oleh Zubaidah Ningsih AS
Tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah
Minggu lalu teman2 pengajian di Melbourne sini heboh dengan ide membuat blog bersama, berisikan tulisan2 yang sekiranya bermanfaat bagi masyarakat. Awalnya kami berdiskusi tentang pilih-memilih caleg di forum whatsapp, lama2 diskusi makin berkembang dan terlihatlah dinamika pemikiran ibu2 yang menarik. Sampe akhirnya kami sepakat membuat satu grup lagi untuk mewadahi diskusi. Dan topik pertama yang kami bahas adalah literasi, kemampuan untuk membaca dan menulis.
Diskusi ini membawa saya ke kenangan masa kecil, tepatnya proses bagaimana saya mengawali ke-literasi-an saya. Umumnya, saat ini anak akan belajar membaca dan menulis di jenjang TK mengingat kemampuan baca tulis menjadi salah satu tolak ukur dapat tidaknya anak TK diterima di Sekolah Dasar. Nah kalo jaman saya lain lagi, saat TK kami tidak diwajibkan bisa menulis dan membaca. Barulah di jenjang SD kami belajar membaca dan menulis. Seingat saya di TK kami diajari menyanyi, bermain, makan bersama, tukar menukar kue antar teman sampe adab terhadap orang tua dan guru. Tidak ada agenda baca membaca saat itu. Karena saya sudah memulai karir saya menjadi murid TK sejak umur 4 tahun, maka mulai bosanlah saya ngendon di TK. Menyanyi sudah tidak menarik lagi bagi saya. Yang lebih menarik saat itu adalah buku. Tapi sayangnya saya terlalu kecil untuk masuk SD. Sebelum berumur 7 tahun saya tidak bisa mendaftar ke SD. Dan usia saya saat itu baru 6 tahun. Hiks hiks...
Ya sudah saya tidak bisa masuk SD dulu, tapi bukan berarti tidak bisa belajar membaca. Ibulah yang mengajari saya membaca. Dan buku pertama yang saya baca tak lain dan tak bukan adalah buku Bahasa Indonesia kelas 1 yang sangat terkenal kalimat pertamanya "Ini Budi, Ini kakak Budi...dst". Pasti anda semua ingat buku ini. And yes, that was my first book. Buku lungsuran dari kakak saya yang saat itu sudah duduk di kelas 1 SD.
Tapi saya tidak puas dengan hanya belajar di rumah. Saya ngotot pengen SD. Mulailah saya menggelar aksi mogok tidak mau berangkat sekolah TK. Saya pokoknya pengen SD. Sampai akhirnya abah mengantar saya ke SD Pisang Candi I di daerah Galunggung untuk mendaftar. Dan anda pasti bisa menebak hasilnya, saya ditolak masuk hahaha....Melasss...Tapi perjuangan tidak berhenti di situ. Abah mengantar saya mendaftar ke SD Pisang Candi III, SD baru yang kabarnya akan bertempat di tengah sawah yang sunyi. Karena SD ini masih baru maka abah berpikir tentunya SD ini lebih fleksibel dalam menerima murid. Ternyata tebakan abah saya meleset saudara2...Saya tetap ditolak masuk kwkwkw...Tapi bukan abah namanya kalo tidak ngotot. Beliau ngotot supaya guru2 di SD ini menerima saya walau umur tidak mencukupi. Dan berhasil....Ibu2 guru mau memberi kesempatan saya untuk dites. Jika lulus, maka saya bisa masuk SD. And the test was easy peasy. Saya cuma disuruh menyebutkan warna2 kapur tulis di meja dan menyebutkan apa warna baju saya. Tentu saja mudah. Saya disuruh menyanyi. Piece a cake, saya menyanyi lagu Maulid Nabi dengan penuh percaya diri. Hasilnya? Saya diterima. Wuhuuuu....nice, like father like daughter, kita harus ngotot bersama kwkwkwkw...
Dan mulailah saya mengenal lebih lanjut literasi. Then, mengapa literasi itu murah? Sebab saya kemudian menyadari, ternyata abah dan ibu harus bergulat dengan kekurangan finansial dalam mensupport saya sekolah. Semasa SD sampai kuliah tak banyak kemewahan2 yang kami rasakan. Jangankan beli komik atau buku cerita, beli buku tulis saja kami harus memilih yang termurah. Buku2 tulis dari kertas buram, yang kalo dihapus tulisannya maka akan robek kertasnya kwkwkw...Melas bangetttt...Yang saya ingat saat awal tahun pelajaran, ibu selalu wanti2 bahwa anggaran beli buku tulis hanya cukup untuk beli buku kertas buram, tak cukup untuk beli buku kertas putih apalagi buku2 Sinar Dunia. Its way way too expensive for us. Buku2 pelajaran? Tidak usah beli, pinjam saja dari sekolahan. Fotokopi buku? Tidak mampu....tulis ulang saja di buku tulis atau di kertas2 bekas. Saya masih ingat kalo ingin pinjam komik atau majalah di tempat persewaan buku maka saya harus jalan kaki setengah jam dari rumah ke SMP saya, baru saya bisa membaca komik Candy2 atau Trio Detektif dari uang menghemat ongkos transport. Atau saya mengeluarkan modal beberapa puluh ribu rupiah agar bisa menjadi anggota perpustakan kota madya Malang. So many books I can read there, and it's free.
Ketika mulai mengenal bahasa Inggris, maka saya mulai membutuhkan kamus. Dan tak kurang akal, ibu saya mengaduk2 buku2 jaman beliau sekolah untuk mencari kamusnya. Senyum kecut saya liat kamus ibu, jadul abis. Cuma memuat tak lebih dari beberapa ratus kata. Tak bisa mengakomodasi kata2 yang perlu saya terjemahkan. Tapiii..saya menemukan buku cerita berbahasa Inggris tentang Nasreddin di koleksi buku jadul ibu. Nasreddin adalah tokoh kocak yang pin pin bo, pintar2 bodo. Saya sangat menikmati membaca buku cerita ini yang ternyata memuat banyak kosakata baru dengan terjemahan di halaman terakhirnya. I love these books. Saya belajar banyak darinya. Juga saya mulai mengenal Blok M, Blok Majapahit, lokasi penjualan buku2 bekas di kota Malang. Ibu menganggarkan beberapa ribu rupiah untuk saya dan kakak untuk membeli majalah Hello dan Readers Digest, majalah bahasa Inggris bekas yang murah abissss sehingga kami bisa membeli banyak majalah. Dan hasilnya? Skor TOEFL saya tak pernah di bawah 550 tanpa saya pernah ikut kursus atau bahkan ikut tes latihan terlebih dahulu. Manfaatnya? Bisa membawa saya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri.
Menginjak bangku universitas, makin sulit kami mendapatkan buku gratis. Ini karena kampus tidak seperti bangku SD, SMP dan SMA yang meminjamkan satu buku ke satu siswa. Di universitas buku2 dikoleksi di perpustakaan tapi tidak dalam jumlah banyak sehingga tidak bisa satu mahasiswa mendapat satu buku. Mulailah saya mendata buku2 yang saya butuhkan. Dan lugunya, saya minta dibelikan buku2 ini tanpa mempertimbangkan uang orang tua saya. Tapi ajaibnya, kali ini abah tidak menolak membelikan buku. Abah siap mengantar saya ke Gramedia, Toga Mas atau Blok M untuk membeli buku. Wow...kaget saya. Tumben abah mau membelikan saya buku. Banyak lagi jumlahnya. Tebal2 dan mahal. Saya sempat bertanya, abah dapat uang dari mana untuk beli buku2 ini? Jawaban abah saya "tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah". Okey, mari belanja buku. Beredar kami mencari buku dengan harga termurah mulai dari Gramedia, Toga Mas dan Blok Majapahit. Bekas tak mengapa, asal masih relevan isinya.
Setelah dewasa dan mulai menyelesaikan satu persatu jenjang studi, saya mulai menyadari kesulitan abah dan ibu yang hanya PNS golongan II dan penjahit konveksian dalam mensupport pendidikan saya. Suatu hari saya bertanya ke abah, "Abah, dulu abah dapat uang dari mana untuk membeli buku2 kuliah saya?". Abah menjawab "Kalo untuk belanja buku abah akan selalu usahakan. Abah carikan meski abah harus hutang sana sini atau usaha kanan kiri. Abah cuma bisa membekali kalian ijazah, demi masa depan kalian. Makanya abah tidak bisa membelikan kalian baju, tapi hanya kain untuk kalian jahit. Tak bisa membelikan makanan di resto2 mahal tapi bisa menyembelihkan ayam untuk kalian masak dan makan di rumah. Abah akan selalu mendukung pendidikan kalian, supaya semua anak lebih pintar dari abah".
Dan...mimpi orang tua saya tercapai. Dengan kemampuan ekonomi yang pas pasan, ketiga anaknya berhasil menyelesaikan kuliahnya. Satu orang menjadi guru SMK dengan ijazah master pendidikan biologi, satu orang menjadi pegawai PEMDA lulusan Ilmu Komputer dan sedang akan melanjutkan S2. Sedang saya sendiri menjadi dosen kimia yang sekarang sedang menyelesaikan jenjang S3 di Australia. Setiap kali anak2nya wisuda, abah dan ibu menangis, menangis bahagia tentunya. Bahwa beliau berdua berhasil membekali anak2nya.
Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud membangga2kan diri, namun untuk berbagi harapan, bahwa literasi itu murah. Bahwa kemampuan baca tulis itu bisa diusahakan dengan cara semurah mungkin. Bahwa pendidikan itu bisa diperoleh dengan cara murah, tak harus semahal brosur2 sekolah yang sekarang beredar. Apalagi jaman sudah berubah, sistem informasi begitu memudahkan kita mendapatkan sumber2 bacaan. Bahkan kelas2 jarak jauh yang berkualitas tinggi dan gratis beredar di mana2. Kelas2 dari universitas sekaliber Harvard dan MIT. Wow....makin murahlah literasi dan pendidikan itu sendiri.
Dan satu lagi, bahwa sesimpel apapun usaha orang tua membekali anaknya, itu bisa membawa anak ke jenjang yang tidak dinyana. Tak pernah orang tua saya membayangkan sampai jenjang mana dan sejauh mana anaknya akan bersekolah, yang mereka tau mereka hanya berusaha menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan atau diinginkan anaknya. Dan itu tidak harus dengan cara yang mahal.
To all parents who struggle for their children education, be strong, never lose hope, the hope is real.
Melbourne, 18 April 2014
Tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah
Minggu lalu teman2 pengajian di Melbourne sini heboh dengan ide membuat blog bersama, berisikan tulisan2 yang sekiranya bermanfaat bagi masyarakat. Awalnya kami berdiskusi tentang pilih-memilih caleg di forum whatsapp, lama2 diskusi makin berkembang dan terlihatlah dinamika pemikiran ibu2 yang menarik. Sampe akhirnya kami sepakat membuat satu grup lagi untuk mewadahi diskusi. Dan topik pertama yang kami bahas adalah literasi, kemampuan untuk membaca dan menulis.
Diskusi ini membawa saya ke kenangan masa kecil, tepatnya proses bagaimana saya mengawali ke-literasi-an saya. Umumnya, saat ini anak akan belajar membaca dan menulis di jenjang TK mengingat kemampuan baca tulis menjadi salah satu tolak ukur dapat tidaknya anak TK diterima di Sekolah Dasar. Nah kalo jaman saya lain lagi, saat TK kami tidak diwajibkan bisa menulis dan membaca. Barulah di jenjang SD kami belajar membaca dan menulis. Seingat saya di TK kami diajari menyanyi, bermain, makan bersama, tukar menukar kue antar teman sampe adab terhadap orang tua dan guru. Tidak ada agenda baca membaca saat itu. Karena saya sudah memulai karir saya menjadi murid TK sejak umur 4 tahun, maka mulai bosanlah saya ngendon di TK. Menyanyi sudah tidak menarik lagi bagi saya. Yang lebih menarik saat itu adalah buku. Tapi sayangnya saya terlalu kecil untuk masuk SD. Sebelum berumur 7 tahun saya tidak bisa mendaftar ke SD. Dan usia saya saat itu baru 6 tahun. Hiks hiks...
Ya sudah saya tidak bisa masuk SD dulu, tapi bukan berarti tidak bisa belajar membaca. Ibulah yang mengajari saya membaca. Dan buku pertama yang saya baca tak lain dan tak bukan adalah buku Bahasa Indonesia kelas 1 yang sangat terkenal kalimat pertamanya "Ini Budi, Ini kakak Budi...dst". Pasti anda semua ingat buku ini. And yes, that was my first book. Buku lungsuran dari kakak saya yang saat itu sudah duduk di kelas 1 SD.
Tapi saya tidak puas dengan hanya belajar di rumah. Saya ngotot pengen SD. Mulailah saya menggelar aksi mogok tidak mau berangkat sekolah TK. Saya pokoknya pengen SD. Sampai akhirnya abah mengantar saya ke SD Pisang Candi I di daerah Galunggung untuk mendaftar. Dan anda pasti bisa menebak hasilnya, saya ditolak masuk hahaha....Melasss...Tapi perjuangan tidak berhenti di situ. Abah mengantar saya mendaftar ke SD Pisang Candi III, SD baru yang kabarnya akan bertempat di tengah sawah yang sunyi. Karena SD ini masih baru maka abah berpikir tentunya SD ini lebih fleksibel dalam menerima murid. Ternyata tebakan abah saya meleset saudara2...Saya tetap ditolak masuk kwkwkw...Tapi bukan abah namanya kalo tidak ngotot. Beliau ngotot supaya guru2 di SD ini menerima saya walau umur tidak mencukupi. Dan berhasil....Ibu2 guru mau memberi kesempatan saya untuk dites. Jika lulus, maka saya bisa masuk SD. And the test was easy peasy. Saya cuma disuruh menyebutkan warna2 kapur tulis di meja dan menyebutkan apa warna baju saya. Tentu saja mudah. Saya disuruh menyanyi. Piece a cake, saya menyanyi lagu Maulid Nabi dengan penuh percaya diri. Hasilnya? Saya diterima. Wuhuuuu....nice, like father like daughter, kita harus ngotot bersama kwkwkwkw...
Dan mulailah saya mengenal lebih lanjut literasi. Then, mengapa literasi itu murah? Sebab saya kemudian menyadari, ternyata abah dan ibu harus bergulat dengan kekurangan finansial dalam mensupport saya sekolah. Semasa SD sampai kuliah tak banyak kemewahan2 yang kami rasakan. Jangankan beli komik atau buku cerita, beli buku tulis saja kami harus memilih yang termurah. Buku2 tulis dari kertas buram, yang kalo dihapus tulisannya maka akan robek kertasnya kwkwkw...Melas bangetttt...Yang saya ingat saat awal tahun pelajaran, ibu selalu wanti2 bahwa anggaran beli buku tulis hanya cukup untuk beli buku kertas buram, tak cukup untuk beli buku kertas putih apalagi buku2 Sinar Dunia. Its way way too expensive for us. Buku2 pelajaran? Tidak usah beli, pinjam saja dari sekolahan. Fotokopi buku? Tidak mampu....tulis ulang saja di buku tulis atau di kertas2 bekas. Saya masih ingat kalo ingin pinjam komik atau majalah di tempat persewaan buku maka saya harus jalan kaki setengah jam dari rumah ke SMP saya, baru saya bisa membaca komik Candy2 atau Trio Detektif dari uang menghemat ongkos transport. Atau saya mengeluarkan modal beberapa puluh ribu rupiah agar bisa menjadi anggota perpustakan kota madya Malang. So many books I can read there, and it's free.
Ketika mulai mengenal bahasa Inggris, maka saya mulai membutuhkan kamus. Dan tak kurang akal, ibu saya mengaduk2 buku2 jaman beliau sekolah untuk mencari kamusnya. Senyum kecut saya liat kamus ibu, jadul abis. Cuma memuat tak lebih dari beberapa ratus kata. Tak bisa mengakomodasi kata2 yang perlu saya terjemahkan. Tapiii..saya menemukan buku cerita berbahasa Inggris tentang Nasreddin di koleksi buku jadul ibu. Nasreddin adalah tokoh kocak yang pin pin bo, pintar2 bodo. Saya sangat menikmati membaca buku cerita ini yang ternyata memuat banyak kosakata baru dengan terjemahan di halaman terakhirnya. I love these books. Saya belajar banyak darinya. Juga saya mulai mengenal Blok M, Blok Majapahit, lokasi penjualan buku2 bekas di kota Malang. Ibu menganggarkan beberapa ribu rupiah untuk saya dan kakak untuk membeli majalah Hello dan Readers Digest, majalah bahasa Inggris bekas yang murah abissss sehingga kami bisa membeli banyak majalah. Dan hasilnya? Skor TOEFL saya tak pernah di bawah 550 tanpa saya pernah ikut kursus atau bahkan ikut tes latihan terlebih dahulu. Manfaatnya? Bisa membawa saya mendapatkan beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri.
Menginjak bangku universitas, makin sulit kami mendapatkan buku gratis. Ini karena kampus tidak seperti bangku SD, SMP dan SMA yang meminjamkan satu buku ke satu siswa. Di universitas buku2 dikoleksi di perpustakaan tapi tidak dalam jumlah banyak sehingga tidak bisa satu mahasiswa mendapat satu buku. Mulailah saya mendata buku2 yang saya butuhkan. Dan lugunya, saya minta dibelikan buku2 ini tanpa mempertimbangkan uang orang tua saya. Tapi ajaibnya, kali ini abah tidak menolak membelikan buku. Abah siap mengantar saya ke Gramedia, Toga Mas atau Blok M untuk membeli buku. Wow...kaget saya. Tumben abah mau membelikan saya buku. Banyak lagi jumlahnya. Tebal2 dan mahal. Saya sempat bertanya, abah dapat uang dari mana untuk beli buku2 ini? Jawaban abah saya "tugasmu membaca buku, masalah uang untuk beli buku itu datangnya dari mana, itu urusan Abah". Okey, mari belanja buku. Beredar kami mencari buku dengan harga termurah mulai dari Gramedia, Toga Mas dan Blok Majapahit. Bekas tak mengapa, asal masih relevan isinya.
Setelah dewasa dan mulai menyelesaikan satu persatu jenjang studi, saya mulai menyadari kesulitan abah dan ibu yang hanya PNS golongan II dan penjahit konveksian dalam mensupport pendidikan saya. Suatu hari saya bertanya ke abah, "Abah, dulu abah dapat uang dari mana untuk membeli buku2 kuliah saya?". Abah menjawab "Kalo untuk belanja buku abah akan selalu usahakan. Abah carikan meski abah harus hutang sana sini atau usaha kanan kiri. Abah cuma bisa membekali kalian ijazah, demi masa depan kalian. Makanya abah tidak bisa membelikan kalian baju, tapi hanya kain untuk kalian jahit. Tak bisa membelikan makanan di resto2 mahal tapi bisa menyembelihkan ayam untuk kalian masak dan makan di rumah. Abah akan selalu mendukung pendidikan kalian, supaya semua anak lebih pintar dari abah".
Dan...mimpi orang tua saya tercapai. Dengan kemampuan ekonomi yang pas pasan, ketiga anaknya berhasil menyelesaikan kuliahnya. Satu orang menjadi guru SMK dengan ijazah master pendidikan biologi, satu orang menjadi pegawai PEMDA lulusan Ilmu Komputer dan sedang akan melanjutkan S2. Sedang saya sendiri menjadi dosen kimia yang sekarang sedang menyelesaikan jenjang S3 di Australia. Setiap kali anak2nya wisuda, abah dan ibu menangis, menangis bahagia tentunya. Bahwa beliau berdua berhasil membekali anak2nya.
Tulisan ini tentu saja tidak bermaksud membangga2kan diri, namun untuk berbagi harapan, bahwa literasi itu murah. Bahwa kemampuan baca tulis itu bisa diusahakan dengan cara semurah mungkin. Bahwa pendidikan itu bisa diperoleh dengan cara murah, tak harus semahal brosur2 sekolah yang sekarang beredar. Apalagi jaman sudah berubah, sistem informasi begitu memudahkan kita mendapatkan sumber2 bacaan. Bahkan kelas2 jarak jauh yang berkualitas tinggi dan gratis beredar di mana2. Kelas2 dari universitas sekaliber Harvard dan MIT. Wow....makin murahlah literasi dan pendidikan itu sendiri.
Dan satu lagi, bahwa sesimpel apapun usaha orang tua membekali anaknya, itu bisa membawa anak ke jenjang yang tidak dinyana. Tak pernah orang tua saya membayangkan sampai jenjang mana dan sejauh mana anaknya akan bersekolah, yang mereka tau mereka hanya berusaha menyediakan bahan bacaan yang dibutuhkan atau diinginkan anaknya. Dan itu tidak harus dengan cara yang mahal.
To all parents who struggle for their children education, be strong, never lose hope, the hope is real.
Melbourne, 18 April 2014
Wisuda S2, Master Philosophy in Science, School of Chemistry, University of Melbourne, Australia
RSS Feed
Twitter
Friday, April 18, 2014
Unknown

Posted in
0 comments :
Post a Comment