Sunday, April 20, 2014

Oleh: Nur Ana Sejati

Bisa jadi panasnya suhu politik penyadapan Australia masih terasa hingga saat ini. Tapi, siapa sangka kalau tari saman dan gorengan justru menjadi perekat hubungan kedua negara ini.

Kamis, 5 Desember 2013 adalah hari yang istimewa bagi komunitas Indonesia Moreland Primary School (MPS), Victoria-Australia. Ya, komunitas ini kembali mendapatkan kesempatan untuk mempersembahkan kesenian dan kuliner Indonesia dalam event ‘The Big Samba’, setelah beberapa minggu sebelumnya sempat menyajikan tekwan untuk makan siang di sekolah.

Setiap akhir tahun MPS menyelenggarakan pentas seni dan tahun ini bertajuk 'The Big Samba'. Tahun-tahun sebelumnya juga diselenggarakan event kesenian kolosal seperti sirkus, operet, dan yang lainnya. Kami yang berkesempatan untuk hadir tak henti-hentinya dibuat berdecak oleh atraksi siswa-siswa dari prep (preparation class atau setara TK B) hingga grade 6. Beberapa minggu sebelumnya sekolah memang mendatangkan seniman professional untuk melatih anak-anak hampir tiap hari.

Pertunjukan diawali dengan paduan suara anak-anak prep dan grade 1/2. Alunan I can spell, dan Leatherwing Bat terasa lebih indah saat dilantunkan bersama-sama. Sekilas seperti paduan suara biasa. Tapi, tidak bagi kami. Apalagi saat menyaksikan anak-anak Indonesia ada diantara mereka dengan kostum tari saman. Tentu saja, menjadi bagian dari masyarakat internasional adalah satu kesempatan yang luar biasa. Sekaligus, satu kesempatan untuk memberikan pemahaman dan kesan yang baik tentang Indonesia.
Makanya, ketika diminta untuk menampilkan kesenian komunitas ini memilih tari saman. 

Kalau biasanya tarian ini dilakukan oleh sepuluh orang, kali ini kurang lebih 39 anak turut berpartisipasi, termasuk dua orang anak keturunan Eropa. Jumlah yang sangat banyak, tapi sekaligus menunjukkan bahwa semua anak Indonesia di MPS ingin meramaikan event akbar ini. Lihat saja, setiap kali latihan yang di gelar di sebuah taman kota selalu ramai. Momen seperti ini juga menjadi ajang silaturahim warga komunitas. Bahkan, salah seorang guru sempat menyatakan kekagumannya dengan kekompakan komunitas ini yang bisa mengumpulkan banyak orang. Wajar saja barangkali, bagi warga di sini hal seperti ini sangat sulit dilakukan karena ikatan kekeluargaannya tidak sekuat kita di Indonesia. Makanya, pihak sekolah seolah tak sabar menanti penampilan anak-anak Indonesia. Beberapa kali mereka menanyakan rencana aksi anak-anak beserta para orang tua di The Big Samba.

Di hari H, siswa Indonesia berkostum hitam dengan memakai hiasan leher dan kain yang diikatkan di pinggang dengan ikat kepala bercorak Indonesia. Merekat terlihat begitu mencolok diantara teman-temannya. Diawali dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan posisi duduk para penari memberikan salam pembuka. Mereka terus mengikuti irama dengan gerakan-gerakan harmonis. Tepukan-tepukan yang kompak ke dada kiri dan kanan serta ke lantai membuat tarian terlihat begitu menawan. Ya, hari ini sekolah kembali dibuat terpukau oleh sajian kesenian Indonesia.
13863827101305824066
(Foto: Nur Ana Sejati)
Lain di panggung, lain di food stall. Tapi, keduanya sama-sama memikat. Sejak semula menu utama yang akan dipersiapkan adalah sate. Sebagai pelengkap kuliner Indonesia, para ibu menyajikan mendoan, bakwan, martabak, risoles, tahu isi, pempek, kue lapis dan klepon. Pertimbangan pemilihan menu adalah faktor kemudahan pembuatan. Gorengan dan kue khas Indonesia disajikan bersama dengan kue-kue lain dengan beraneka bentuk yang memikat. Hmm, siapa sangka kalau warga Australia justru menyerbu gorengan-gorengan. Bisa jadi karena mereka sudah terbiasa dengan kue-kue modern dan ingin mencoba masakan lain. Yang jelas, mereka begitu antusias dan raut muka ‘mak nyus’ terlihat saat memilih-milih gorengan dan sate.

Alhamdulillah, satu tugas terlaksana dengan baik. Saat gorengan dan tarian tak lagi menjadi seperti adanya, saat itulah ia bisa memberi arti lebih bahkan menjadi perekat ikatan dua negara sekalipun.

0 comments :

Post a Comment