Monday, April 21, 2014

Oleh Annisa Trisdianty

Saya kerap melihat banyak cinta di setiap perjalanan. Di balik jendela angkutan umum yang saya naiki hampir setiap hari, saya melihat banyak rupa cinta itu berganti-ganti. Ia bersandar di tiang halte yang sesak pedagang. Tercecer di pinggiran jalan bersama gelandangan. Terlukis di wajah seorang ibu yang menggandeng anaknya menyebrang jalan. Terpancar di wajah bapak berseragam kusam di atas sebuah motor tua. Menyelinap di wajah kantuk para penumpang angkutan umum yang saya naiki. Bahkan terlihat pada becak tua yang merapat di bibir jalan bersaing dengan kendaraan sekitarnya yang lebih canggih.


Wajah-wajah itu dipenuhi sebuah cinta yang bagi saya, sederhana. Dan memandang wajah-wajah tersebut hampir setiap hari, membuat saya teringat bahwa cinta memang bisa membuat warna hitam sekalipun jadi tampak merah jambu. Membuat yang sunyi serasa tak sepi. Lalu membuat sesuatu akan bertahan terhadap sesuatu.

Sebuah cinta sederhana, juga saya temui berkali-kali di sekolah yang hanya bersiswakan 31 orang ini. Pada satu waktu, dua orang siswi kelas tiga, hampir setiap hari membuat karangan bunga. Mulanya, bunga itu hanya diletakkan begitu saja di meja mereka. Tapi hari berikutnya, mereka mulai tampak malu-malu memberikannya pada saya, meletakkan sang bunga di hadapan saya lalu kabur. Saya hanya tersenyum. Saya sempat berpikir, apa yang ingin mereka katakan ya? Rasanya saya seperti menunggu mereka bilang I love You.


Lain waktu saya memperhatikan guru-guru yang telah menghabiskan waktu mereka di sekolah ini hampir 2 tahun. Wanita-wanita yang luar biasa dalam membagi-bagi cintanya. Mereka adalah istri-istri yang harus mengurus kebutuhan rumah tangga, melayani suami, juga merawat dan mendidik anak dengan sepenuh hati. Tapi di sela sibuknya, mereka selalu hadir tanpa bosan ke sekolah ini. Padahal, gaji mereka hanya sekedarnya, dan seadanya. Mungkin ini juga cinta ^_^

“Gak tega sama anak-anak bu…gak tega mereka hanya main-main tanpa belajar”

Kalimat itu yang selalu terlontar dari mereka ketika saya bertanya, “Apa alasan kuat ibu berada di sini?”

Tanpa saya sadari, sekolah ini banyak menyimpan cinta sederhana dengan keberagaman bentuknya. Lewat Bu Titin, guru matematika dan IPA yang dikenal tegas ketika mengajar. Tapi ketegasan itulah yang membuat sebagian anak yang ketika diajar pelajaran IPA dan matematika oleh saya langsung protes, “ah sareng bu Titin weh…”

Melalui Bu Ucy, guru yang punya banyak sekali ide membuat berbagai macam kerajinan tangan, tapi juga jago mengajak anak-anak olahraga tiap jumat. Bersama Bu Nurul yang mampu berdekatan dengan anak-anak seperti temannya sendiri, Bu Nurul yang membuat Niko takluk dan mau mengerjakan soal. Dengan Bu Icah yang dalam tempo singkat mampu menguasai anak-anak murid kelas 2 dan mengajar tanpa canggung. Juga Bu Dyah dan Bu Nina, wanita luar biasa yang Allah kirimkan dari tempat yang tidak terduga. Yang keduanya hingga hari ini membersamai kami menjahit senyum permanen pada bibir anak-anak luar biasa SDIT RABBANI.

”Whatever you give to life, it gives back to you…”

Saya pernah membaca kalimat tersebut pada pintu angkutan umum yang saya naiki. Dulu saya hanya menyimpannya dalam catatan di ponsel saja. Tapi akhir-akhir ini saya seperti di buat tersenyum setiap membaca kalimat tersebut. Ya, apapun yang kau berikan pada hidup, ia akan kembali padamu. Mereka yang berada di sekolah ini, yang mendapat karangan bunga tanda cinta, yang dipeluk siswa saat mengingat ibunya, atau yang dirindukan ketegasannya adalah para pemilik cinta sederhana. Cinta yang sama dengan rupa-rupa wajah yang saya lihat hampir tiap hari di perjalanan Ledeng-Caheum.


Saya jadi mengingat beberapa deretan nama siswa SDIT RABBANI yang dikatakan bermasalah di sekolah sebelumnya. Niko sang pengganggu. Dikatakan nakal dan sering mengganggu teman lainnya, tapi disekolah ini ia mampu berbaik hati pada Rosma yang nilainya selalu kecil, dan menghibur Rosma sampai tertawa-tawa. Shinta yang unik. Sekolah sebelumnya mengatakan ia autis (entahlah), tapi di sekolah ini, perlahan ia mampu bersosialisasi dan menceritakan kegiatannya sehari-hari, tidak lagi berbicara kupu-kupu atau pocong. Lalu Gilang yang luar biasa. Tidak bisa membaca membuatnya di cap bodoh. Tapi lihatlah, betapa saya bahagia ketika suatu hari ia datang membawa sebuah buku dan menunjukan kemampuan membacanya yang meski terbata-bata tapi sangat lebih baik dari sebelumnya.


Saya pikir, inilah formulasi CINTA SEDERHANA itu. Kesempurnaan memberi tanpa memaksa hati untuk mendapatkan balasnya. Karena hati yang penuh cinta selalu yakin bahwa Sang Maha Cinta selalu punya cara untuk membahagiakan mereka.

Bukankah mereka yang penuh cinta akan menjadikan sekelilingnya pun penuh cinta dan bahagia? Dan guru-guru yang mendidik dengan cinta pun akan melahirkan benih-benih siswa yang juga penuh cinta, kan? 


Saya kembali mendefinisi cinta, apakah milik saya adalah juga yang sederhana? Semoga…

0 comments :

Post a Comment