Saturday, April 19, 2014

oleh Nur Ana Sejati

Panggilannya Lina. Setiap pagi ia selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh teman-teman di sekolah. Begitu ia masuk kelas semua segera mengerumuninya. Saat itu pula tangan-tangan mungil Lina segera mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya. Sebaliknya teman-temannya segera berebut memilih-milih beragam buku yang dibawakan Lina. Berbekal sebuah catatan Lina pun segera mencatat nama-nama sang peminjam di kolom judul buku yang telah disediakan. Tak lupa ia sampaikan kapan buku tersebut harus dikembalikan. Si peminjam pun sedetik kemudian langsung menekuri isi buku setelah menyerahkan beberapa rupiah pengganti uang sewa.

Lina adalah sahabat kecil saya saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di kota kecil di kaki Gunung MerbabuLina anak yang sederhana dan rendah hati meski orang tua termasuk orang kaya di desanya. Lina juga anak cerdas yang terlihat dari ranking yang diperolehnya setiap catur wulan. Saya sendiri selalu mengagumi tulisan tangannya yang sangat rapi.
Begitulah. Lina kecil mengelola perpustakaan pribadinya yang dipinjamkan kepada teman-temannya. Berbagai ragam buku cerita, komik, hingga majalah selalu melengkapi keceriaan masa kanak-kanak kami. Saya pun sempat mengenal Lima Sekawan dan Trio Detektif darinya.
Setamat SD saya tidak lagi satu sekolah dengannya. Ia melanjutkan sekolah di SMP Favorit di kota kami. Sementara saya di SMP di dekat rumah. Sejak itu pula saya tidak pernah lagi bertemu Lina. Saya hanya mendengar kabarnya dari sahabat saya yang kebetulan bertetangga dengannya. Rupanya, setelah lulus SMP ia pindah ke ibu kota provinsi sebelum akhirnya hijrah ke Jogja untuk melanjutkan kuliah.
Beberapa tahun lalu saya menemukannya di jejaring sosial. Ia kabarkan bahwa kini ia memiliki dua anak. Persis seperti Lina. Hobbynya ke toko buku. Lina pun bercerita tentang proyeknya mendirikan perpustakaan dusun. Saat itu ia tengah berburu buku-buku murah di Jogja sembari mengajak rekan-rekannya bergabung dalam proyek tersebut.
Lina adalah salah satu dari sekian banyak orang-orang yang peduli akan pentingnya budaya baca bagi semua lapisan masyarakat. Masa kecil yang tak lepas dari buku telah membentuk satu kenangan indah akan manfaat membaca. Hingga membuatnya ingin membagikan apa yang sempat ia nikmati. Gola Gong, penulis novel Balada si Roy, juga salah satu aktivis yang peduli untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
Tahun 2013 lalu para aktivis yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Nasional Pemuda Indonesia (FSNPI) mencanangkan Gerakan Indonesia Membaca. Kelahiran gerakan tersebut didasari oleh minimnya minat baca masyarakat yang terlihat dari Indeks kebiasaan membaca masyarakat Indonesia baru di angka 0,01 atau satu buku dibaca 1.000 orang. Sedangkan, di Amerika Serikat, lima buku dibaca 500 orang atau 0,05 dan di Singapura 0,55 atau 55 buku dibaca 500 orang. Kondisi tersebut akibat minimnya pembiasaan membaca buku sejak dini dan minimnya fasilitas.
Kesadaran ini tentu harus di respon positif oleh semua pihak, termasuk dalam hal ini pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Di lingkungan pemerintah daerah sendiri sebenarnya telah memiliki satu SKPD yang bertanggungjawab mengelola perpustakaan daerah. Untuk mendorong minat baca pun banyak pemerintah daerah yang menyelenggarakan perpustakaan keliling atau bahkan perpustakaan di tingkat kelurahan.
Hanya saja, mengandalkan anggaran belanja pemerintah untuk melesatkan gerakan membaca tentulah sulit di harapkan. Secara organisasional, Kantor Perpustakaan Daerah yang dipimpin oleh eselon 3 masih sering dipandang sebelah mata perannya. Padahal, jika kita melongok kinerja Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Malang, SKPD ini telah berhasil mengharumkan nama pemda berkat prestasinya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Tata kelola pemerintahan berdasarkan konsep yang diusung oleh Osborn dan Gaeblar (2003) tentang reninventing government menempatkan pemerintah sebagai instansi yang seharusnya lebih melakukan 'steering' dari pada 'rowing' alias mengarahkan dari pada mendayung. Banyaknya aktivis yang memiliki kepedulian terhadap peningkatan minat baca sudah selayaknya disambut oleh pemerintah daerah.
Kolaborasi program dan kegiatan berbasis komunitas haruslah menjadi dasar untuk mendesain strategi untuk meningkatkan minat baca dengan biaya yang jauh lebih rendah. Pelibatan sektor privat dengan program corporate social responsibility (CSR) seharusnya mulai dapat ditarik untuk kegiatan semacam ini. Ditambah lagi, kerja sama dengan pihak universitas dengan membuat program mahasiswa peduli minat baca tentu layak untuk dipertimbangkan.

Melbourne, 19 April 2014






0 comments :

Post a Comment