Thursday, April 24, 2014

Saya, dan Agus, saat ini belum benar-benar tegas dalam menerapkan aturan mengenai screens contact. Minggu lalu, karena kakak dan abang sedang berkelakuan manis (tentu saja masih terdengar acara berantem, ngerengek dan tetek bengek), maka kami memberikan jatah lebih maen games online - offline, nonton series favorite di YouTube dan tentu saja nonton tivi yang diakses menggunakan berbagai media. Bosan dengan tivi, dengan cepat mereka beralih ke iPad maupun laptop. Beberapa kali kami suka bingung dengan keberadaan iPad dan handphone kami, bahkan laptop. Ini dia yang terkadang mempengaruhi keputusan screen contact untuk minggu berikutnya: 
sebel karena mereka nggak mau mengembalikan gadget pada tempatnya atau kami jadi bete menunggu giliran kami memegang kembali iPad, handphone dan laptop, hahaha... kami pun sepertinya sudah tak bisa hidup tanpa screens, cepat sekali dirundung rindu kepadanya... Ahak! 

Ketika kami sadar bahwa mereka sudah terlalu lama (atau kami yang buru-buru ingin mengakusisi), segeralah kata-kata bijak dilontarkan, "You guys have too much time with screens. Go out and play. Remember that moving your body is much more healthier... Don't let your bones freeze, I don't want to see you turn into a statue next morning" Hahaha..
Well, most of the time it works. Or at least they'll say "Alright then, but another three minutes"

Sering kali kami kembali ke jalan yang benar: memberi batasan dengan menghitung jumlah jam penggunaan devices tersebut. Ini terjadi seminggu-dua minggu setelah kami berdua membaca artikel terkait. Minggu selanjutnya ya tergantung kebaikan hati atau mekanisme reward-punishment for their behaviour. Oh betapa susahnya membatasi, mungkin karena dilandasi betapa susahnya kami sendiri sebagai orang tua terpisah dari devices dan gadgets kami. 

Mengawasi dan memilihkan tontonan atau link games adalah satu-satunya yang kami pegang teguh. Ketika kakak bertanya sesuatu dan berkesimpulan bahwa jawaban emak-bapak tidak meyakinkan, ia akan segera Googling. Ini yang selalu bikin saya loncat terbagun dari kesibukan saya sendiri. Satu kesepakatan yang tak boleh dilanggar "No googling or YouTube searching without parent". Tapi, Google kan hanya search engine.. Iya, tapi laptop saya bukanlah laptop yang di-setting for young/junior students. Saya nggak takut sama virus, malware dan sejenisnya, tapi saya suka ngeri dengan Ads-nya. 

Saya paham jika AdSense bekerja, menawarkan iklan berdasarkan cookie di browser kita. Tapi tidak bisa bisa dihindari terkadang, walaupun kita tidak pernah membuka website porno, misalnya, tapi yang keluar adalah ads bergambar  kurang sopan. Jadi begini cara AdSense bekerja:

1. Buat website (blog atau YouTube pun bisa) dan Google account tentunya (ini untuk me-reimburse pemasukan kita)
2. Pasang Google Ads banner di website. Setahu saya maksimum 3 banners
3. Anda akan dibayar ketika seorang pengunjung website nge-click banner iklan di website anda. FYI, saya kurang paham mekanisme terbaru mengenai sistem pembayarannya, tolong ditambahkan jika ada yang lebih mengerti :)
4. Jenis iklan yang akan ditampilkan sebenarnya sesuai dengan profil pengunjung (thanks to the great innovation !!) berdasarkan cookie. Contohnya kalo kita sering klik iklan online shop semacam ASOS, maka semakin sering banner iklan tersebut (dan sejenisnya) wira-wiri di layar browser kita. Namun tak jarang kita dapati iklan yang "beda" jika kita berkunjung ke website-website yang sedikit gak jelas, misalnya yang berisi link download gratisan. Hal ini disebabkan pengelola website tidak memperhatikan/melakukan filtering terhadap iklan yang boleh ditampilkan. Atau memang disengaja untuk tidak di-filter, jadi adult content ads pun bisa tampil demi mengeruk $$. Awww.. jadi berprasangka buruk :( 

Namanya anak-anak, karena kertertarikan dengan games, seringnya link semacam judi online atau tebak gambar itu di-klik. Mereka mengira itu adalah game online, sama seperti yang biasa dimainkan di www.abc.net.au/abc4kids. Dari situlah iklan bergambar dan beranimasi "ajaib" bermunculan, dan beginilah komentar kakak, "Mommi, look at this, someone is waiting for you to have a chat. She looks pretty but dress inappropriately, a bit.." Gubrak. 

Oh well, mungkin sekarang saatnya bagi saya untuk mencari computer filter yang family friendly, bukan asal karena ini laptop dan iPad milik saya maka tak perlu diberi pengaman. Mengutip kata-kata yang sering saya dengar namun tak tahu siapa sumbernya: "Let your babies crawl and explore their surroundings, don't hold them all the times, if you're afraid that they might get hurt, do baby-proofing around the house"

Nanti, InshaAllah jika sudah menemukan referensinya, terutama bagaimana primary school disini menggunakan filter untuk semua laptop yang dipergunakan untuk belajar, saya akan share :) Skarang balik ke tab sebelah, baca journals, pppffffhhhh...


*Di copy-paste oleh saya sendiri dari blog pribadi :P

1 comment :

  1. Thanks infonya mbak....ditunggu referensinya mbak Risa, oya untuk tontonan dan link game yang sudah dipilih boleh dong di share juga biar tidak lagi nyari-nyari :)

    ReplyDelete