Showing posts with label Pendidikan Bermakna. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Bermakna. Show all posts

Monday, April 21, 2014

oleh: Indah Widiastuti

Langkah-langkah kaki kami berderap menyusuri De Carle st menuju Moreland rd. Celoteh riang, canda ringan dan senyum mengembang mengiringi ayunan kaki kami. Panas terik matahari tak membuat kami mengeluh. Derai hujan tak membuat kami surut melangkah.

Kami tinggalkan sejenak kenikmatan bermain di playground. Kami tinggalkan serunya main catur bersama Simon. Kami tinggalkan asyiknya menyanyi bareng di Performing Arts room.

Kami langkahkan kaki menuju tempat kami diijinkan bersujud kepada-Mu. Menuju barisan yang lurus mengikuti sunnah Rasul-Mu. Menuju majelis mulia melantunkan doa pada-Mu. 

Mungkin saat ini kaki kecil kami belum mampu melangkah panjang. Tapi Insya Allah saat dewasa nanti, kaki ini yang membawa kami menjelajah dunia. Insya Allah kaki ini yang membantu kami mencari tempat-tempat sujud yang akan bersaksi di yaumul hisab. Dan Insya Allah kaki ini pula yang akan meringankan langkah kami menuju jalan ke surga-Mu, ya Allah


Hawthorn, mengenang 2 term sholat duhur bersama anak-anak sholeh di Moreland Primary School.


Oleh: Pratiwi Retnaningdyah

Dalam satu tahun terakhir ini para pelaku pendidikan di tanah air ramai membahas implementasi Kurikulum 2013. Pro dan kontra mewarnai obrolan di berbagai milis dan tulisan di media massa. Ada yang mengatakan bahwa kurikulum baru ini 'mengantarkan siswa ke surga' karena saking saratnya muatan etika dan budi pekerti di dalam sebagian besar kompetensi dasar. Sikap-sikap yang banyak disebut antara lain adalah jujur, peduli, patuh, bertanggung-jawab, proaktif, responsif, dan lain-lain. 

Bahwa pendidikan karakter sangat penting mewarnai proses belajar mengajar, tidak ada yang menyangkal. Namun seringkali kita, para pendidik, lupa bahwa pemilihan materi dan metode pembelajaran yang kita gunakan sebenarnya amat penting untuk menanamkan budi pekerti. Saya mempertanyakan seberapa perlu sebuah kurikulum menyebutkan sederetan karakter untuk dicapai dalam daftar kompetensi dasarnya. Dilihat dari kacamata orang awam saja, susah membayangkan bagaimana cara mengukur pencapaian sikap-sikap luhur di atas. Namun anggap saja ini sebuah kerangka yang bagus. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa upaya pelaku pendidikan memastikan bahwa kerangka itu diterjemahkan dalam materi dan proses belajar mengajar.  


Ada beberapa hal menarik saat saya membaca draft kurikulum 2013, terutama untuk tingkat SMA/MA. Di mata pelajaran Sejarah Indonesia, misalnya, berkali-kali disebutkan Kompetensi Dasar (KD) "Berlaku jujur dan bertanggung-jawab dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran sejarah." Kira-kira kalau kita tanyakan makna KD ini kepada 10 guru, apakah kita akan memperoleh interpretasi yang senada? Apakah ini berarti siswa tidak mencontek, tidak lirak-lirik, tidak mau menerima bocoran kunci jawaban pada ujian apapun? Ataukah ini bisa diartikan bahwa siswa bisa jujur dalam mengungkap kebenaran fakta sejarah, meski mungkin versinya berbeda dari buku teks? Apakah gurunya sendiri juga jujur dan terbuka dalam menyampaikan materi dari berbagai sudut pandang, ataukah mengikuti kebenaran sejarah versi buku teks? Semakin susah pula mengukur keberhasilan KD ini bila dalam kenyataannya Ujian Nasional semakin tercoreng dengan masifnya kecurangan sistemik. Pendek kata, tidak nyambung sama sekali antara Kurikulum 2013 dengan UN, terutama bila ujian yang high-stake ini masih tetap digunakan sebagai syarat kelulusan. 


Contoh satu KD di atas menyiratkan bahwa dunia pendidikan adalah gelanggang politik budaya. Kurikulum bisa dipandang sebagai produk budaya. Dengan sendirinya, produk itu dihasilkan, direpresentasikan, diresepsi, dan diregulasi secara berbeda. Di sini kita bisa jelas melihat bahwa hubungan kekuasaanpun ikut bermain dalam dunia pendidikan, tidak hanya pada tataran kurikulum, namun bahkan pada tataran materi mana yang layak diberikan menurut versi pemerintah. Tidak ada yang salah memang, karena penguasa di manapun akan selalu berupaya untuk melakukan regulasi. Pertanyaannya berikutnya adalah, seberapa upaya guru menjadi agen yang bisa menyiasati regulasi itu. Kalau misalnya ada fakta-fakta sejarah yang disembunyikan kebenarannya di dalam buku teks, seberapa upaya guru untuk memberikan informasi yang berimbang di depan kelas? Tanpa sadar, KD yang nampaknya indah itu bisa menjadi bumerang bagi  pemerintah sendiri. 


 History is His Story after all. Sejarah adalah benar menurut versi yang mengungkapkannya.  
Ada satu pengamatan tentang pembelajaran Sejarah di SMA di Australia, yang menurut saya layak ditiru. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, saya lihat ada perbedaan mendasar di sistem pendidikan Indonesia dan Australia dalam menanamkan pendidikan karakter. Kejujuran, misalnya, bisa tercermin dari materi pelajaran Sejarah. Dua tahun lalu, saat Ganta, anak sulung saya masih di year 10 di Brunswick Secondary College, dia belajar tentang sejarah orang-orang Aborigine. Dunia tahu bahwa suku Aborigine adalah lembaran hitam sejarah Australia. Dalam materi yang diberikan, saya tidak melihat upaya guru menyodorkan sejarah dalam satu versi saja. Materi diambil dari berbagai sumber yang mewakili perjalanan sejarah, termasuk konflik dan pro-kontranya. Ada artikel di media yang mengkritisi kebijakan pemerintah, cuplikan kebijakan pemerintah, produk budaya berupa novel, film, dan lagu, yang menyuarakan jeritan suku Aborigine. Ada isu tentang bagaimana kebijakan pemerintah untuk mengintegrasikan anak-anak mixed blood (Aborigin + white race) ke white culture mainstream sebelum tahun 1960an. Namun upaya intergrasi ini dilihat sebagai upaya mencerabut anak-anak tersebut dari akar budayanya. Ada gambaran tentang perlakuan diskriminatif birokrasi terhadap orang-orang Aborigine. Tersaji pula perubahan kebijakan pemerintah Australia setelah tahun 1970an dengan memberikan prioritas terhadap Aborigine dalam hal akses pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang lain. Saya ikut menikmati hampir semua materi pelajaran Ganta. Ikut menonton film Rabbit-Proof Fence tentang the Stolen Generation in Australia (highly recommended), dan melihat rekaman video Ganta dan teman-temannya menyanyikan lagu bertema Aboriginal identity. Kesan saya: ada semangat kejujuran yang jelas dalam mengajarkan sejarah hitam bangsanya sendiri, tidak malu menunjukkan kesalahan bangsa, namun disertai upaya untuk memperbaiki kesalahan masa lalu.

Dengan materi dan cara penyampaian seperti itu, ketika kemudian siswa belajar sejarah bangsa lain, yakni American slavery dan Nazi, ada perspektif berlapis yang bisa ditangkap oleh siswa, bahwa tiap bangsa punya lembaran hitam yang perlu diakui dan disertai upaya memperbaiki.

Ganta menikmati pelajaran History, meski di year 11 kemudian dia tidak memilihnya sebagai bagian dari VCE. Kata dia, belajar History di sini seperti membaca cerita, dan tidak pakai hafalan nama dan tahun. Meski tes-tes yang diberikan selalu dalam bentuk essay, dia juga cukup menikmati, karena jawaban dinilai berdasarkan pemahaman konsep dan critical and reflective thinking. 

Bagaimana dengan pelajaran Sejarah di Indonesia? Dalam banyak hal, lembaran hitam bangsa kita masih jarang diajarkan dengan semangat kejujuran. Materi yang sekiranya tidak sesuai dengan sejarah versi penguasa akan ditarik dari peredaran. Tes yang diberikan jarang sekali menggugah siswa untuk kritis. 

Dalam hal pendidikan pekerti, ada hal menarik yang saya lihat dari anak-anak sesama teman Indonesia yang duduk di Primary School.Setiap minggu selalu saja ada siswa yang mendapatkan penghargaan Pupil of the Week untuk kategori the most helpful, the most responsibledsb. Tapi saya belum pernah melihat pengumuman nilai atau ranking akademik terpampang di dinding. Dan rapotpun sebenarnya lebih dalam bentuk deskriptif, tentang kekuatan, progress, dan hal-hal yang perlu diperbaiki (tidak disebut sebagai kelemahan). Efeknya, anak merasa memperoleh penghargaan atas kemampuannya sendiri, dan tidak dibanding-bandingkan dengan temannya. Ada yang menarik dalam komentar tentang 'kekurangan' siswa. Misalnya, Ganta dinilai cukup bagus dalam menuangkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Tapi akan jauh lebih baik bila tidak terburu-buru dalam mengerjakan tugas. Saya tahu model Ganta yang suka mepet bila mengerjakan PR. Intinya sebenarnya: jangan suka menunda tugas, karena hasilnya kurang maksimal. Tapi cara penyampaian yang positif membuat siswa tetap dihargai.

Saya jadi mengingat kembali saat mengambil rapot Ganta di SMA nya di Surabaya dulu. Wali kelasnya menunjukkan nilai sikap 'Tanggung-jawab' yang cuma C, dengan wajah yang kurang ramah. Gara-garanya, ada beberapa tugas mata pelajaran yang belum dikumpulkan. Kalau tugasnya dikumpulkan, nilainya bisa diperbaiki jadi B. Pikir saya saat itu, begitu mudahnya memberikan label pada siswa. Karakter direduksi menjadi huruf A, B, C yang bisa diganti dalam waktu singkat. Agaknya terlupa bahwa label 'kurang bertanggung-jawab' masih akan melekat di benak anak meski nilai di rapot sudah diubah.

Sebagai pendidik, saya melihat banyak hal yang perlu dibenahi dalam praktek pendidikan di Indonesia. Diperlukan perubahan sistem pendidikan, namun yang lebih penting lagi, perlu perubahan revolusioner dalam proses belajar mengajar di kelas. Di sinilah interaksi guru dan siswa amat berperan dalam membentuk karakter siswa. Apakah Kurikulum 2013 akan mampu menjawab tantangan ini?
Oleh Annisa Trisdianty

Saya kerap melihat banyak cinta di setiap perjalanan. Di balik jendela angkutan umum yang saya naiki hampir setiap hari, saya melihat banyak rupa cinta itu berganti-ganti. Ia bersandar di tiang halte yang sesak pedagang. Tercecer di pinggiran jalan bersama gelandangan. Terlukis di wajah seorang ibu yang menggandeng anaknya menyebrang jalan. Terpancar di wajah bapak berseragam kusam di atas sebuah motor tua. Menyelinap di wajah kantuk para penumpang angkutan umum yang saya naiki. Bahkan terlihat pada becak tua yang merapat di bibir jalan bersaing dengan kendaraan sekitarnya yang lebih canggih.


Wajah-wajah itu dipenuhi sebuah cinta yang bagi saya, sederhana. Dan memandang wajah-wajah tersebut hampir setiap hari, membuat saya teringat bahwa cinta memang bisa membuat warna hitam sekalipun jadi tampak merah jambu. Membuat yang sunyi serasa tak sepi. Lalu membuat sesuatu akan bertahan terhadap sesuatu.

Sebuah cinta sederhana, juga saya temui berkali-kali di sekolah yang hanya bersiswakan 31 orang ini. Pada satu waktu, dua orang siswi kelas tiga, hampir setiap hari membuat karangan bunga. Mulanya, bunga itu hanya diletakkan begitu saja di meja mereka. Tapi hari berikutnya, mereka mulai tampak malu-malu memberikannya pada saya, meletakkan sang bunga di hadapan saya lalu kabur. Saya hanya tersenyum. Saya sempat berpikir, apa yang ingin mereka katakan ya? Rasanya saya seperti menunggu mereka bilang I love You.


Lain waktu saya memperhatikan guru-guru yang telah menghabiskan waktu mereka di sekolah ini hampir 2 tahun. Wanita-wanita yang luar biasa dalam membagi-bagi cintanya. Mereka adalah istri-istri yang harus mengurus kebutuhan rumah tangga, melayani suami, juga merawat dan mendidik anak dengan sepenuh hati. Tapi di sela sibuknya, mereka selalu hadir tanpa bosan ke sekolah ini. Padahal, gaji mereka hanya sekedarnya, dan seadanya. Mungkin ini juga cinta ^_^

“Gak tega sama anak-anak bu…gak tega mereka hanya main-main tanpa belajar”

Kalimat itu yang selalu terlontar dari mereka ketika saya bertanya, “Apa alasan kuat ibu berada di sini?”

Tanpa saya sadari, sekolah ini banyak menyimpan cinta sederhana dengan keberagaman bentuknya. Lewat Bu Titin, guru matematika dan IPA yang dikenal tegas ketika mengajar. Tapi ketegasan itulah yang membuat sebagian anak yang ketika diajar pelajaran IPA dan matematika oleh saya langsung protes, “ah sareng bu Titin weh…”

Melalui Bu Ucy, guru yang punya banyak sekali ide membuat berbagai macam kerajinan tangan, tapi juga jago mengajak anak-anak olahraga tiap jumat. Bersama Bu Nurul yang mampu berdekatan dengan anak-anak seperti temannya sendiri, Bu Nurul yang membuat Niko takluk dan mau mengerjakan soal. Dengan Bu Icah yang dalam tempo singkat mampu menguasai anak-anak murid kelas 2 dan mengajar tanpa canggung. Juga Bu Dyah dan Bu Nina, wanita luar biasa yang Allah kirimkan dari tempat yang tidak terduga. Yang keduanya hingga hari ini membersamai kami menjahit senyum permanen pada bibir anak-anak luar biasa SDIT RABBANI.

”Whatever you give to life, it gives back to you…”

Saya pernah membaca kalimat tersebut pada pintu angkutan umum yang saya naiki. Dulu saya hanya menyimpannya dalam catatan di ponsel saja. Tapi akhir-akhir ini saya seperti di buat tersenyum setiap membaca kalimat tersebut. Ya, apapun yang kau berikan pada hidup, ia akan kembali padamu. Mereka yang berada di sekolah ini, yang mendapat karangan bunga tanda cinta, yang dipeluk siswa saat mengingat ibunya, atau yang dirindukan ketegasannya adalah para pemilik cinta sederhana. Cinta yang sama dengan rupa-rupa wajah yang saya lihat hampir tiap hari di perjalanan Ledeng-Caheum.


Saya jadi mengingat beberapa deretan nama siswa SDIT RABBANI yang dikatakan bermasalah di sekolah sebelumnya. Niko sang pengganggu. Dikatakan nakal dan sering mengganggu teman lainnya, tapi disekolah ini ia mampu berbaik hati pada Rosma yang nilainya selalu kecil, dan menghibur Rosma sampai tertawa-tawa. Shinta yang unik. Sekolah sebelumnya mengatakan ia autis (entahlah), tapi di sekolah ini, perlahan ia mampu bersosialisasi dan menceritakan kegiatannya sehari-hari, tidak lagi berbicara kupu-kupu atau pocong. Lalu Gilang yang luar biasa. Tidak bisa membaca membuatnya di cap bodoh. Tapi lihatlah, betapa saya bahagia ketika suatu hari ia datang membawa sebuah buku dan menunjukan kemampuan membacanya yang meski terbata-bata tapi sangat lebih baik dari sebelumnya.


Saya pikir, inilah formulasi CINTA SEDERHANA itu. Kesempurnaan memberi tanpa memaksa hati untuk mendapatkan balasnya. Karena hati yang penuh cinta selalu yakin bahwa Sang Maha Cinta selalu punya cara untuk membahagiakan mereka.

Bukankah mereka yang penuh cinta akan menjadikan sekelilingnya pun penuh cinta dan bahagia? Dan guru-guru yang mendidik dengan cinta pun akan melahirkan benih-benih siswa yang juga penuh cinta, kan? 


Saya kembali mendefinisi cinta, apakah milik saya adalah juga yang sederhana? Semoga…

Sunday, April 20, 2014

1384759680282669355

Oleh: Nur Ana Sejati

Hari itu, Senin (18/11), Moreland Primary School (MPS), satu sekolah dasar (SD) di Melbourne, dikuasai merah-putih. Sebagian besar siswa-siswi, para guru, dan staf lainnya dianjurkan memakai atribut Indonesia. Anjuran yang diumumkan pada akhir sekolah pekan lalu dipertegas melalui Moreland Mail –semacam newsletter yang berisi info pekanan. Ada apa? Apakah SD yang terletak Moreland Council, satu council di negara bagian Victoria, Australia ini sudah berpindah kepemilikan ke Indonesia?

Oh, bukan itu. Moreland Primary School masih dibawah kedaulatan pemerintah Australia. Jika hari ini tampak berbeda dari biasanya, seragam biru-kuning diganti tema merah-putih atau batik, itu karena berkaitan dengan kegiatan selebrasi Indonesia. Ya, setiap term, empat term dalam satu tahun, Moreland Primary School menggilir negara-negara asal siswa-siswi yang bersekolah di SD tersebut untuk menjadi negara tema. Term 4 tahun 2013 ini Indonesia mendapatkan giliran.

Kegiatan bertajuk ‘Indonesia Special Lunch’ dengan menu salah satu sup khas Indonesia, Tekwan, menjadi lebih spesial karena pihak sekolah mendonasikan seluruh keuntungan kegiatan untuk para korban super topan Haiyan di Filipina. Wah, sungguh suatu solidaritas kemanusiaan yang luar biasa dan tentu komunitas orang-orang Indonesia yang anaknya bersekolah di Moreland Primary School secara langsung menjadi bagian dari aksi solidaritas tersebut.

Persiapan dan Hari ‘H’
Demi kepuasan semua pihak para orangtua mempersiapkan segalanya dengan baik. Semuanya diorganisasi dengan tertib dari pemilihan makanan yang akan menjadi menu ‘Indonesia Special Lunch’, masak-masak, mengatur jadwal bertugas pada hari ‘H’, hingga tugas peliputan dan pendokumentasian.

Setelah berbagai diskusi melalui pertemuan informal dan milist para orangtua, akhirnya disepakati menu makan siang adalah tekwan, sup khas asal Palembang. Nah, sebenarnya tekwan ini merupakan varian dari empek-empek Palembang meski popularitasnya belum setara. Empek-empeknya, atau biasa disebut biji tekwan, juga terbuat dari ikan yang disiram dengan kuah kaldu udang. Sayuran pelengkapnya bisa jamur kuping, benkoang, dan daun bawang. Kegiatan pengolahan bahan-bahannya telah dimulai pada Minggu, termasuk masak-masak biji tekwan.

Sebagaimana setiap senin, sekolah menyelenggarakan asembly, semacam upacara bendera meski tanpa penghormatan bendera. Sesuai dengan tema, selesai menyanyikan Australian national antheme, para siswadari prep (preparation class atau setara dengan kelas TK B) hingga grade 6 di minta maju kedepan sesuai dengan kelompok kelasnya. Sang pemandu pun menanyakan kepada siswa tersebut: What do you know about Indonesia? What do you dress up?


13847599121213311489
Ibu-ibu menyiapkan tekwan untuk makan siang di MPS

Tidak hanya siswa, orangtua murid dan guru yang mengenakan pakaian batik pun di minta pendapatnya tentang Indonesia. Beragam pendapat. Dari we are friendly and nice, Indonesia has many delicious food, Indonesia has many interesting place to visit, Indonesia has many batik and the price is very cheap hingga larangan membeli palm oil karena Indonesia dianggap membunuh para orangutan. Kemudian, dilanjutkan sebagaimana biasa dengan presentasi. Kali ini grade ¾ dengan project-nya fit for school.

Usai asembly, warga komunitas Indonesia MPS langsung menyerbu dapur dan mempersiapkan special lunch. Untunglah, biji tekwan sudah siap sehingga yang perlu dilakukan tinggal merebus kuah dan mempersiapkan kelengkapan, mengiris daun bawang dan daun sup, membersihkan bunga sedap malam, hingga mempersiapkan mangkuk dan sendok. Kalau anda masih teringat tradisi persiapan pesta jaman dulu, yakinlah anda akan mendapatinya di sini. Ya, persis seperti gotong-royong yang pernah kita dapati dua puluh tahun silam. Akrab dan guyup mempersiapkan satu persembahan Indonesia untuk siswa dan guru dari beragam latar belakang budaya.

Dan tau kah anda bahwa aroma Tekwan rupanya menerabas hingga jarak yang cukup jauh. Tak heran kalau sang Kepala Sekolah dan guru beberapa kali menyempatkan diri melihat ke dapur seolah tak sabar ingin mencicipi. Tepat pukul 12, Tekwan diantar ke setiap kelas dan siap dinikmati bersama.
Oleh: Nur Ana Sejati

Bisa jadi panasnya suhu politik penyadapan Australia masih terasa hingga saat ini. Tapi, siapa sangka kalau tari saman dan gorengan justru menjadi perekat hubungan kedua negara ini.

Kamis, 5 Desember 2013 adalah hari yang istimewa bagi komunitas Indonesia Moreland Primary School (MPS), Victoria-Australia. Ya, komunitas ini kembali mendapatkan kesempatan untuk mempersembahkan kesenian dan kuliner Indonesia dalam event ‘The Big Samba’, setelah beberapa minggu sebelumnya sempat menyajikan tekwan untuk makan siang di sekolah.

Setiap akhir tahun MPS menyelenggarakan pentas seni dan tahun ini bertajuk 'The Big Samba'. Tahun-tahun sebelumnya juga diselenggarakan event kesenian kolosal seperti sirkus, operet, dan yang lainnya. Kami yang berkesempatan untuk hadir tak henti-hentinya dibuat berdecak oleh atraksi siswa-siswa dari prep (preparation class atau setara TK B) hingga grade 6. Beberapa minggu sebelumnya sekolah memang mendatangkan seniman professional untuk melatih anak-anak hampir tiap hari.

Pertunjukan diawali dengan paduan suara anak-anak prep dan grade 1/2. Alunan I can spell, dan Leatherwing Bat terasa lebih indah saat dilantunkan bersama-sama. Sekilas seperti paduan suara biasa. Tapi, tidak bagi kami. Apalagi saat menyaksikan anak-anak Indonesia ada diantara mereka dengan kostum tari saman. Tentu saja, menjadi bagian dari masyarakat internasional adalah satu kesempatan yang luar biasa. Sekaligus, satu kesempatan untuk memberikan pemahaman dan kesan yang baik tentang Indonesia.
Makanya, ketika diminta untuk menampilkan kesenian komunitas ini memilih tari saman. 

Kalau biasanya tarian ini dilakukan oleh sepuluh orang, kali ini kurang lebih 39 anak turut berpartisipasi, termasuk dua orang anak keturunan Eropa. Jumlah yang sangat banyak, tapi sekaligus menunjukkan bahwa semua anak Indonesia di MPS ingin meramaikan event akbar ini. Lihat saja, setiap kali latihan yang di gelar di sebuah taman kota selalu ramai. Momen seperti ini juga menjadi ajang silaturahim warga komunitas. Bahkan, salah seorang guru sempat menyatakan kekagumannya dengan kekompakan komunitas ini yang bisa mengumpulkan banyak orang. Wajar saja barangkali, bagi warga di sini hal seperti ini sangat sulit dilakukan karena ikatan kekeluargaannya tidak sekuat kita di Indonesia. Makanya, pihak sekolah seolah tak sabar menanti penampilan anak-anak Indonesia. Beberapa kali mereka menanyakan rencana aksi anak-anak beserta para orang tua di The Big Samba.

Di hari H, siswa Indonesia berkostum hitam dengan memakai hiasan leher dan kain yang diikatkan di pinggang dengan ikat kepala bercorak Indonesia. Merekat terlihat begitu mencolok diantara teman-temannya. Diawali dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan posisi duduk para penari memberikan salam pembuka. Mereka terus mengikuti irama dengan gerakan-gerakan harmonis. Tepukan-tepukan yang kompak ke dada kiri dan kanan serta ke lantai membuat tarian terlihat begitu menawan. Ya, hari ini sekolah kembali dibuat terpukau oleh sajian kesenian Indonesia.
13863827101305824066
(Foto: Nur Ana Sejati)
Lain di panggung, lain di food stall. Tapi, keduanya sama-sama memikat. Sejak semula menu utama yang akan dipersiapkan adalah sate. Sebagai pelengkap kuliner Indonesia, para ibu menyajikan mendoan, bakwan, martabak, risoles, tahu isi, pempek, kue lapis dan klepon. Pertimbangan pemilihan menu adalah faktor kemudahan pembuatan. Gorengan dan kue khas Indonesia disajikan bersama dengan kue-kue lain dengan beraneka bentuk yang memikat. Hmm, siapa sangka kalau warga Australia justru menyerbu gorengan-gorengan. Bisa jadi karena mereka sudah terbiasa dengan kue-kue modern dan ingin mencoba masakan lain. Yang jelas, mereka begitu antusias dan raut muka ‘mak nyus’ terlihat saat memilih-milih gorengan dan sate.

Alhamdulillah, satu tugas terlaksana dengan baik. Saat gorengan dan tarian tak lagi menjadi seperti adanya, saat itulah ia bisa memberi arti lebih bahkan menjadi perekat ikatan dua negara sekalipun.
Oleh: Nur Afri H.N.

Mas Faqih lagi seneng-senengnya belajar tentang waktu. Sudah ada beberapa jam weker dan dinding yang rusak di tangannya. Tapi gak apalah, anggap aja itu harga buat pelajaran yang didapatnya. Agak kaget juga sebenarnya dengan ketertarikan Faqih akan hal ini. Batita gitu lho, biasanya masih suka bermain mobil, robot dan lain-lain. Sebagai orang tua pun, aku dan mas ga pernah memaksakan Faqih belajar. Buku memang kusiapkan sedari awal Faqih lahir agar kelak ketika masanya Faqih udah bisa membaca, dia ga perlu lagi bingung mendapatkan materinya, tinggal melahap ibarat kata. Kami juga perlu waktu untuk mencicil buku-buku bermutu yang di Indonesia harganya lumayan menguras kantong. Ternyata ketika tinggal di Melbourne, buku semacam itu bisa kita dapatkan dengan harga lebih terjangkau walaupun ga baru di toko barang bekas seperti Savers, Sunday Market di beberapa tempat di kota ini atau malah gratis meminjamnya dengan bergabung menjadi anggota perpustakaan. Asyik yah...

Aku berhutang budi pada buku "Jam Ajaib Kakek Berto" dari Time Life yang menjadi inspirasi awal Mas Faqih menyenangi pelajaran tentang satuan waktu. Setiap hari sebelum bobo malam, Mas Faqih akan selalu menagih buku-buku Time Life untuk 'disajikan' ke hadapannya. Kadang-kadang ketika aku sedang sibuk mengurus adiknya, Mas Faqih akan membongkar sendiri kardus buku dan mengambil buku yang diinginkannya. Lalu mencoba membolakbaliknya untuk melihat gambar berwarna atau memainkan jarum jam dan ilustrasi di dalamnya.

Maaf ya nak! Mama belum sempat membuatkan lemari.... Someday, semoga mimpi Mama memiliki perpustakaan kecil untuk keluarga juga akan menjadi mimpimu. Perpustakaan dengan gemericik air di kolam ikan mini... Generasi penerus yang mencintai buku seperti perintah pertama Rabb pada Rasul-Nya; "Iqraa".

Ada cerita lucu juga. Gara-gara hobi baru Faqih ini, jam weker di kamar kami juga turut dikreasikan. Alhasil, besoknya aku terkaget-kaget dan hampir saja telat nyampe kantor. Fuh fuh, anak lanang...... Siapa lagi yang iseng kalo bukan Faqih, hehe...

Oh iya tambahan satu lagi, karena bapaknya sekarang pulang sebulan sekali, Mas Faqih jadi tertarik belajar membaca kalender juga. Tiap waktu memanjat sofa untuk menggapai kalender yang terpajang di dinding. Mengeja huruf demi huruf lalu bertanya padaku apa artinya. Tanpa disadari, semakin banyak bertanya Faqih jadi paham bagaimana cara membaca kalender. Tak ada paksaan sedikitpun, orang tua hanya fasilitator.

Berawal dari buku yang menggugah minat baca anak, pelajaran sederhana lainnya akan mengalir. Pada akhirnya aku pun berkata bahwa belajar melalui bermain itu menyenangkan ya, Nak!
Oleh Zubaidah Ningsih AS

Tulisan ini dibuat setelah saya mengamati anak-anak Indonesia yang besar di Australia. Mencoba menelaah mengapa pendidikan di Indonesia seakan-akan gagal memproduksi anak-anak cerdas dan pintar sehingga bule-bule terasa superior dibanding kita. Juga sebagai jawaban atas pertanyaan para rekan guru di Pondok Putri Hidayatullah Batu yang berkenan mengundang saya untuk sharing pengalaman di dunia pendidikan di Australia. Semoga bisa memberi manfaat.

Belajar di Australia sedikit banyak telah membantu saya membuka mata tentang pendekatan lain di dunia pendidikan. Bulan pertama mengikuti Introductory Academic Program; sebuah program khusus yang diselenggarakan untuk menjembatani perbedaan pola pendidikan Indonesia dan Australia; cukup membuat saya sadar betapa tidak kreatifnya saya. Setelah membaca beberapa jurnal tentang perbedaan filosofi pendidikan Barat-Timur baru sadarlah saya apa perbedaan mendasar diantara keduanya.

Di pendidikan timur dikenal filosofi guru-murid sedangkan di dunia barat lebih dikenal filosofi I message.Guru-murid adalah filosofi yang menempatkan guru adalah sumber ilmu dan penentu arah pendidikan, sedangkan I message adalah filosofi pendidikan yang menempatkan murid sebagai arah pendidikan dan pelaku utama proses pendidikan. Jika di timur dikenal proses ngenger, meguru atau nyantri dimana guru, ustadz atau kyai sebagai pusat segala ilmu, maka di dunia barat ini guru hanyalah sebagai fasilitator. Muridlah yang menentukan apa-apa yang ingin dia pelajari. Berangkat dari budaya guru-murid menjadi I message itu sendiri di Australia membuat saya lumayan shock setelah menyadari betapa tidak mandirinya saya dalam menggunakan otak.

Di Australia ini saya mulai dikenalkan penentuan sikap atau pilihan yang disertai pro-kontra dengan penyusunan argumen dan telaah yang kuat untuk mendukung ide. Karena terbiasa dengan filosofi guru-murid (dimana jika menentang maka saya adalah murid yang kurang ajar :p) agak beratlah saya mengubah paradigma pengikut menjadi pemimpin. Dari yang duduk di belakang saja sambil menunggu teman lain bersuara (menunggu efek dari keberanian teman lain yang mungkin berakibat dipuji atau dicela…tidak bersuara itu lebih aman) menjadi aktor utama yang dipaksa harus bersuara. Bukannya saya bukan anak pemberani (Zubeth gitu loh..preman sekolah dari kecil) cuma yang namanya nekat di sini harus nekat yang berbasis otak. Walhasil berdarah-darahlah saya memeras otak.

Berangkat dari pengalaman pribadi yang cukup bikin shock dimana sesama pelajar di Melbourne University ini juga bilang bahwa semester pertama adalah saat-saat tersulit dimana kami dilarang berharap mendapat nilai lebih dari P (pass…asal lulus dulu), maka saya memulai petualangan saya menjelajahi dunia pendidikan barat. Karena ingin lebih mengenal dari basic pendidikannya, maka fokus saya adalah pendidikan anak-anak. Agak berat saya masuk ke sekolah-sekolah karena saya memang tidak melakukan riset di sekolah-sekolah. Jadi saya mencoba mengamati dari jalur lain. Mengajar mengaji di sore hari sepulang anak-anak sekolah, ini cara yang saya pakai untuk mengenal pendidikan di sana. Selain itu mengikuti kuliah teman2 saya yang mengambil bidang pendidikan, berdiskusi dengan teman yang langsung melakukan riset terhadap anak-anak dan juga berdiskusi dengan orang tua murid sering saya lakukan. Dengan harapan saya bisa belajar dari mereka.

Dan petualangan itu saya mulai. Mengajar ngaji anak-anak di sini adalah hal yang cukup menantang. Seorang anak muslim keturunan Indonesia yang ikut orang tuanya tugas belajar di Australia ternyata terbentuk menjadi pribadi yang unik. Mereka sulit berbahasa Indonesia, sehingga saya terpaksa tetap berbahasa Inggris dengan konsekuensi banyak dibenarkan oleh mereka yang lebih jago. Plus mereka hidup di daerah yang heterogen dimana mereka harus berinteraksi dengan non-muslim. Dan dunia anak-anak adalah dunia polos yang penuh pertanyaan lugu namun sangat dalam maknanya. Maka sering saya mendapat pertanyaan yang membuat saya terdiam. Neraka katanya panas, memang berapa suhunya? Mengapa kami tidak boleh makan babi? Saya tidak percaya cerita Nabi-nabi, mana ada orang bisa bicara dengan hewan? Kamu yakin kamu tidak membuat-buat cerita nabi-nabi? Mengapa tak ada nabi setelah Nabi Muhammad? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang cukup membuat saya mempertanyakan lagi filsafat keimanan saya.

Di samping mempertanyakan content keagamaan dalam kegiatan mengaji itu, saya mengamati betapa liberalnya pemikiran anak-anak di sini. Mereka berani mempertanyakan apa-apa yang mereka rasa tidak rasional dengan tidak takut dipersalahkan, ditertawakan atau dikecam. Tak jarang saat saya menyampaikan materi mereka mengacungkan tangan, menunggu giliran dipersilahkan bicara dan tidak takut bertanya, menyampaikan opini, membantah atau bahkan mengeluh karena kelas terlalu lama dan membosankan (wuuppss…I think I failed to be a fun teacher :p). Hmm..cukup berbeda dengan saya yang dulu ngaji cuma bisa diam dan menerima apa saja. Belajar membaca Al Quran sampai bisa membaca secepat-cepatnya. Semakin cepat engkau membaca semakin berimanlah engkau. Banyak-banyak menghapal entah apa yang saya hapalkan… (parameter yang absurd untuk mengukur keimanan :D)

Selain mengamati pola pikir anak-anak yang liberal, saya juga mengikuti kuliah di mata kuliah Environment Education bersama Devin. Dalam kuliah itu dikenalkan adanya penggunaan obyek untuk menstimulasi ekspresi anak didik. Konsep yang dikembangkan dalam metode ini adalah dengan membiarkan anak didik mengekspresikan makna obyek tertentu dalam proses belajarnya. Dan yang lebih menarik lagi guru bisa mengembangkan daya kritis anak dengan membantunya terus bertanya tentang obyek tersebut. Learning through questions adalah konsep yang bisa dikembangkan untuk mengembangkan daya kritis anak sekaligus membangun pengetahuan seorang anak akan suatu obyek yang dekat dalam kesehariannya. Menurut saya proses belajar ini bisa membawa anak mempertanyakan hal-hal dalam kesehariannya yang tentu saja sangat membantunya memahami lingkungan di sekitarnya.

Selain konsep learning through questions ini, saya juga mengenal program Show and Tell yang banyak dikembangkan di sekolah-sekolah dasar di sini. Dalam program ini anak didik diharapkan membawa sebuah benda dan berbagi cerita tentang benda ini di depan teman-temannya. Dia bisa mengekspresikan pendapatnya akan benda tersebut sekaligus berbagi informasi mengenai benda ini. Keuntungan dari dua program ini adalah adanya pengembangan self actualization (aktualisasi anak didik) dan appreciation value (penghargaan pada anak didik).

Dua program ini berdampak pada pola pikir anak didik maupun pola pikir guru atau orang tua. Di sini banyak dikembangkan filosofi I message, pola pembelajaran dimana anak didik yang menentukan arah pembelajarannya dan guru atau orang tua menjadi fasilitator. Di sini juga dikembangkan guru atau orang tua tidak lagi menjadi satu-satunya pusat informasi tetapi menjadi fasilitator yang diharuskan lebih menghargai, memberi ruang dan tentu saja lebih open minded. Orang tua dan guru diharapkan tidak egois, mau mengakui kekurangan dan terus mendukung anak2 dalam proses pembelajaran ini.

Pertanyaan yang muncul sekarang bisakah pendidikan Indonesia dibawa ke arah sana? Jawaban saya tentu saja bisa. Memang pendidikan Indonesia ditengarai masih terlalu padat dengan kungkungan standarisasi sehingga anak didik bahkan tak punya waktu untuk mengaktualisasikan dirinya. Kurikulum yang padat namun ternyata gagal membentuk pribadi2 yang mampu berpikir mandiri dan kritis dianggap gagal membangun sisi afeksi (perasaan) walaupun sukses dalam sisi kognisi (intelegensia). Kegagalan pendidikan ini membuat pendidikan Indonesia dianggap gagal membentuk kepribadian bangsa. Namun apakah kita tak bisa melakukan sesuatu untuk hal ini?

Saya pribadi bilang tentu saja bisa. Sebagai salah satu perangkat pendidikan negara, pengalaman belajar di luar negeri tentu saja akan mempengaruhi pandangan saya akan cara saya mengajar. Jika memang budaya pengembangan I message dianggap belum dikembangkan di Indonesia, maka bisa-bisa saja sekarang saya mencoba mengembangkannya. Sebagai orang tua pun saya rasa tidak kurang jalan kita untuk bisa membantu pengembangan jiwa kritis anak-anak. Pendidikan sekolah bukan satu-satunya wadah pendidikan anak-anak. Orang tua tetap memegang peranan penting dalam pengembangan jiwa kritis anak yang akan membantu pembentukan jiwa belajar sampai akhir hayat anak. Bertebarannya buku-buku sastra, buku-buku sains maupun alat bantu ajar lain bisa dimanfaatkan orang tua untuk membantu anak-ananya di rumah.

Jika fasilitas ini dirasa mahal, maka internet bisa menjadi salah satu jalan untuk membantu. LIPI telah menyediakan satu situs khusus e-book dimana ratusan buku bisa di donlot gratis. (klik http://www.buku-e.lipi.go.id/). Untuk ilmu pengetahuan alam, orang tua bisa saja mengarahkan anak anda mengunjungi website http://www.dynamicscience.com.au/ yang memberi warna lain penyampaian materi2 sains. Jika anda ingin belajar tentang alat-alat sekitar anda sehingga bisa dengan lancar dan pe de membantu anak-anak anda belajar, klik http://www.howstuffworks.com/ yang merupakan website untuk mengetahui bagaimana prinsip kerja alat2 di sekitar kita.

Jangan lupa pendidikan sastra untuk anak-anak anda. Buku-buku cerita yang menceritakan pesan moral dapat anda gunakan untuk menutupi kekurangan pembangunan sisi afeksi anak-anak yang mungkin belum tercukupi di sekolah. Situs ini http://www.pacific.net.id/content/Dongeng/bobo/index.html bisa anda buka untuk mengunduh cerita-cerita klasik dari majalah Bobo yang banyak membawa pesan moral untuk anak-anak. Blog dan website para penulis yang sekarang bertebaran bisa anda gunakan untuk mencari cerita-cerita berkualitas untuk menyiapkan anak anda belajar dari cerita2 penggugah hati.

Jangan lupa perpustakaan umum bisa menjadi wadah anda belajar menggunakan buku-buku gratis, baik buku sastra, sains, religi maupun popular. Perpustakaan kota Malang adalah salah satu perpustakaan umum favorit saya dimana tersedia ruang anak-anak sampai ruang pameran yang bisa digunakan untuk pengembangan learning society (masyarakat belajar).Silahkan kunjungi web ini http://digilib.malangkota.go.id/ untuk mengunjungi perpustakaan ini lewat layar komputer anda. Semoga tiap2 PEMDA mulai mengembangkan fasilitas ini. Jika kota anda tak mempunyai fasilitas ini, bergabunglah dengan komunitas buku yang mulai berkembang. Dik Doang telah memprakarsai adanya komunitas buku yang mungkin bisa anda jadikan sumber inspirasi pengembangan komunitas buku. Silakan klik http://www.rumahdunia.net/wmview.php?ArtID=1343 untuk melihat kegiatan peningkatan literasi masyarakat. Komunitas 1001 Buku juga bisa menjadi rekanan anda dalam membentuk perpustakaan swadaya di lingkungan anda.

Satu praktek menarik di Australia adalah bahwa sebuah sekolah mempunyai motto yang menarik. Motto ini diharapkan bisa mewarnai sikap anak didiknya. Motto ini misalnya honesty, integrity, responsible and getting along. Nilai-nilai ini akan selalu dikembangkan dalam segala proses belajar mengajar. Pengikutsertaan orang tua dalam program2 sekolah juga menjadi satu kunci penting berhasilnya proses penanaman nilai-nilai ini. Untuk lebih jelasnya silahkan mengunjungi web http://www.morelandps.vic.edu.au/. Web salah satu SD sebelah rumah saya di Melbourne. Silahkan dibaca program2nya dan mari dikembangkan program2 yang mungkin bisa anda realisasikan di lingkungan anda.

Saya tetap optimis bahwa pendidikan Indonesia akan semakin bagus. Tak benar jika bule selalu superior dibanding kita. Banyak sisi pendidikan Indonesia yang menurut saya banyak membantu saya menjadi orang yang lebih baik. Saya pribadi merasakan pentingnya religi dalam mendasari proses belajar saya. Saya tidak bisa mengklaim bahwa religi memang satu2nya kesuperioran pendidikan Indonesia karena ditengarai pendidikan agama negara kita juga gagal :p. Namun saya pribadi merasakan inilah nilai penting pendidikan Timur yang saya banggakan. Saat para teman lab saya telah kehilangan alasan kenapa mereka harus terus menerus belajar ketika alasan material telah tak lagi bisa membantu, maka saya merasa tenang ketika saya merasakan semangat ibadah padaNya menjadi alasan saya tetap belajar. Nilai-nilai agama untuk selalu menguak misteri alam sebagai jalan mengenal kebesaranNya plus kewajiban untuk selalu mengamalkan ilmu adalah semangat yang saya syukuri ada dalam dasar semua proses belajar saya.

Pendidikan sangat krusial untuk membentuk Indonesia yang lebih baik, dan anda akan selalu bisa berpartisipasi di dalamnya. Be creative and together we’ll make a better Indonesia!!!

Zubeth

P.S.: Tulisan ini dibuat ketika saya masih studi S2 di the University of Melbourne. Sampai saat in jabatan sampingan tetap sama: Kepala sekolah TPA Brunswick