Oleh : Zubaidah Ningsih AS
Masuk ke pertanyaan ketiga :
3. Bagaimana tentara salib dengan mudah melewati dan menaklukkan kerajaan2 Islam dalam perjalanannya menuju Jerusalem?
Tentara Salib (juga disebut The Frank) bergerak dari daratan Eropa Barat menuju Jerusalem. Dalam perjalanannya mereka melewati beberapa kerajaan Islam mulai dari Antioch, Edessa, Aleppo, Ma'arra, Tripoli, dan akhirnya menuju Jerusalem. Mengapa kerajaan2 Islam ini bisa dilewati? Jawabannya bukan karena mereka tidak menyadari kedatangan tentara salib, tetapi karena kerajaan2 muslim itu lemah. Di bawah pimpinan raja2 yang lemah baik tauhid, personality maupun leadershipnya, maka dengan mudah kerajaan2 ini terkalahkan. Juga perpecahan di kalangan umat muslim menyebabkan lemahnya kekuatan mereka.
Pada masa sebelum perang salib, umat Islam adalah umat dengan peradaban yang maju baik di bidang sains dan kemasyarakatan. Tetapi secara politik mereka terpecah belah. Muslim di Sisilia dan Andalusia juga mengalami hal yang sama, mereka terpecah belah sehingga mudah dikuasai musuh. Pusat kekhalifahan saat terjadinya perang salib adalah di Baghdad di bawah Khalifah Abbasiyah. Namun khalifah yang dillindungi kaum Syiah ini lemah sehingga kekuasaannya tak lebih dari sekedar kekuasaan di dalam istananya sendiri.
Di luar pusat kekhalifahan di Baghdad, muslim terbagi menjadi 3 kelompok besar,Fatimide, Seljuk dan Habsyisyi (atau juga dikenal sebagai Assassin). Selain itu Damascus dan Byzantine juga merupakan pusat perang antar saudara. Sementara antar kelompok Seljuk sendiri juga terjadi perang saudara.
Salah satu raja besar kelompok Seljuk adalah Kilij Arslan. Saat tentara salib mulai bergerak menuju daerah Seljuk, sang raja ini tengah sibuk berperang saudara dengan Danishmend. Juga terjadi peperangan melawan Byzantine. Kedatangan tentara salib dianggap remeh oleh Kilij Arslan, apalagi dari mata2nya dia mendapat kabar bahwa tentara salib hanya terdiri dari para petani yang tak trampil berperang. Mereka bahkan tidak bisa mengenali muslim sebagai musuh mereka. Dengan mudah Kilij Arslan menggempur mundur pasukan salib ini dan kembali berkonsentrasi berperang melawan Danismend.
Tak dinyana ternyata pada tahun 1097 pasukan salib kedua yang sekarang berisi knights berhasil menyerang kerajaan Kilij. Ibukota kerajaan ini, Nesia dengan mudah diduduki oleh tentara salib. Kilij akhirnya panik dan kebingungan mendapati ibukotanya kini telah dikuasai musuh. Jika dia kembali ke ibukota maka dia akan kehilangan wilayah perang yang sedang diperebutkannya dengan Danishmend. Kilij akhirnya memutuskan merebut kembali ibukotanya. Malang tak dapat ditolak, Kilij gagal merebut ibukotanya. Muslim Byzantine yang awalnya bersekutu dengan tentara salib akhirnya berbalik menolong Kilij. Begitu juga dengan Danishmend, mereka memutuskan bersatu dengan Kilij melaksanakan jihad melawan tentara salib. Tentara salib yang berhasil menguasai Nesia akhirnya terus bergerak maju. Selanjutnya mereka berhasil mengalahkan Dorylaeum.
Setelah berhasil menguasai Nesia, tentara salib terus merangsek menuju Antioch yang saat itu beraja Syams al Dawla. Antioch sendiri adalah kota yang dibangun oleh insinyur2 mumpuni dimana pertahanan kerajaan ini kuat. Dengan dikelilingi sungai dan tembok tebal setinggi 10 meter, maka sulit bagi musuh menyerang kota ini. Syams al Dawla merasa perlu meminta bantuan dari raja2 muslim lain. Maka dia mulai mendekati dua raja bersaudara Ridwan (raja Aleppo) dan Duqaq (raja Damascus). Ridwan dan Duqaq sendiri adalah dua saudara yang tidak sejalan. Duqaq takut kepada Ridwan yang bengis. Kedua raja ini sebenarnya setuju membantu Syams al Dawla, tetapi keduanya gagal. Duqaq yang dalam perjalanannya bertemu komandan pasukan salib yang tengah kelaparan merasa kasihan sehingga memutuskan membatalkan serangan. Sementara pasukan Aleppo di bawah pimpinan Ridwan salah taktik dimana akhirnya mereka malah terjebak di posisi yang kurang menguntungkan dan akhirnya kalah.
Syams al Dawla akhirnya menunggu bantuan ketiga dari Kerbugha, seorang raja dari Iraq. Kedatangan Kerbugha ternyata lebih lambat dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan tentara Kerbugha memutuskan menyerang Edessa terlebih dahulu sebelum menuju Antioch (untuk jelasnya bisa dilihat di peta). Edessa saat itu telah dikuasai pasukan Salib juga. Jika Kerbugha menuju Antioch maka akan ada saat dimana pasukannya akan terjepit diantara Antioch dan Edessa. Untuk menghindari kesulitan ini, maka Kerbugha memutuskan melemahkan tentara salib di Edessa sebelum menyerang tentara salib di Antioch.
Kerbugha akhirnya sampai di Antioch. Syams al Dawla merasa kecewa karena keterlambatan kedatangan Kerbugha. Ditambah hasutan Duqaq yang menyatakan bahwa ada kemungkinan Kerbugha ingin menguasai Antioch sendiri, maka Syams al Dawla bersama Duqaq memutuskan meninggalkan Antioch dan Kerbugha yang akhirnya kalah melawan tentara salib. Fatimide di Egypt mendengar bahwa pasukan salib telah berhasil mengalahkan tentara Turki. Hal ini malah membuat Fatimide bersemangat untuk menguasai sendiri Jerusalem.
Pasukan salib semakin kuat dan muslim semakin lemah. Di kota Ma'ara pasukan salib membunuh bahkan sampai memasak dan memakan tubuh kaum muslim. Selain Ma'ara, tentara salib menyerang kota Hisn al Akrad, sebuah kota petani dimana para petani memilih melarikan diri dibanding melawan tentara salib. Dengan memanfaatkan kambing2 mereka, para petani mengecoh tentara salib dengan melepas kambing2 tersebut. Karena lapar maka tentara salib sibuk mengejar kambing tersebut dan lengah membiarkan petani2 muslim itu melarikan diri.
Memasuki Damascus tentara salib bahkan disambut dengan baik oleh masyarakat di sini. Muslim Damascus tidak mengadakan perlawanan. Dengan demikian makin mudahlah tentara salib menyerang Jerusalem.
4. Mengapa tidak ada bantuan untuk kaum Muslim di Jerusalem saat tentara perang salib menyerang kota ini yang saat itu dikuasai muslim?
Kondisi di luar Jerusalem yang sudah kalah dan bahkan memberi jalan ke tentara salib untuk masuk ke Jerusalem menyebabkan lemahnya bantuan untuk Jerusalem. Ridwan sang raja Aleppo bahkan mengijinkan dipasangnya salib di masjid2. Duqaq malah menyerahkan hartanya untuk membantu tentara salib. Beberapa ulama mencoba melawan tentara salib dan mengambil salib2 di masjid. Di antara mereka adalah Al Hassan Al Harawi, Al Sulaymi dan Ibn Khassab. Namun ulama2 ini tak terbantu bahkan dibunuh oleh kelompok Habsyisyi.
Pada tahun 1099 setelah 3,5 tahun ceramah Pope Urban, tentara salib berhasil masuk Jerusalem. Menurut saksi mata hari pendudukan Jerusalem, tentara salib membunuh semua muslim dan yahudi di Jerusalem, baik anak2 maupun wanita. Darah bahkan menggenang sampai di lutut tentara salib.
Islam kalah telak. Kalah oleh komitmen dan usaha tanpa henti pasukan salib
PS : Ini taktik perangnya,
Dalam perang salib ini, kedua pasukan saling mempelajari taktik masing2. Pasukan salib (disebut juga The Frank) berperang dengan gaya perang klasik layaknya catur dimana lini pertama adalah pemanah, kemudian infanteri dan selanjutnya kavaleri. Cara mereka berperang adalah dengan saling menunggu dan bertahan dari serangan musuh terutama saat mereka mengadu lini pertama mereka, yaitu pemanah. Jika pasukan pemanah telah selesai maka pasukan di belakangnya mulai menyerang maju. Di sini para knights mulai berperang memukul mundur musuh. Karena gaya berperang ini, maka pasukan salib terkenal akan baju perangnya yang tebal dan membuat mereka kurang lincah. Namun mereka kuat dalam mempertahankan diri.*1
Sedangkan pasukan Islam (dikenal juga sebagai Mameluke) adalah pasukan perang gurun dengan gaya berperang yang lincah. Pedang mereka tajam disertai skill pasukan yang mampu menebas musuh dengan presisi kuat. Pasukan Islam adalah pemanah2 ulung yang mampu memanah sambil berkuda. Taktik perang muslim bukan dengan menunggu layaknya catur, tetapi mereka menyerang dalam bentuk gelombang yang datang bertubi-tubi menyerang pasukan salib. Kefrustasian pasukan Islam adalah saat memahami bahwa taktik Razzia (gelombang) mereka gagal memukul mundur pasukan musuh yang berbaju besi tebal.*2
(to be continued...THE FIGHT BACK)
Melbourne, 27 September 2009
Salam
*1. Gaya berperang klasik ini bisa diamati di dalam beberapa adegan film Brave Heart yang dibintangi Mel Gibson
*2. Kelincahan pasukan perang muslim bisa dilihat di scene film 13th Warrior dimana Antonio Banderas menunjukkan kelincahan kuda Arab dan penunggangnya.
Masuk ke pertanyaan ketiga :
3. Bagaimana tentara salib dengan mudah melewati dan menaklukkan kerajaan2 Islam dalam perjalanannya menuju Jerusalem?
Tentara Salib (juga disebut The Frank) bergerak dari daratan Eropa Barat menuju Jerusalem. Dalam perjalanannya mereka melewati beberapa kerajaan Islam mulai dari Antioch, Edessa, Aleppo, Ma'arra, Tripoli, dan akhirnya menuju Jerusalem. Mengapa kerajaan2 Islam ini bisa dilewati? Jawabannya bukan karena mereka tidak menyadari kedatangan tentara salib, tetapi karena kerajaan2 muslim itu lemah. Di bawah pimpinan raja2 yang lemah baik tauhid, personality maupun leadershipnya, maka dengan mudah kerajaan2 ini terkalahkan. Juga perpecahan di kalangan umat muslim menyebabkan lemahnya kekuatan mereka.
Pada masa sebelum perang salib, umat Islam adalah umat dengan peradaban yang maju baik di bidang sains dan kemasyarakatan. Tetapi secara politik mereka terpecah belah. Muslim di Sisilia dan Andalusia juga mengalami hal yang sama, mereka terpecah belah sehingga mudah dikuasai musuh. Pusat kekhalifahan saat terjadinya perang salib adalah di Baghdad di bawah Khalifah Abbasiyah. Namun khalifah yang dillindungi kaum Syiah ini lemah sehingga kekuasaannya tak lebih dari sekedar kekuasaan di dalam istananya sendiri.
Di luar pusat kekhalifahan di Baghdad, muslim terbagi menjadi 3 kelompok besar,Fatimide, Seljuk dan Habsyisyi (atau juga dikenal sebagai Assassin). Selain itu Damascus dan Byzantine juga merupakan pusat perang antar saudara. Sementara antar kelompok Seljuk sendiri juga terjadi perang saudara.
Salah satu raja besar kelompok Seljuk adalah Kilij Arslan. Saat tentara salib mulai bergerak menuju daerah Seljuk, sang raja ini tengah sibuk berperang saudara dengan Danishmend. Juga terjadi peperangan melawan Byzantine. Kedatangan tentara salib dianggap remeh oleh Kilij Arslan, apalagi dari mata2nya dia mendapat kabar bahwa tentara salib hanya terdiri dari para petani yang tak trampil berperang. Mereka bahkan tidak bisa mengenali muslim sebagai musuh mereka. Dengan mudah Kilij Arslan menggempur mundur pasukan salib ini dan kembali berkonsentrasi berperang melawan Danismend.
Tak dinyana ternyata pada tahun 1097 pasukan salib kedua yang sekarang berisi knights berhasil menyerang kerajaan Kilij. Ibukota kerajaan ini, Nesia dengan mudah diduduki oleh tentara salib. Kilij akhirnya panik dan kebingungan mendapati ibukotanya kini telah dikuasai musuh. Jika dia kembali ke ibukota maka dia akan kehilangan wilayah perang yang sedang diperebutkannya dengan Danishmend. Kilij akhirnya memutuskan merebut kembali ibukotanya. Malang tak dapat ditolak, Kilij gagal merebut ibukotanya. Muslim Byzantine yang awalnya bersekutu dengan tentara salib akhirnya berbalik menolong Kilij. Begitu juga dengan Danishmend, mereka memutuskan bersatu dengan Kilij melaksanakan jihad melawan tentara salib. Tentara salib yang berhasil menguasai Nesia akhirnya terus bergerak maju. Selanjutnya mereka berhasil mengalahkan Dorylaeum.
Setelah berhasil menguasai Nesia, tentara salib terus merangsek menuju Antioch yang saat itu beraja Syams al Dawla. Antioch sendiri adalah kota yang dibangun oleh insinyur2 mumpuni dimana pertahanan kerajaan ini kuat. Dengan dikelilingi sungai dan tembok tebal setinggi 10 meter, maka sulit bagi musuh menyerang kota ini. Syams al Dawla merasa perlu meminta bantuan dari raja2 muslim lain. Maka dia mulai mendekati dua raja bersaudara Ridwan (raja Aleppo) dan Duqaq (raja Damascus). Ridwan dan Duqaq sendiri adalah dua saudara yang tidak sejalan. Duqaq takut kepada Ridwan yang bengis. Kedua raja ini sebenarnya setuju membantu Syams al Dawla, tetapi keduanya gagal. Duqaq yang dalam perjalanannya bertemu komandan pasukan salib yang tengah kelaparan merasa kasihan sehingga memutuskan membatalkan serangan. Sementara pasukan Aleppo di bawah pimpinan Ridwan salah taktik dimana akhirnya mereka malah terjebak di posisi yang kurang menguntungkan dan akhirnya kalah.
Syams al Dawla akhirnya menunggu bantuan ketiga dari Kerbugha, seorang raja dari Iraq. Kedatangan Kerbugha ternyata lebih lambat dari yang diharapkan. Hal ini disebabkan tentara Kerbugha memutuskan menyerang Edessa terlebih dahulu sebelum menuju Antioch (untuk jelasnya bisa dilihat di peta). Edessa saat itu telah dikuasai pasukan Salib juga. Jika Kerbugha menuju Antioch maka akan ada saat dimana pasukannya akan terjepit diantara Antioch dan Edessa. Untuk menghindari kesulitan ini, maka Kerbugha memutuskan melemahkan tentara salib di Edessa sebelum menyerang tentara salib di Antioch.
Kerbugha akhirnya sampai di Antioch. Syams al Dawla merasa kecewa karena keterlambatan kedatangan Kerbugha. Ditambah hasutan Duqaq yang menyatakan bahwa ada kemungkinan Kerbugha ingin menguasai Antioch sendiri, maka Syams al Dawla bersama Duqaq memutuskan meninggalkan Antioch dan Kerbugha yang akhirnya kalah melawan tentara salib. Fatimide di Egypt mendengar bahwa pasukan salib telah berhasil mengalahkan tentara Turki. Hal ini malah membuat Fatimide bersemangat untuk menguasai sendiri Jerusalem.
Pasukan salib semakin kuat dan muslim semakin lemah. Di kota Ma'ara pasukan salib membunuh bahkan sampai memasak dan memakan tubuh kaum muslim. Selain Ma'ara, tentara salib menyerang kota Hisn al Akrad, sebuah kota petani dimana para petani memilih melarikan diri dibanding melawan tentara salib. Dengan memanfaatkan kambing2 mereka, para petani mengecoh tentara salib dengan melepas kambing2 tersebut. Karena lapar maka tentara salib sibuk mengejar kambing tersebut dan lengah membiarkan petani2 muslim itu melarikan diri.
Memasuki Damascus tentara salib bahkan disambut dengan baik oleh masyarakat di sini. Muslim Damascus tidak mengadakan perlawanan. Dengan demikian makin mudahlah tentara salib menyerang Jerusalem.
4. Mengapa tidak ada bantuan untuk kaum Muslim di Jerusalem saat tentara perang salib menyerang kota ini yang saat itu dikuasai muslim?
Kondisi di luar Jerusalem yang sudah kalah dan bahkan memberi jalan ke tentara salib untuk masuk ke Jerusalem menyebabkan lemahnya bantuan untuk Jerusalem. Ridwan sang raja Aleppo bahkan mengijinkan dipasangnya salib di masjid2. Duqaq malah menyerahkan hartanya untuk membantu tentara salib. Beberapa ulama mencoba melawan tentara salib dan mengambil salib2 di masjid. Di antara mereka adalah Al Hassan Al Harawi, Al Sulaymi dan Ibn Khassab. Namun ulama2 ini tak terbantu bahkan dibunuh oleh kelompok Habsyisyi.
Pada tahun 1099 setelah 3,5 tahun ceramah Pope Urban, tentara salib berhasil masuk Jerusalem. Menurut saksi mata hari pendudukan Jerusalem, tentara salib membunuh semua muslim dan yahudi di Jerusalem, baik anak2 maupun wanita. Darah bahkan menggenang sampai di lutut tentara salib.
Islam kalah telak. Kalah oleh komitmen dan usaha tanpa henti pasukan salib
PS : Ini taktik perangnya,
Dalam perang salib ini, kedua pasukan saling mempelajari taktik masing2. Pasukan salib (disebut juga The Frank) berperang dengan gaya perang klasik layaknya catur dimana lini pertama adalah pemanah, kemudian infanteri dan selanjutnya kavaleri. Cara mereka berperang adalah dengan saling menunggu dan bertahan dari serangan musuh terutama saat mereka mengadu lini pertama mereka, yaitu pemanah. Jika pasukan pemanah telah selesai maka pasukan di belakangnya mulai menyerang maju. Di sini para knights mulai berperang memukul mundur musuh. Karena gaya berperang ini, maka pasukan salib terkenal akan baju perangnya yang tebal dan membuat mereka kurang lincah. Namun mereka kuat dalam mempertahankan diri.*1
Sedangkan pasukan Islam (dikenal juga sebagai Mameluke) adalah pasukan perang gurun dengan gaya berperang yang lincah. Pedang mereka tajam disertai skill pasukan yang mampu menebas musuh dengan presisi kuat. Pasukan Islam adalah pemanah2 ulung yang mampu memanah sambil berkuda. Taktik perang muslim bukan dengan menunggu layaknya catur, tetapi mereka menyerang dalam bentuk gelombang yang datang bertubi-tubi menyerang pasukan salib. Kefrustasian pasukan Islam adalah saat memahami bahwa taktik Razzia (gelombang) mereka gagal memukul mundur pasukan musuh yang berbaju besi tebal.*2
(to be continued...THE FIGHT BACK)
Melbourne, 27 September 2009
Salam
*1. Gaya berperang klasik ini bisa diamati di dalam beberapa adegan film Brave Heart yang dibintangi Mel Gibson
*2. Kelincahan pasukan perang muslim bisa dilihat di scene film 13th Warrior dimana Antonio Banderas menunjukkan kelincahan kuda Arab dan penunggangnya.

Semoga jelas petanya. Peta ini didapatkan dari acara dongeng perang Salib oleh Islamic Legacy :p
RSS Feed
Twitter
Tuesday, April 22, 2014
Unknown
Posted in
0 comments :
Post a Comment