Oleh : Zubaidah Ningsih AS
The Awakening, munculnya pemimpin2 muslim yang tangguh.
Kini Jerusalem telah dikuasai tentara salib dan muslim berada di bawah kekuasaan mereka. Pihak Nasrani mendirikan 4 negara di daerah yang sebelumnya dikuasai muslim, yaitu Edessa, Antioch, Tripoli dan Jerusalem. Perang Salib I telah usai dengan kemenangan di pihak Nasrani.
5. Bagaimanakah perjuangan Muslim melawan Nasrani?
Setelah pada tahun 1100 M Nasrani menduduki Jerusalem, maka umat Islam mulai berbenah. Dimulai dengan munculnya seorang tokoh besar Imadudeen Zengi atau Lion of Mosul yang merupakan raja Syria. Dia adalah keturunan Turki berkulit gelap. Pembentukan jiwa kepemimpinan Imadudeen dimulai saat dia menjadi bagian dari pasukan Ibn Khassab (ulama yang mencabuti tanda salib di masjid2). Dia adalah seorang muslim yang taat, disiplin dan berpendirian kuat. Dia membentuk pasukan muslim yang kuat, disiplin dan tangguh. Dia menghindari foya2 dan menolak keras alkohol. Pasukan Imadudeen sangat mencintai panglimanya ini.
Khalifah di Baghdad meminta bantuan kepada Imadudeen untuk membantunya melawan tentara salib. Namun sayang perjuangan Imadudeen kali ini masih belum membuahkan hasil. Dia bahkan hampir terbunuh di sebuah pinggir sungai saat keluarga Ayubi dari seberang sungai berhasil menyelamatkannya. Di sinilah awal mula kerjasama keluarga Zengi dan Ayubi dalam melawan Nasrani. Selanjutnya Imadudeen berusaha merebut kembali Edessa, yang menjadi penghubung antara Aleppa dan Mosul. Imadudeen mencoba menawarkan perdamaian kepada Raja Edessa saat itu, namun sang raja menolak. Tahun 1144 M, Imadudeen menyerang Edessa dengan cara membuat terowongan bawah tanah untuk bisa masuk ke kota Edessa. Imadudeen berhasil menguasai Edessa. Dia membunuh semua tentara salib di kota itu. Edessa dapat direbut. Kini Mosul dan Aleppa terhubung kembali. Hal ini membangkitkan kembali semangat kaum muslim. Sementara tentara salib merasakan adanya ancaman dan mulai bersiap menyiapkan perang salib II.
Pelajaran yang dapat diambil dari perjuangan Imadudeen adalah bahwa dia mulai membenahi manajemen militernya. Melatih dengan sungguh2 tentaranya. Imadudeen juga berhasil mendidik anak2nya akan pentingnya perjuangan Islam ini. Namun Imadudeen terbunuh pada tahun 1146 M. Lagi2 kelompok Habsyisyi (atau Assassin) berhasil membunuh Imadudeen yang dianggap membahayakan kekuasaan Habsyisyi.
Islam kembali kehilangan pemimpin. Saat itulah muncul kemudian Nurudeen Zengi, anak laki2 Imadudeen. Nurudin Zengi bersepakat dengan saudaranya Syaifudeen Zengi bahwa Nurudeenlah yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan ayahnya. Nurudeen akhirnya berkuasa di Edessa. Joscelyn, seorang panglima tentara salib berusaha merebut kembali Edessa, namun usaha ini gagal. Nurudeen mulai membangun umat Islam. Dia mulai mereformasi umatnya. Menurut Ibn Athir, seorang sejarawan, Nurudeen berkarakter seperti Umar bin Khattab, dia lelaki yang sholeh, pecinta sunnah Rosul dimana dia rajin belajar hadist, selalu didampingi ulama2 dan panglima2nya yang kerap memberi masukan padanya. Di waktu senggangnya dia minta para ulama mengajarkan hadist padanya. Jika dia mendengar lafal adzan yang salah, maka dengan segera dia akan membenarkannya. Dia membawa pedang selayaknya Nabi membawa pedang, demikian akhirnya dia mencontohkan pada pasukannya. Dia juga raja yang sederhana, rendah hati, adil, kuat dan sehat.
Nurudeen juga menekankan pada istrinya bahwa dia adalah pengelola uang rakyat, bukan pemiliknya. Di sini dia menempatkan diri sebagai pelayan umat, bukan sebagai pengambil keuntungan dari umat. Saat istrinya menangis lantaran tertidur sehingga melewatkan sholat malamnya, Nurudeen memerintahkan pasukannya untuk membunyikan tanda di tengah malam sehingga orang2 bisa terbangun dan melaksanakan sholat malamnya. Selain membangun sisi militer, Nurudeen juga berusaha mencerdaskan umatnya. Dia percaya bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan generasi muda yang sholeh dan cerdas. Dia membangun sekolah2 dan sarana kesehatan. Nurudeen sangat berkomitmen untuk melayani umatnya. He took care of his ummah. Subhanallah...
Salah satu doa Nurudeen yang terkenal adalah doanya saat pasukannya di ambang kekalahan. Di antara pasukannya ada seorang ulama yang bermimpi bertemu pasukan lain. Salah satu anggota pasukan itu kemudian berkata kepada ulama ini "Katakanlah pada Nurudeen, Allah telah menjawab doanya". Selanjutnya ulama ini menghadap Nurudeen dan menceritakan mimpinya. Nurudeen tak serta merta percaya pada orang tersebut. Dia bertanya "Coba kau katakan, apa yang kuucapkan dalam doaku?". Orang itu ragu untuk mengatakan doa Nurudeen, namun dia akhirnya berkata "Engkau berdoa, 'Ya Allah, buatlah kemenangan ini kemenangan agamaMu. Siapakah aku ini? hanyalah seorang anjing Mahmud'". Sang ulama sebenarnya enggan menyebut rajanya anjing (red : Mahmud adalah nama lain Nurudeen) namun demi kebenaran mimpinya dia menyebut kata anjing. Nurudeen menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah dengan menyebut dirinya sendiri seorang anjing Mahmud yang tak berharga dibanding kebesaran agama Allah. Dia berdoa agar kemenangan peperangan ini bukan untuk kemenangan dirinya namun kemenangan agama Allah.
Menyadari adanya ancaman dari Nurudeen, maka Eropa Barat kembali mengirimkan pasukannya. Di bawah pimpinan Loius dari Perancis dan Conrad dari Jerman, pasukan salib II mulai bergerak menuju Jerusalem. Dalam perjalanannya kali ini tentara salib berhasil dilemahkan oleh pasukan muslim. Damascus yang takut akan gerakan Nurudeen Zengi bersekutu dengan tentara salib di Jerusalem. Namum menyadari kekuatan dan kebijaksanaan Nurudeen akhirnya Damascus menyerahkan kekuasaan negeri ini ke tangan Nurudeen. Nurudeen berhasil menyatukan beberapa kerajaan Islam.
Tentara salib kemudian berhasil masuk ke Damascus. Di sini mereka berperang dengan tentara muslim. Salah satu peserta perang ini adalah seorang hakim dan ulama yang sudah cukup tua Al Findalawi. Walaupun tua namun dia berjuang dengan gigih dan akhirnya mati syahid. Dengan semangat baja, tentara muslim terus melawan tentara Salib. Dan dalam 4 hari tentara salib bisa dikalahkan.
Di sisi lain, Najmudeen Al Ayubi dan adiknya Asad al Din Shirkuh (sering disebut Shirkuh) terusir dari Tikrit karena suatu fitnah. Dalam perjalanannya melarikan diri dari Tikrit, Najmudeen yang adalah ayah Salahudeen dan adiknya diselamatkan oleh dinasti Zengi. Shirkuh kemudian menjadi tangan kanan Nurudeen Zengi.
Dalam proses perjuangan Nurudeen, Shirkuh diperintahkan oleh Nurudeen untuk membantu pasukan Islam di Mesir yang sedang melawan sesama muslim yang bersekutu dengan tentara salib. Shirkuh menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalan memutari Jerusalem supaya bisa selamat sampai di Mesir tanpa diketahui tentara salib di Jerusalem. Di dalam proses inilah Salahudeen yang lahir dan besar di Damascus mulai belajar teknik perang dan kepemimpinan saat ikut berperang dengan pamannya di Mesir melawan muslim Fatimide yang bersekutu dengan tentara salib.
Di Mesir, Salahudeen mulai memimpin pasukan. Oleh pamannya dia ditempatkan di bagian tengah pasukan di perang Ashmunen tahun 1167 M. Dia harus menjebak musuh dengan pura2 melemah dalam perang sehingga akhirnya berhasil menarik pasukan musuh ke tengah2 pasukan muslim. Setelah pasukan musuh berada di tengah2 dua sayap pasukan muslim, Salahudeen harus berbalik 180 derajat menyerang balik musuh. Taktik ini dilakukan karena para knights yang berketrampilan perang tinggi berada di bagian belakang pasukan. Dengan tertariknya pasukan musuh di tengah2 pasukan muslim, maka para knights juga akan terjebak. Dengan demikian maka seluruh pasukan musuh bisa dikalahkan.
6. Siapa dan bagaimanakah kepemimpinan Salahudeen?
Seperti tersebut di atas, Salahudeen adalah seorang pemimpin hasil peleburan dua keluarga besar Ayubi dan Zengi. Di bawah didikan Nurudeen dan pamannya Shirkuh, Salahudeen menjadi pemimpin yang tangguh. Selepas kemenangan di Ashmunen, Shirkuh meninggal, demikian juga dengan Nurudeen. Putra Nurudeen meninggal dalam usia muda juga sehingga akhirnya Salahudeen kini yang memegang tampuk kekuasaan. Dibesarkan oleh teladan yang baik, Salahudeen terbentuk menjadi raja yang sholeh, cerdas, tegas, disiplin dan jitu dalam menyusun stategi perang.
Kekuatan yang dimiliki Salahudeen adalah keberaniannya bersikap sekaligus keikhlasannya. Dia menyadari bahwa posisinya sebagai raja Mesir sangatlah kuat dibanding raja2 kerajaan Islam lain dimana Mesir dekat posisinya dengan Jerusalem. Mesir juga sebuah kerajaan yang kaya. Di Mesir Salahudeen sebenarnya menghadapi bahaya ancaman musuh sekaligus serangan penyakit dan kelaparan. Namun begitu dia bersikukuh untuk menyatukan kerajaan2 Islam yang lain. Dia mengirimkan surat kepada raja2 Islam yang lain. Dalam surat ini dia menyatakan bahwa dialah penerus Nurudeen sekaligus menghimbau raja2 lain untuk bersatu mendukungnya. Raja2 lain menghormati Salahudeen dan bergerak bersama di bawah pimpinan Salahudeen. Syria dan Mesir kini dikuasai oleh Salahudeen.
Selain keberaniannya itu, Salahudeen juga seorang raja yang penuh keikhlasan. Dia menyadari bahwa kekuatan iman kepada Allah adalah senjata yang sangat kuat. Kepercayaan akan kebesaran Allah akan membantu terbentuknya jiwa2 pejuang Islam yang kuat dalam jihadnya. Salahudeen menyadari bahwa pasukan salib telah memahami strategi perang muslim. Taktik serangan gelombang muslim telah bisa dibaca oleh musuh sehingga musuh mampu mencegah terbentuknya konsentrasi prajurit muslim yang bersiap membentuk gelombang2 serangan. Karena konsentrasi yang terpecah ini maka gelombang serangan muslim tak bisa terbentuk. Tentara salib juga mengubah strategi perang para knightsnya. Tombak yang dulunya ditembakkan kini diganti dengan cara diserudukkan dengan taktik mount of charge yang terkenal. Knights akan duduk dengan punggung terebahkan ke badan kudanya. Senjatanya berada di sisi samping tubuhnya dan diarahkan ke atas. Dengan bersandar pada badan kuda, maka tombak ini akan siap diserudukkan dengan kuat karena tenaga knights akan terbantu dengan hentakan badannya pada badan kuda. Mount of charge ini berhasil memukul mundur jauh para tentara muslim.
Salahudeen menyadari bahwa kecepatan gerak pasukannyalah yang harus ditingkatkan. Gelombang serangan harus dibentuk dengan cepat sehingga tentara salib tak sempat merusak konsentrasi gelombang serangan. Keunggulan daya tahan tubuh dan kelincahan tentara muslim di gurun pasir banyak memberi keuntungan dibanding kondisi pasukan salib yang berbaju perang tebal dan berat. Salahudeen dengan disiplin melatih pasukannya. Dengan berdasar pada arti jihad itu sendiri, yaitu perjuangan sepenuh tenaga di jalan Allah, Salahudeen menggembleng pasukannya.
Salahudeen menyadari bahwa tanpa persiapan dan taktik yang jitu, muslim tak akan bisa menang. Berdasar pada surat Al Anfal ayat 60 yang berbunyi "Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang2 selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah Mengetahuinya"*1. Juga berdasar pada ayat dalam surat At Taubah ayat 16 "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang2 yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman setia selain Allah, RasulNya dan orang2 yang beriman. Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan". Salahudeen berkonsentrasi menyiapkan pasukannya. Disertai keikhlasannya untuk bersunggung2 berjihad di jalan Allah.
Seorang pujangga, Al Mutanabi membuat syair untuk menggambarkan Salahudeen :
Hardship always come to those who have the ability to endure them
Just as the good quality are to be found in the honoured people
A minor thing may seen great in the eyes of a minor person
Just as a great thing seems minor in the eyes of a great person
Salahudeen, seorang raja yang penuh kasih sayang di hatinya namun tegas, berani dan cerdas dalam mengambil keputusan2nya. Subhanallah...
7. Apakah semua Nasrani benar2 ingin menghancurkan muslim?
Jawabnya tidak. Pengen tahu selanjutnya? Ditunggu yaa...capek ngetik masihan *ppffiuuhh...*
Melbourne, 27 Sept 2009
Salam
*1. Kelanjutan dari ayat ini menurut saya menunjukkan indahnya Islam. Ayat 61 surat Al Anfal berbunyi "Tetapi jika mereka condong pada perdamaian, maka terimalah dan bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui". Saya masih sangat percaya, Islam agama damai...

The Awakening, munculnya pemimpin2 muslim yang tangguh.
Kini Jerusalem telah dikuasai tentara salib dan muslim berada di bawah kekuasaan mereka. Pihak Nasrani mendirikan 4 negara di daerah yang sebelumnya dikuasai muslim, yaitu Edessa, Antioch, Tripoli dan Jerusalem. Perang Salib I telah usai dengan kemenangan di pihak Nasrani.
5. Bagaimanakah perjuangan Muslim melawan Nasrani?
Setelah pada tahun 1100 M Nasrani menduduki Jerusalem, maka umat Islam mulai berbenah. Dimulai dengan munculnya seorang tokoh besar Imadudeen Zengi atau Lion of Mosul yang merupakan raja Syria. Dia adalah keturunan Turki berkulit gelap. Pembentukan jiwa kepemimpinan Imadudeen dimulai saat dia menjadi bagian dari pasukan Ibn Khassab (ulama yang mencabuti tanda salib di masjid2). Dia adalah seorang muslim yang taat, disiplin dan berpendirian kuat. Dia membentuk pasukan muslim yang kuat, disiplin dan tangguh. Dia menghindari foya2 dan menolak keras alkohol. Pasukan Imadudeen sangat mencintai panglimanya ini.
Khalifah di Baghdad meminta bantuan kepada Imadudeen untuk membantunya melawan tentara salib. Namun sayang perjuangan Imadudeen kali ini masih belum membuahkan hasil. Dia bahkan hampir terbunuh di sebuah pinggir sungai saat keluarga Ayubi dari seberang sungai berhasil menyelamatkannya. Di sinilah awal mula kerjasama keluarga Zengi dan Ayubi dalam melawan Nasrani. Selanjutnya Imadudeen berusaha merebut kembali Edessa, yang menjadi penghubung antara Aleppa dan Mosul. Imadudeen mencoba menawarkan perdamaian kepada Raja Edessa saat itu, namun sang raja menolak. Tahun 1144 M, Imadudeen menyerang Edessa dengan cara membuat terowongan bawah tanah untuk bisa masuk ke kota Edessa. Imadudeen berhasil menguasai Edessa. Dia membunuh semua tentara salib di kota itu. Edessa dapat direbut. Kini Mosul dan Aleppa terhubung kembali. Hal ini membangkitkan kembali semangat kaum muslim. Sementara tentara salib merasakan adanya ancaman dan mulai bersiap menyiapkan perang salib II.
Pelajaran yang dapat diambil dari perjuangan Imadudeen adalah bahwa dia mulai membenahi manajemen militernya. Melatih dengan sungguh2 tentaranya. Imadudeen juga berhasil mendidik anak2nya akan pentingnya perjuangan Islam ini. Namun Imadudeen terbunuh pada tahun 1146 M. Lagi2 kelompok Habsyisyi (atau Assassin) berhasil membunuh Imadudeen yang dianggap membahayakan kekuasaan Habsyisyi.
Islam kembali kehilangan pemimpin. Saat itulah muncul kemudian Nurudeen Zengi, anak laki2 Imadudeen. Nurudin Zengi bersepakat dengan saudaranya Syaifudeen Zengi bahwa Nurudeenlah yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan ayahnya. Nurudeen akhirnya berkuasa di Edessa. Joscelyn, seorang panglima tentara salib berusaha merebut kembali Edessa, namun usaha ini gagal. Nurudeen mulai membangun umat Islam. Dia mulai mereformasi umatnya. Menurut Ibn Athir, seorang sejarawan, Nurudeen berkarakter seperti Umar bin Khattab, dia lelaki yang sholeh, pecinta sunnah Rosul dimana dia rajin belajar hadist, selalu didampingi ulama2 dan panglima2nya yang kerap memberi masukan padanya. Di waktu senggangnya dia minta para ulama mengajarkan hadist padanya. Jika dia mendengar lafal adzan yang salah, maka dengan segera dia akan membenarkannya. Dia membawa pedang selayaknya Nabi membawa pedang, demikian akhirnya dia mencontohkan pada pasukannya. Dia juga raja yang sederhana, rendah hati, adil, kuat dan sehat.
Nurudeen juga menekankan pada istrinya bahwa dia adalah pengelola uang rakyat, bukan pemiliknya. Di sini dia menempatkan diri sebagai pelayan umat, bukan sebagai pengambil keuntungan dari umat. Saat istrinya menangis lantaran tertidur sehingga melewatkan sholat malamnya, Nurudeen memerintahkan pasukannya untuk membunyikan tanda di tengah malam sehingga orang2 bisa terbangun dan melaksanakan sholat malamnya. Selain membangun sisi militer, Nurudeen juga berusaha mencerdaskan umatnya. Dia percaya bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan generasi muda yang sholeh dan cerdas. Dia membangun sekolah2 dan sarana kesehatan. Nurudeen sangat berkomitmen untuk melayani umatnya. He took care of his ummah. Subhanallah...
Salah satu doa Nurudeen yang terkenal adalah doanya saat pasukannya di ambang kekalahan. Di antara pasukannya ada seorang ulama yang bermimpi bertemu pasukan lain. Salah satu anggota pasukan itu kemudian berkata kepada ulama ini "Katakanlah pada Nurudeen, Allah telah menjawab doanya". Selanjutnya ulama ini menghadap Nurudeen dan menceritakan mimpinya. Nurudeen tak serta merta percaya pada orang tersebut. Dia bertanya "Coba kau katakan, apa yang kuucapkan dalam doaku?". Orang itu ragu untuk mengatakan doa Nurudeen, namun dia akhirnya berkata "Engkau berdoa, 'Ya Allah, buatlah kemenangan ini kemenangan agamaMu. Siapakah aku ini? hanyalah seorang anjing Mahmud'". Sang ulama sebenarnya enggan menyebut rajanya anjing (red : Mahmud adalah nama lain Nurudeen) namun demi kebenaran mimpinya dia menyebut kata anjing. Nurudeen menunjukkan kerendahan hatinya di hadapan Allah dengan menyebut dirinya sendiri seorang anjing Mahmud yang tak berharga dibanding kebesaran agama Allah. Dia berdoa agar kemenangan peperangan ini bukan untuk kemenangan dirinya namun kemenangan agama Allah.
Menyadari adanya ancaman dari Nurudeen, maka Eropa Barat kembali mengirimkan pasukannya. Di bawah pimpinan Loius dari Perancis dan Conrad dari Jerman, pasukan salib II mulai bergerak menuju Jerusalem. Dalam perjalanannya kali ini tentara salib berhasil dilemahkan oleh pasukan muslim. Damascus yang takut akan gerakan Nurudeen Zengi bersekutu dengan tentara salib di Jerusalem. Namum menyadari kekuatan dan kebijaksanaan Nurudeen akhirnya Damascus menyerahkan kekuasaan negeri ini ke tangan Nurudeen. Nurudeen berhasil menyatukan beberapa kerajaan Islam.
Tentara salib kemudian berhasil masuk ke Damascus. Di sini mereka berperang dengan tentara muslim. Salah satu peserta perang ini adalah seorang hakim dan ulama yang sudah cukup tua Al Findalawi. Walaupun tua namun dia berjuang dengan gigih dan akhirnya mati syahid. Dengan semangat baja, tentara muslim terus melawan tentara Salib. Dan dalam 4 hari tentara salib bisa dikalahkan.
Di sisi lain, Najmudeen Al Ayubi dan adiknya Asad al Din Shirkuh (sering disebut Shirkuh) terusir dari Tikrit karena suatu fitnah. Dalam perjalanannya melarikan diri dari Tikrit, Najmudeen yang adalah ayah Salahudeen dan adiknya diselamatkan oleh dinasti Zengi. Shirkuh kemudian menjadi tangan kanan Nurudeen Zengi.
Dalam proses perjuangan Nurudeen, Shirkuh diperintahkan oleh Nurudeen untuk membantu pasukan Islam di Mesir yang sedang melawan sesama muslim yang bersekutu dengan tentara salib. Shirkuh menempuh jarak yang cukup jauh dengan jalan memutari Jerusalem supaya bisa selamat sampai di Mesir tanpa diketahui tentara salib di Jerusalem. Di dalam proses inilah Salahudeen yang lahir dan besar di Damascus mulai belajar teknik perang dan kepemimpinan saat ikut berperang dengan pamannya di Mesir melawan muslim Fatimide yang bersekutu dengan tentara salib.
Di Mesir, Salahudeen mulai memimpin pasukan. Oleh pamannya dia ditempatkan di bagian tengah pasukan di perang Ashmunen tahun 1167 M. Dia harus menjebak musuh dengan pura2 melemah dalam perang sehingga akhirnya berhasil menarik pasukan musuh ke tengah2 pasukan muslim. Setelah pasukan musuh berada di tengah2 dua sayap pasukan muslim, Salahudeen harus berbalik 180 derajat menyerang balik musuh. Taktik ini dilakukan karena para knights yang berketrampilan perang tinggi berada di bagian belakang pasukan. Dengan tertariknya pasukan musuh di tengah2 pasukan muslim, maka para knights juga akan terjebak. Dengan demikian maka seluruh pasukan musuh bisa dikalahkan.
6. Siapa dan bagaimanakah kepemimpinan Salahudeen?
Seperti tersebut di atas, Salahudeen adalah seorang pemimpin hasil peleburan dua keluarga besar Ayubi dan Zengi. Di bawah didikan Nurudeen dan pamannya Shirkuh, Salahudeen menjadi pemimpin yang tangguh. Selepas kemenangan di Ashmunen, Shirkuh meninggal, demikian juga dengan Nurudeen. Putra Nurudeen meninggal dalam usia muda juga sehingga akhirnya Salahudeen kini yang memegang tampuk kekuasaan. Dibesarkan oleh teladan yang baik, Salahudeen terbentuk menjadi raja yang sholeh, cerdas, tegas, disiplin dan jitu dalam menyusun stategi perang.
Kekuatan yang dimiliki Salahudeen adalah keberaniannya bersikap sekaligus keikhlasannya. Dia menyadari bahwa posisinya sebagai raja Mesir sangatlah kuat dibanding raja2 kerajaan Islam lain dimana Mesir dekat posisinya dengan Jerusalem. Mesir juga sebuah kerajaan yang kaya. Di Mesir Salahudeen sebenarnya menghadapi bahaya ancaman musuh sekaligus serangan penyakit dan kelaparan. Namun begitu dia bersikukuh untuk menyatukan kerajaan2 Islam yang lain. Dia mengirimkan surat kepada raja2 Islam yang lain. Dalam surat ini dia menyatakan bahwa dialah penerus Nurudeen sekaligus menghimbau raja2 lain untuk bersatu mendukungnya. Raja2 lain menghormati Salahudeen dan bergerak bersama di bawah pimpinan Salahudeen. Syria dan Mesir kini dikuasai oleh Salahudeen.
Selain keberaniannya itu, Salahudeen juga seorang raja yang penuh keikhlasan. Dia menyadari bahwa kekuatan iman kepada Allah adalah senjata yang sangat kuat. Kepercayaan akan kebesaran Allah akan membantu terbentuknya jiwa2 pejuang Islam yang kuat dalam jihadnya. Salahudeen menyadari bahwa pasukan salib telah memahami strategi perang muslim. Taktik serangan gelombang muslim telah bisa dibaca oleh musuh sehingga musuh mampu mencegah terbentuknya konsentrasi prajurit muslim yang bersiap membentuk gelombang2 serangan. Karena konsentrasi yang terpecah ini maka gelombang serangan muslim tak bisa terbentuk. Tentara salib juga mengubah strategi perang para knightsnya. Tombak yang dulunya ditembakkan kini diganti dengan cara diserudukkan dengan taktik mount of charge yang terkenal. Knights akan duduk dengan punggung terebahkan ke badan kudanya. Senjatanya berada di sisi samping tubuhnya dan diarahkan ke atas. Dengan bersandar pada badan kuda, maka tombak ini akan siap diserudukkan dengan kuat karena tenaga knights akan terbantu dengan hentakan badannya pada badan kuda. Mount of charge ini berhasil memukul mundur jauh para tentara muslim.
Salahudeen menyadari bahwa kecepatan gerak pasukannyalah yang harus ditingkatkan. Gelombang serangan harus dibentuk dengan cepat sehingga tentara salib tak sempat merusak konsentrasi gelombang serangan. Keunggulan daya tahan tubuh dan kelincahan tentara muslim di gurun pasir banyak memberi keuntungan dibanding kondisi pasukan salib yang berbaju perang tebal dan berat. Salahudeen dengan disiplin melatih pasukannya. Dengan berdasar pada arti jihad itu sendiri, yaitu perjuangan sepenuh tenaga di jalan Allah, Salahudeen menggembleng pasukannya.
Salahudeen menyadari bahwa tanpa persiapan dan taktik yang jitu, muslim tak akan bisa menang. Berdasar pada surat Al Anfal ayat 60 yang berbunyi "Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang2 selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah Mengetahuinya"*1. Juga berdasar pada ayat dalam surat At Taubah ayat 16 "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang2 yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman setia selain Allah, RasulNya dan orang2 yang beriman. Allah Maha Teliti atas apa yang kamu kerjakan". Salahudeen berkonsentrasi menyiapkan pasukannya. Disertai keikhlasannya untuk bersunggung2 berjihad di jalan Allah.
Seorang pujangga, Al Mutanabi membuat syair untuk menggambarkan Salahudeen :
Hardship always come to those who have the ability to endure them
Just as the good quality are to be found in the honoured people
A minor thing may seen great in the eyes of a minor person
Just as a great thing seems minor in the eyes of a great person
Salahudeen, seorang raja yang penuh kasih sayang di hatinya namun tegas, berani dan cerdas dalam mengambil keputusan2nya. Subhanallah...
7. Apakah semua Nasrani benar2 ingin menghancurkan muslim?
Jawabnya tidak. Pengen tahu selanjutnya? Ditunggu yaa...capek ngetik masihan *ppffiuuhh...*
Melbourne, 27 Sept 2009
Salam
*1. Kelanjutan dari ayat ini menurut saya menunjukkan indahnya Islam. Ayat 61 surat Al Anfal berbunyi "Tetapi jika mereka condong pada perdamaian, maka terimalah dan bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui". Saya masih sangat percaya, Islam agama damai...

gambaran kuda para tentara Salib. photo taken from http://static.mmo-champion.com/mmoc/images/news/2009/july/mount_10072_3.jpg
RSS Feed
Twitter
Tuesday, April 22, 2014
Unknown
Posted in
0 comments :
Post a Comment