Oleh Nur Ana Sejati
Saya masih sibuk memasang-masang kabel LCD saat ia menghampiri. Berbeda dengan dua minggu sebelumnya saat saya jumpai di tempat kerjanya. Kali ini ia tampak lebih ceria dan akrab. Segera ia ulurkan tangannya sambil tersenyum hangat, “Bu Ana, saya sangat terkesan dengan tulisan ibu”.
Saya masih sibuk memasang-masang kabel LCD saat ia menghampiri. Berbeda dengan dua minggu sebelumnya saat saya jumpai di tempat kerjanya. Kali ini ia tampak lebih ceria dan akrab. Segera ia ulurkan tangannya sambil tersenyum hangat, “Bu Ana, saya sangat terkesan dengan tulisan ibu”.
Sebaliknya, saya hanya berkerut
sambil memutar ingatan dari mana ia membaca tulisan saya. Rasanya belum pernah
saya berikan alamat blog saya. Belum sempat saya tanya, ia sudah melanjutkan
ceritanya “Kemarin waktu ada acara dengan Pak Wali saya langsung ingat Bu Ana. Persis
seperti dalam tulisan tersebut”.
Ternyata Sekretaris salah satu
SKPD tersebut membaca tulisan saya dari majalah kantor yang di kirim ke
beberapa SKPD terkait di Pemda di provinsi tempat saya tinggal. Terus terang
saya agak heran. Apa menariknya tulisan tersebut. Sebagai penulis pemula saya
sendiri sering membanding-bandingkan tulisan satu dengan yang lain. Tulisan
tersebut bukanlah tulisan yang saya anggap baik.
Apalagi, saya hanya sekedar
melakukan repacking ide yang saya dapatkan dari radio saat pulang kantor. Artinya,
tingkat originalitas idenya sangat rendah dan saya pikir banyak orang yang
sudah memahami hal tersebut. Saat itu sedang gencar-gencarnya kasus debt
collector katanya sering mengintimidasi nasabah. Saat di lakukan wawancara
salah satu debt collector menyatakan bahwa :
…….Kedua, kami mencoba datang kembali dan menagih dengan cara
baik-baik. Pada kali ketiga, bukannya mereka membayar tagihan-tagiahnnya tapi
justru sederet makian dan kemarahan yang kami terima. Kami juga manusia biasa.
Jadi kekerasan-kekerasan itu sebenarnya dipicu oleh nasabah sendiri.’
Beberapa saat kemudian, muncullah
komentar yang bagi saya sangat menarik untuk disebarkan. Bunyinya:
“kenapa harus selalu menyebut manusia biasa untuk membenarkan tindakan
itu? Kenapa tidak sebaliknya. Justru yang seharusnya di tanamkan dalam fikiran
adalah bahwa kita adalah orang-orang yang luar biasa”.
Dalam tulisan yang berjudul Bukan
Manusia Biasa saya mencoba mengulas dialog tersebut dan mendudukannya dalam
konteks PNS. Pernyataan bahwa “saya hanyalah manusia biasa” sering dijadikan
apologi ketika gagal melakukan sesuatu. Termasuk, apa yang disampaikan rekan
saya. Bahkan, seorang walikota pun memohon permakluman atas nama “manusia
biasa”.
Baiklah, poin saya di sini
sebenarnya bukan pada tulisan tersebut. Tapi, bagaimana sebuah tulisan bisa
mempengaruhi mindset seseorang hingga bisa berujung pada perubahan sikap dan
tingkah laku. Kejadian di atas hanyalah contoh kecil. Kita bisa mengambil contoh
yang lebih besar.
Mungkinkah kita mengetahui konsep
invisible hand-nya Adam Smith kalau ia tidak menuliskannya dalam sebuah buku?
Mungkinkah kita mengenal ilmu fisika, politik dan pemerintahan seandainya
Aristoteles bapak filusuf ini hanya berfikir dan mengajar saja? Atau, mungkinkah
gelombang sosialisme akan terus dikumandangkan hingga kini tanpa Karl Marx
menyatakan gagasan-gagasannya dalam puluhan buku? Atau, mungkinkah gerakan
emansipasi di Indonesia akan muncul jika Kartini tidak menulis surat kepada
sahabatnya JH Abendanon?
Pramudya Ananta Toer mengatakan “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” Ali bin Abi Thalib juga mengatakan “Ikatlah Ilmu Dengan Menuliskannya”. Atau yang lebih menyeramkan lagi pernyataan Wiji Tukul ““Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah!”
Di area marketing masyarakat awam mungkin hanya mengenal Hermawan Kertajaya dan Rhenald Kasali. Padahal banyak universitas yang menawarkan program tersebut. Ratusan perusahaan besar ada Indonesia. Tentu tanpa para marketer handal perusahaan-perusahaan tersebut akan gulung tikar. Namun, mengapa hanya ada dua nama yang dicatat sebagai tokoh marketing? Karena mereka berdua lah yang secara produktif menulis buku.
Sama halnya di area lainnya,
pemerintahan, politik, ilmu pasti dan lainnya. Kita lebih banyak menemukan
nama-nama asing yang bertaburan dalam buku-buku kita. Tak lain dan tak bukan,
karena menulis belum dianggap sebagai sesuatu yang sangat penting.
Yuks, mari berbagi meski hanya lewat tulisan. Bisa jadi cerita yang kita anggap sangat sederhana justru mampu mengubah hidup seseorang...
Yuks, mari berbagi meski hanya lewat tulisan. Bisa jadi cerita yang kita anggap sangat sederhana justru mampu mengubah hidup seseorang...
Melbourne, 20 April 2014
Nur Ana Sejati
RSS Feed
Twitter
Sunday, April 20, 2014
ahmad syam
Posted in
0 comments :
Post a Comment