Sunday, April 20, 2014

Oleh: Nur Afri H.N.

Mas Faqih lagi seneng-senengnya belajar tentang waktu. Sudah ada beberapa jam weker dan dinding yang rusak di tangannya. Tapi gak apalah, anggap aja itu harga buat pelajaran yang didapatnya. Agak kaget juga sebenarnya dengan ketertarikan Faqih akan hal ini. Batita gitu lho, biasanya masih suka bermain mobil, robot dan lain-lain. Sebagai orang tua pun, aku dan mas ga pernah memaksakan Faqih belajar. Buku memang kusiapkan sedari awal Faqih lahir agar kelak ketika masanya Faqih udah bisa membaca, dia ga perlu lagi bingung mendapatkan materinya, tinggal melahap ibarat kata. Kami juga perlu waktu untuk mencicil buku-buku bermutu yang di Indonesia harganya lumayan menguras kantong. Ternyata ketika tinggal di Melbourne, buku semacam itu bisa kita dapatkan dengan harga lebih terjangkau walaupun ga baru di toko barang bekas seperti Savers, Sunday Market di beberapa tempat di kota ini atau malah gratis meminjamnya dengan bergabung menjadi anggota perpustakaan. Asyik yah...

Aku berhutang budi pada buku "Jam Ajaib Kakek Berto" dari Time Life yang menjadi inspirasi awal Mas Faqih menyenangi pelajaran tentang satuan waktu. Setiap hari sebelum bobo malam, Mas Faqih akan selalu menagih buku-buku Time Life untuk 'disajikan' ke hadapannya. Kadang-kadang ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya, Mas Faqih akan membongkar sendiri kardus buku dan mengambil buku yang diinginkannya. Lalu mencoba membolakbaliknya untuk melihat gambar berwarna atau memainkan jarum jam dan ilustrasi di dalamnya.

Maaf ya nak! Mama belum sempat membuatkan lemari.... Someday, semoga mimpi Mama memiliki perpustakaan kecil untuk keluarga juga akan menjadi mimpimu. Perpustakaan dengan gemericik air di kolam ikan mini... Generasi penerus yang mencintai buku seperti perintah pertama Rabb pada Rasul-Nya; "Iqraa".

Ada cerita lucu juga. Gara-gara hobi baru Faqih ini, jam weker di kamar kami juga turut dikreasikan. Alhasil, besoknya aku terkaget-kaget dan hampir saja telat nyampe kantor. Fuh fuh, anak lanang...... Siapa lagi yang iseng kalo bukan Faqih, hehe...

Oh iya tambahan satu lagi, karena bapaknya sekarang pulang sebulan sekali, Mas Faqih jadi tertarik belajar membaca kalender juga. Tiap waktu memanjat sofa untuk menggapai kalender yang terpajang di dinding. Mengeja huruf demi huruf lalu bertanya padaku apa artinya. Tanpa disadari, semakin banyak bertanya Faqih jadi paham bagaimana cara membaca kalender. Tak ada paksaan sedikitpun, orang tua hanya fasilitator.

Berawal dari buku yang menggugah minat baca anak, pelajaran sederhana lainnya akan mengalir. Pada akhirnya aku pun berkata bahwa belajar melalui bermain itu menyenangkan ya, Nak!

0 comments :

Post a Comment