejak itu pula saya tidak pernah lagi bertemu Lina. Saya hanya mendengar kabarnya dari sahabat saya yang kebetulan bertetangga dengannya. Rupanya, setelah lulus SMP ia pindah ke ibu kota provinsi sebelum akhirnya hijrah ke Jogja untuk melanjutkan kuliah.
Beberapa tahun lalu saya menemukannya di jejaring sosial. Ia kabarkan bahwa kini ia memiliki dua anak. Persis seperti Lina. Hobbynya ke toko buku. Lina pun bercerita tentang proyeknya mendirikan perpustakaan dusun. Saat itu ia tengah berburu buku-buku murah di Jogja sembari mengajak rekan-rekannya bergabung dalam proyek tersebut.
Lina adalah salah satu dari sekian banyak orang-orang yang peduli akan pentingnya budaya baca bagi semua lapisan masyarakat. Masa kecil yang tak lepas dari buku telah membentuk satu kenangan indah akan manfaat membaca. Hingga membuatnya ingin membagikan apa yang sempat ia nikmati. Gola Gong, penulis novel Balada si Roy, juga salah satu aktivis yang peduli untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
Tahun 2013 lalu para aktivis yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Nasional Pemuda Indonesia (FSNPI) mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca. Kelahiran gerakan tersebut didasari oleh minimnya minat baca masyarakat yang terlihat dari Indeks kebiasaan membaca masyarakat Indonesia baru di angka 0,01 atau satu buku dibaca 1.000 orang. Sedangkan, di Amerika Serikat, lima buku dibaca 500 orang atau 0,05 dan di Singapura 0,55 atau 55 buku dibaca 500 orang. Kondisi tersebut akibat minimnya pembiasaan membaca buku sejak dini dan minimnya fasilitas.
Kesadaran ini tentu harus di respon positif oleh semua pihak, termasuk dalam hal ini pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Di lingkungan pemerintah daerah sendiri sebenarnya telah memiliki satu SKPD yang bertanggungjawab mengelola perpustakaan daerah. Untuk mendorong minat baca pun banyak pemerintah daerah yang menyelenggarakan perpustakaan keliling atau bahkan perpustakaan di tingkat kelurahan.
Hanya saja, mengandalkan anggaran belanja pemerintah untuk melesatkan gerakan membaca tentulah sulit di harapkan. Secara organisasional, Kantor Perpustakaan Daerah yang dipimpin oleh eselon 3 masih sering dipandang sebelah mata perannya. Padahal, jika kita melongok kinerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Malang, SKPD ini telah berhasil mengharumkan nama pemda berkat prestasinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Tata kelola pemerintahan berdasarkan konsep yang diusung oleh Osborn dan Gaeblar (2003) tentang reninventing government menempatkan pemerintah sebagai instansi yang seharusnya lebih melakukan 'steering' dari pada 'rowing' alias mengarahkan dari pada mendayung. Banyaknya aktivis yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan minat baca sudah selayaknya disambut oleh pemerintah daerah.
Kolaborasi program dan kegiatan berbasis komunitas haruslah menjadi dasar untuk mendesain strategi untuk meningkatkan minat baca dengan biaya yang jauh lebih rendah. Pelibatan sektor privat dengan program corporate social responsibility (CSR) seharusnya mulai dapat ditarik untuk kegiatan semacam ini. Ditambah lagi, kerja sama dengan pihak universitas dengan membuat program mahasiswa peduli minat baca tentu layak untuk dipertimbangkan.

Melbourne, 19 April 2014






Friday, April 18, 2014

Oleh: Pratiwi Retnaningdyah

Kemarin dulu aku ngobrol dengan bapak via telpon. Kegiatan rutin saja. Saling menanyakan kabar. Cerita kegiatan masing-masing dalam seminggu ini. Bapak kemudian menyebut nama Ella, sahabat kuliah yang sudah jadi profesor. Bapak memang masih mengingat dengan baik sahabat-sahabatku sejak jaman SMP sampai kuliah. Termasuk di antaranya, Prof. Luthfiyah Nurlaela, "Kapan-kapan bapak pingin ngobrol sama Ella. Mudah-mudahan masih ingat bapak ya. Dulu pas jaman Himapala kan sering ketemu." Bapak kemudian bertanya lebih lanjut tentang aktivitas Ella sekarang. Aku ceritakan semua yang terekam tentang Ella. Dan bahwa sampai kini tetap berhubungan via milis Keluarga Unesa.

Teman-temanku sesama anggota milis itu memang getol menulis. Beberapa di antaranya rutin membukukan tulisan-tulisan mereka di blog. Hasil pengamatan dan pengalaman sehari-hari. Temanku Ella sudah memiliki buku Jejak-jejak Penuh Kesan. Buku ini sudah habis dibaca bapak. Bahkan buku itu sudah muter dari tangan satu ke tangan lain. Mulai ibu, Yanti adikku yang tinggal di Sidoarjo, Riris dan Inez, dua ponakanku, anak Yanti, yang juga kutu buku. 

Begitulah kebiasaan literasi di keluargaku. Rak buku di Kebraon selalu menjadi jujugan bapak dan ponakan, bila mereka sedang dolan ke rumah. Itulah sebabnya, setiap ada buku baru, aku segerakan membaca. Karena tiap kali bapak dan ibu menginap ke rumah, yang dicari selalu buku yang belum selesai dibaca atau yang baru datang. Kalau tidak segera aku selesaikan, alamat tidak sempat menghabiskan. Keburu berpindah tangan. Berpindah lokasi. Dari Ngagel ke Sidoarjo dan ke Pondok Candra. Yang terakhir adalah rumah mertua Iin, adik perempuanku yang keempat. Dia juga suka melalap buku apapun yang baru selesai aku baca.

Jadi jangan heran bila buku The Twenty Years of Joy and Happiness punya mas Satria, teman milis juga,  ketua Ikatan Guru Indonesia, juga sudah menjadi bahan obrolan kami. Buku Ibu Guru, saya Ingin Membaca, hasil kompilasi Rukin, sahabat kuliah, sesama miliser, redaktur Jawa Pos, juga sudah disantap bapak. Kalau tidak aku bawa ke Melbourne untuk bahan tambahan tesis, mungkin buku itu sudah terbang ke mana lagi. Novel-novel Andrea Hirata baru saja kembali ke rumah setelah berbulan-bulan beredar dari satu rumah ke rumah lain di keluarga kami. Novel dan antologi para buruh migran Hong Kong juga sudah membuat hati bapakku terharu. Pendeknya, bahan yang aku gunakan untuk tesis sudah dibaca bapak juga.  

Menengok ke belakang, aku harus berterima kasih kepada bapak dan ibu. Merekalah yang meletakkan dasar kuat cintaku atas buku. Saat SD dulu, salah satu kenangan yang membekas adalah kebiasaan bapak mengajakku ke Sari Agung di jalan Tunjungan. Aku dilepas saja di situ. Ndhodhok membaca habis beberapa komik atau cerita rakyat. Dongeng epik Ramayana dan Mahabarata lebih banyak kunikmati dari hasil nongkrong berjam-jam di toko buku. Baru setelah itu mengambil 1-2 buku untuk dibeli. Itu di luar acara nonton film silat atau koboi, dan tak lupa, nonton bola di Gelora Tambaksari. Ya, anak-anak perempuan bapak juga penggila bola dulu. Tapi kapan-kapan saja aku cerita yang ini.

Ibu menegaskan cintaku terhadap sastra tanpa disadari melalui dongeng sebelum tidur. Tempat tidur yang kami pakai seperti pindang berjajar menjadi saksi lelapnya tidur kami, yang dialun oleh "Pada Suatu Hari" atau "Ing sakwijining dino." Cerita-cerita Bawang Putih, Timun Mas dan Buto Ijo sudah aku kenal melalui naratif lisan dari ibu. Sebelum kemudian kutemukan versi tulisnya dari koleksi buku cerita. 

Seingatku, hampir tidak ada koleksi mainan di rumah masa kecilku. Kalaupun ada, mungkin itu dibeli saat ada keramaian Mauludan di pasar Wonokromo. Tapi aku cukup bangga punya banyak koleksi buku. Saat kelas 4 atau 5 SD dulu kalau tidak salah, saya ingat sudah membuat daftar judul buku dan pengarangnya. Jumlahnya ada sekitar 50an judul. Juga setumpukan majalah langganan Bobo .Tentu saja itu di luar buku komik pinjaman dari persewaan dekat rumah.  Bahkan juga cerita seri Api di Bukit Menoreh yang rutin dipinjam bapak dari persewaan di Ngagel Rejo. Aku sering diminta meminjam atau mengembalikan lanjutannya. Jadinya aku juga ikut tenggelam dalam lamunan Ratri, salah satu tokoh dalam cerita itu. Saking demennya, aku masih ingat kata regol yang pertama kali kukenal lewat cerita seri itu. Kesengsem dengan nama-nama tokohnya, Ratri, Panggiring, Bramanti. Di telingaku, nama-nama ini terdengar eksotis. 

Kami juga pelanggan Kompas dan Intisari sejak dulu. Karena saking akrabnya dengan bahasa Kompas, aku jadi tahu kemudian bahwa membaca koran lain jadi 'terlalu' ringan. Entah karena kecintaan terhadap sastra sudah tertanam atau bagaimana, yang jelas cerita bersambung di Kompas tak pernah lewat kami baca sekeluarga. Aku dan adik-adik bergiliran menggunting bagian cerbung untuk dikompilasi. Ronggeng Dukuh Paruk sudah habis kubaca dalam format cerbung, jauh sebelum versi novelnya beredar.  

Karena sudah terbiasa menghabiskan akhir pekan nongkrong ke Sari Agung, aku kadang tidak sadar bahwa ada tempat-tempat lain yang barangkali lebih menarik buat para remaja. Saat SMA dulu, ketika sudah bisa dolan sendiri, aku teruskan kebiasaan itu. Hanya saja tempatnya bertambah dengan adanya Gramedia. Juga kemudian setelah Sari Agung ditutup. Tapi seingatku, semua teman yang pernah dekat jaman SMA dan kuliah lebih sering kuarahkan ke Gramedia. Entah itu membuat bosan bagi teman atau tidak. Saat itu, aku tidak terlalu peduli. Yang penting bisa nongkrong beberapa jam membaca gratis sampai bosan. 

Aku baru sadar bahwa beberapa buku-buku yang pernah kubaca ternyata sastra klasik. Saat SMA, aku sudah mulai membaca drama-drama Shakespeare dalam versi bahasa Inggris. Tentu saja masih simplified version. Bisa jadi karena saat itu lagi getol kursus bahasa Inggris di PPIA Dr. Soetomo. Perpustakaannya sering menantangku untuk memperluas bahan bacaan dalam bahasa asing. Setelah kuliah di IKIP Surabaya, barulah aku ngeh dengan nama-nama Shakespeare, Hemingway, Mark Twain. Ternyata ada bagian dari masa kecil yang ikut andil di dalamnya. Padahal dulu kukira cerita Tom Sawyer dan Huck Finn adalah cerita anak-anak. 

Meloncat kembali ke masa kini, saat aku tinggal di Melbourne untuk studi. Anak-anakku, Ganta dan Adzra ikut serta bersekolah di sini. Ganta sudah di Year 12 dan Adzra di grade 1. Aku sering merenungkan betapa kedekatanku dengan buku adalah hasil bentukan orang-tua. Dalam pandanganku sekarang ini, bapak dan ibu telah berhasil memadukan sastra lisan dan tulis dalam membentuk dunia literasiku seperti sekarang ini. Sebagai seorang dosen, yang cenderung mencari penegasan teori untuk praktik literasi dalam keluarga, aku juga semakin lega bahwa parent-child attachment theory dalam dunia psikologi memang amat berperan membentuk kebiasaan literasi pada anak. Aku lihat Adzra, misalnya. Sebelum lelap tidur, dia sering bilang, "Mommy, you keep reading okay. I'm going to sleep." Persis seperti masa-masa kecilku yang lelap dalam dongengan ibu yang belum selesai. Kalau dia belum bisa tidur, biasanya teringat buku-buku yang ingin dia usung ke tempat tidur. Aku sering membayangkan Tiwik kecil dalam diri Adzra. Only the revised and more sophisticated version. 

Ketika jauh seperti sekarang ini, aku tahu bapak ibu rindu dengan anaknya. Sebagaimana rinduku kepada mereka berdua. Namun aku tahu, kehadiran buku-buku tulisan sahabat-sahabatku, akan senantiasa merekatkan hati bapak-ibu-anak. Tulisan-tulisan di blogku senantiasa menggantikan kehadiranku secara fisik.Giliranku sebagai anak yang berbagi cerita kepada keluarga. 

Aku tahu kini, mengapa bapak menyuruhku masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Surabaya. Itu hasil tes Sipenmaru. Bukannya meneruskan langkah ke D3 Teknik Kimia ITS yang sebenarnya sudah membuka pintunya buatku lewat jalur tes lokal di ITS. Entah alasan apa juga yang membuatku akhirnya mengarahkan sepeda motor ke arah Ketintang. Registrasi sebagai calon guru. Meski hari-hari sebelumnya, bantal sudah basah dengan tetesan air mata. Orang-tua memang tahu yang terbaik untuk anak-anaknya. 


Melbourne, 18 April 2014

oleh Zubaidah Ningsih AS

Tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah


Minggu lalu teman2 pengajian di Melbourne sini heboh dengan ide membuat blog bersama, berisikan tulisan2 yang sekiranya bermanfaat bagi masyarakat. Awalnya kami berdiskusi tentang pilih-memilih caleg di forum whatsapp, lama2 diskusi makin berkembang dan terlihatlah dinamika pemikiran ibu2 yang menarik. Sampe akhirnya kami sepakat membuat satu grup lagi untuk mewadahi diskusi. Dan topik pertama yang kami bahas adalah literasi, kemampuan untuk membaca dan menulis.

Diskusi ini membawa saya ke kenangan masa kecil, tepatnya proses bagaimana saya mengawali ke-literasi-an saya. Umumnya, saat ini anak akan belajar membaca dan menulis di jenjang TK mengingat kemampuan baca tulis menjadi salah satu tolak ukur dapat tidaknya anak TK diterima di Sekolah Dasar. Nah kalo jaman saya lain lagi, saat TK kami tidak diwajibkan bisa menulis dan membaca. Barulah di jenjang SD kami belajar membaca dan menulis. Seingat saya di TK kami diajari menyanyi, bermain, makan bersama, tukar menukar kue antar teman sampe adab terhadap orang tua dan guru. Tidak ada agenda baca membaca saat itu. Karena saya sudah memulai karir saya menjadi murid TK sejak umur 4 tahun, maka mulai bosanlah saya ngendon di TK. Menyanyi sudah tidak menarik lagi bagi saya. Yang lebih menarik saat itu adalah buku. Tapi sayangnya saya terlalu kecil untuk masuk SD. Sebelum berumur 7 tahun saya tidak bisa mendaftar ke SD. Dan usia saya saat itu baru 6 tahun. Hiks hiks...

Ya sudah saya tidak bisa masuk SD dulu, tapi bukan berarti tidak bisa belajar membaca. Ibulah yang mengajari saya membaca. Dan buku pertama yang saya baca tak lain dan tak bukan adalah buku Bahasa Indonesia kelas 1 yang sangat terkenal kalimat pertamanya "Ini Budi, Ini kakak Budi...dst". Pasti anda semua ingat buku ini. And yes, that was my first book. Buku lungsuran dari kakak saya yang saat itu sudah duduk di kelas 1 SD.

Tapi saya tidak puas dengan hanya belajar di rumah. Saya ngotot pengen SD. Mulailah saya menggelar aksi mogok tidak mau berangkat sekolah TK. Saya pokoknya pengen SD. Sampai akhirnya abah mengantar saya ke SD Pisang Candi I di daerah Galunggung untuk mendaftar. Dan anda pasti bisa menebak hasilnya, saya ditolak masuk hahaha....Melasss...Tapi perjuangan tidak berhenti di situ. Abah mengantar saya mendaftar ke SD Pisang Candi III, SD baru yang kabarnya akan bertempat di tengah sawah yang sunyi. Karena SD ini masih baru maka abah berpikir tentunya SD ini lebih fleksibel dalam menerima murid. Ternyata tebakan abah saya meleset saudara2...Saya tetap ditolak masuk kwkwkw...Tapi bukan abah namanya kalo tidak ngotot. Beliau ngotot supaya guru2 di SD ini menerima saya walau umur tidak mencukupi. Dan berhasil....Ibu2 guru mau memberi kesempatan saya untuk dites. Jika lulus, maka saya bisa masuk SD. And the test was easy peasy. Saya cuma disuruh menyebutkan warna2 kapur tulis di meja dan menyebutkan apa warna baju saya. Tentu saja mudah. Saya disuruh menyanyi. Piece a cake, saya menyanyi lagu Maulid Nabi dengan penuh percaya diri. Hasilnya? Saya diterima. Wuhuuuu....nice, like father like daughter, kita harus ngotot bersama kwkwkwkw...


Dan mulailah saya mengenal lebih lanjut literasi. Then, mengapa literasi itu murah? Sebab saya kemudian menyadari, ternyata abah dan ibu harus bergulat dengan kekurangan finansial dalam mensupport saya sekolah. Semasa SD sampai kuliah tak banyak kemewahan2 yang kami rasakan. Jangankan beli komik atau buku cerita, beli buku tulis saja kami harus memilih yang termurah. Buku2 tulis dari kertas buram, yang kalo dihapus tulisannya maka akan robek kertasnya kwkwkw...Melas bangetttt...Yang saya ingat saat awal tahun pelajaran, ibu selalu wanti2 bahwa anggaran beli buku tulis hanya cukup untuk beli buku kertas buram, tak cukup untuk beli buku kertas putih apalagi buku2 Sinar Dunia. Its way way too expensive for us. Buku2 pelajaran? Tidak usah beli, pinjam saja dari sekolahan. Fotokopi buku? Tidak mampu....tulis ulang saja di buku tulis atau di kertas2 bekas. Saya masih ingat kalo ingin pinjam komik atau majalah di tempat persewaan buku maka saya harus jalan kaki setengah jam dari rumah ke SMP saya, baru saya bisa membaca komik Candy2 atau Trio Detektif dari uang menghemat ongkos transport. Atau saya mengeluarkan modal beberapa puluh ribu rupiah agar bisa menjadi anggota perpustakan kota madya Malang. So many books I can read there, and it's free.


Ketika mulai mengenal bahasa Inggris, maka saya mulai membutuhkan kamus. Dan tak kurang akal, ibu saya mengaduk2 buku2 jaman beliau sekolah untuk mencari kamusnya. Senyum kecut saya liat kamus ibu, jadul abis. Cuma memuat tak lebih dari beberapa ratus kata. Tak bisa mengakomodasi kata2 yang perlu saya terjemahkan. Tapiii..saya menemukan buku cerita berbahasa Inggris tentang Nasreddin di koleksi buku jadul ibu. Nasreddin adalah tokoh kocak yang pin pin bo, pintar2 bodo. Saya sangat menikmati membaca buku cerita ini yang ternyata memuat banyak kosakata baru dengan terjemahan di halaman terakhirnya. I love these books. Saya belajar banyak darinya. Juga saya mulai mengenal Blok M, Blok Majapahit, lokasi penjualan buku2 bekas di kota Malang. Ibu menganggarkan beberapa ribu rupiah untuk saya dan kakak untuk membeli majalah Hello dan Readers Digest, majalah bahasa Inggris bekas yang murah abissss sehingga  kami bisa membeli banyak majalah. Dan hasilnya? Skor TOEFL saya tak pernah di bawah 550 tanpa saya pernah ikut kursus atau bahkan ikut tes latihan terlebih dahulu. Manfaatnya? Bisa membawa saya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri.

Menginjak bangku universitas, makin sulit kami mendapatkan buku gratis. Ini karena kampus tidak seperti bangku SD, SMP dan SMA yang meminjamkan satu buku ke satu siswa. Di universitas buku2 dikoleksi di perpustakaan tapi tidak dalam jumlah banyak sehingga tidak bisa satu mahasiswa mendapat satu buku. Mulailah saya mendata buku2 yang saya butuhkan. Dan lugunya, saya minta dibelikan buku2 ini tanpa mempertimbangkan uang orang tua saya. Tapi ajaibnya, kali ini abah tidak menolak membelikan buku. Abah siap mengantar saya ke Gramedia, Toga Mas atau Blok M untuk membeli buku. Wow...kaget saya. Tumben abah mau membelikan saya buku. Banyak lagi jumlahnya. Tebal2 dan mahal. Saya sempat bertanya, abah dapat uang dari mana untuk beli buku2 ini? Jawaban abah saya "tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah". Okey, mari belanja buku. Beredar kami mencari buku dengan harga termurah mulai dari Gramedia, Toga Mas dan Blok Majapahit. Bekas tak mengapa, asal masih relevan isinya.


Setelah dewasa dan mulai menyelesaikan satu persatu jenjang studi, saya mulai menyadari kesulitan abah dan ibu yang hanya PNS golongan II dan penjahit konveksian dalam mensupport pendidikan saya. Suatu hari saya bertanya ke abah, "Abah, dulu abah dapat uang dari mana untuk membeli buku2 kuliah saya?". Abah menjawab "Kalo untuk belanja buku abah akan selalu usahakan. Abah carikan meski abah harus hutang sana sini atau usaha kanan kiri. Abah cuma bisa membekali kalian ijazah, demi masa depan kalian. Makanya abah tidak bisa membelikan kalian baju, tapi hanya kain untuk kalian jahit. Tak bisa membelikan makanan di resto2 mahal tapi bisa menyembelihkan ayam untuk kalian masak dan makan di rumah. Abah akan selalu mendukung pendidikan kalian, supaya semua anak lebih pintar dari abah".


Dan...mimpi orang tua saya tercapai. Dengan kemampuan ekonomi yang pas pasan, ketiga anaknya berhasil menyelesaikan kuliahnya. Satu orang menjadi guru SMK dengan ijazah master pendidikan biologi, satu orang menjadi pegawai PEMDA lulusan Ilmu Komputer dan sedang akan melanjutkan S2. Sedang saya sendiri menjadi dosen kimia yang sekarang sedang menyelesaikan jenjang S3 di Australia. Setiap kali anak2nya wisuda, abah dan ibu menangis, menangis bahagia tentunya. Bahwa beliau berdua berhasil membekali anak2nya.

Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud membangga2kan diri, namun untuk berbagi harapan, bahwa literasi itu murah. Bahwa kemampuan baca tulis itu bisa diusahakan dengan cara semurah mungkin. Bahwa pendidikan itu bisa diperoleh dengan cara murah, tak harus semahal brosur2 sekolah yang sekarang beredar. Apalagi jaman sudah berubah, sistem informasi begitu memudahkan kita mendapatkan sumber2 bacaan. Bahkan kelas2 jarak jauh yang berkualitas tinggi dan gratis beredar di mana2. Kelas2 dari universitas sekaliber Harvard dan MIT. Wow....makin murahlah literasi dan pendidikan itu sendiri.


Dan satu lagi, bahwa sesimpel apapun usaha orang tua membekali anaknya, itu bisa membawa anak ke jenjang yang tidak dinyana. Tak pernah orang tua saya membayangkan sampai jenjang mana dan sejauh mana anaknya akan bersekolah, yang mereka tau mereka hanya berusaha menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan atau diinginkan anaknya. Dan itu tidak harus dengan cara yang mahal.


To all parents who struggle for their children education, be strong, never lose hope, the hope is real.


Melbourne, 18 April 2014






Wisuda S2, Master Philosophy in Science, School of Chemistry, University of Melbourne, Australia