oleh : Zubaidah Ningsih AS
Tulisan ini merupakan laporan dari kuliah
Syeikh Alaa dari Kanada, Syeikh Tawfique dari Melbourne, Syeikh Aslam
Husein dari Brisbane dan Syeikh2 yang lain. Dan tentu saja beliau2 ini sudah
menikah :D. Istri mereka semua cuma satu btw hehehe...lom ada yang
berpoligami sampai saat ini (setau saya sih :p).
Now, tentang perbedaan lelaki dan perempuan, yang biasanya menjadi sumber konflik. Bagaimana menyikapinya? Ok, kita bahas dulu apa sebenarnya perbedaan dan persamaan kedua gender ini. Persamaan kedua gender ini, mengamini pendapat ibu Aminah Wadud, adalah kita semua khalifah di bumi ini. Punya kedudukan yang sama di mata Allah. Bahwa tak ada yang membedakan kualitas manusia kecuali derajat takwanya. Jadi semua punya hak dan kewajiban yang sama untuk berlomba2 menyenangkan Allah. Namun pada prakteknya, memang banyak perbedaan diantara wanita dan pria. Tak bisa dipungkiri wanita tak bisa sepenuhnya menjadi pria. Pun sebaliknya pria tak bisa menjadi wanita sepenuhnya.
Kalo ditilik dari proses penciptaannya, Adam diciptakan dari debu sedangkan Hawa dari tulang rusuk Adam (pernyataan ini mendapat tentangan dari beberapa pihak contohnya ibu Aminah Wadud, namun untuk memudahkan maka tidak saya bahas di sini karena kita tdk sedang bicara hirarki manusia, tapi perbedaan karakter). Debu sendiri dalam bahasa Arab bisa berarti "kerja". Di sini Adam mewakili seseorang yang memakai "perbuatan" sebagai cara dia berkomunikasi. Sedangkan Hawa lebih memakai "kemampuan verbal" untuk berkomunikasi.
Dari sini ada perbedaan mendasar, satu berkomunikasi lewat perbuatan tanpa banyak kata, satu berkomunikasi lewat kata2. Kegagalan memahami cara berkomunikasi membuat konflik seakan tak pernah lepas dari kehidupan suami-istri. Jadi, kelancaran komunikasi ini lah yang patutnya kita dahulukan dengan mencoba memahami cara berkomunikasi masing2. Misal suami jarang bilang I Love You, tapi sering membelikan perhiasan atau pakaian, membawa nafkah untuk keluarga. Istri akan merasa suaminya kurang cinta karena jarang bilang cinta, sedangkan suami merasa sudah mencintai karena sudah bekerja mencari nafkah. Nah, di sini ada kebuntuan komunikasi dimana lelaki tak bicara sedang perempuan tak memahami perbuatan yang sudah dilakukan suaminya. Maka solusinya "bapak2 belajarlah bilang I Love You, cuma 3 kata kok...gampang. Ibu2...pandai2lah mendengar yang tak dikatakan :D".
Perbedaan2 yang lain yang disampaikan syeikhnya sebenarnya hampir sama dengan isi buku Men are from Mars, Women are from Venus. Misalnya, bahwa pria itu monotasking-woman multitasking, pria itu bekerja dengan otak kiri (bekerja dengan angka, tahap demi tahap) - wanita dengan otak kanan (fantasi, kreasi), pria terbiasa mencari solusi - wanita lebih senang sekedar berbagi atau perbedaan2 lainnya. Jadi saya rasa rekan2 bisa membaca buku tersebut untuk lebih jelasnya.
Lalu apa yang menarik dari konferensi kali ini? Sekali lagi bahwa risalah Nabi dan sahabat2 yang digunakan untuk kita berkaca dan berkontemplasi. Bagaimana contoh2 dari shirah Nabi dipelajari untuk kita belajar. Kita mulai satu persatu ya :
1. wanita kebanyakan bersifat pencemburu
Dulu saya kira istri2 Nabi itu wanita2 tanpa cela. Akhlaknya bagus2. Memang sebagian besar terkenal dermawan, baik hati, setia dan pejuang agama, namun ada satu sifat yang juga ternyata melekat pada mereka. Istri Nabi ternyata juga adalah wanita2 pencemburu. Ada satu riwayat dimana Nabi ditegur oleh Allah karena mengharamkan yang halal gara2 istrinya cemburu. Aisyah ra dan Hafsah ra merasa bahwa Nabi menghabiskan waktu terlalu lama dengan Zainab ra yang terkenal cantik. Aisyah dan Hafsah akhirnya berkomplot bahwa setiap kali Nabi pulang dr tempat Zainab, mereka berdua akan berkata bahwa Nabi bau mulutnya. Ini dikarenakan Zainab kerap memberi madu kepada Nabi. Demi menyenangkan dua istrinya yang lain (Aisyah dan Hafsah), Nabi akhirnya menyatakan tak akan lagi makan madu supaya mulutnya tidak bau. Allah kemudian menegur Nabi yang telah mengharamkan madu untuk dirinya padahal madu itu halal. Dari sini Nabi paham bahwa istri2nya telah berbohong karena mereka saling cemburu. Baiknya akhlak Nabi adalah bahwa beliau mau memahami kecemburuan istri2nya walaupun akhirnya Nabi tertipu hehehe...
2. wanita membutuhkan jaminan kelanggengan
Karena sifatnya yang pencemburu, maka wanita kerap kali sensitif pada hal2 yang mengancam hubungannya dengan suaminya. Demikian juga dengan Aisyah ra. Beliau begitu mudah cemburu sehingga sering menanyakan bagaimana cinta Nabi kepadanya. Aisyah kerap bertanya "bagaimanakah cintamu padaku Ya Rasulullah?" Nabi akan menjawab "Cintaku padamu layaknya simpul, teguh dan kokoh". Tak puas dengan jawaban itu Aisyah akan kembali bertanya "Bagaimana cintamu padaku Ya Rasulullah?". Sekali lagi Nabi berkata "Tetap seperti dulu, tetap teguh dan kokoh". Tak terpuaskan lagi, Aisyah bertanya "Bagaimanakah cintamu padaku saat ini ya Rasulullah?". Nabi akhirnya memberikan jawaban akhir yang memberi jaminan kelanggengan cinta beliau "Tak cukupkah jaminan bahwa engkau adalah istriku bahkan sampai di surga?". Aisyah tersenyum bahagia.
Jadi bapak2...pahamilah bahwa istri2 sering mudah cemburu, makanya bapak2 jangan suka mancing cemburu. Tunjukkan yang langgeng2 kayak lagunya Bryan Adams yang "have you ever really2 loved a woman" --> romantis inggris perancis deh...
3. sebelum berargumen maka siapkan argumen dan bertaktiklah agar argumen itu bisa dipahami dengan baik.
Begini..ada satu riwayat tentang bagaimana Ummu Salamah mencoba menyampaikan berita buruk kepada suaminya Abu Talhah. Saat itu Abu Talhah sedang bepergian dan tak dinyana salah satu anak beliau meninggal. Ummu Salamah sedih tak terkira. Beliau juga sedih memikirkan bagaimana harus menyampaikan berita ini kepada suaminya. Akhirnya beliau memakai taktik "men are physically based" while "women are emotionally based". Ummu Salamah berdandan cantik, menyiapkan makan. Saat Abu Talhah datang, beliau menyambutnya dengan riang. Mereka berdua makan malam dan akhirnya bercinta malam itu. Saat Abu Talhah bertanya kemanakah anaknya? Ummu Salamah berkata bahwa anak mereka sedang tidur. Sebelum menyatakan berita duka esok paginya, Ummu Salamah berandai2 dengan Abu Talhah. Beliau bertanya "kalo tetangga kita meminjamkan barang kepada kita dan kemudian memintanya esok harinya, kita harus bagaimana?". Suaminya berkata "tentu saja kita harus mengikhlaskan mengembalikannya". Lalu Ummu Salamah berkata "anak kita telah meninggal, Allah mengambil amanah yang dititipkan pada kita layaknya tetangga kita mengambil barangnya kembali". Abu Talhah tentu saja terkejut dan bersedih, namun rangkaian cara Ummu Salamah menata suasana membuatnya bisa ikhlas menerima kenyataan pahit tersebut. Dan diriwayatkan bahwa dari hubungan suami istri malam itu mereka berdua dikarunia anak sholeh oleh Allah sebagai ganti anak mereka yang meninggal.
Di sini bisa kita lihat cara Ummu Salamah berkomunikasi dengan suaminya. Lelaki memang menyukai keindahan fisik, maka Ummu Salamah berdandan untuknya. Juga bahwa ia memakai hujjah (perumpamaan) untuk pelan2 menyampaikan berita yang sesungguhnya.
4. saat berkomunikasi gunakanlah prinsip sandwich
Apakah sandwich itu? yaitu cara mengemas argumen. Layaknya Ummu Salamah di atas, maka ada cara untuk menyampaikan masalah dengan baik. Sandwich terdiri dari 3 lapis, lapisan pertama adalah "ungkapkan sisi positif pasangan anda" . Lapisan kedua "ungkapkan hal negatif yang menjadi masalah". Lapisan ketiga "tutup dengan harapan positif". Jadi seseorang bisa menerima dengan baik kritikan kita. Kemudian juga ada prinsip change I and Me to be We and Us artinya bagaimana kita melihat kebaikan bersama dan bukan keegoisan pribadi semata.
Risalah yang mencontohkan kondisi ini adalah tentang bagaimana Khadijah ra mencoba membantu Nabi menjalani masa sulit di awal kenabiannya. Khadijah ra menenangkan Nabi yang sangat takut di awal masa kenabiannya saat Jibril mendekapnya di Gua Hira'. Nabi khawatir bahwa ada yang salah dengan dirinya. Khadijah menenangkannya dengan berkata "“Tidak begitu. Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah memperhinakanmu. Demi Allah, engkau adalah orang yang selalu menghubungkan tali silaturrahmi, jujur, selalu membantu meringankan orang lain, selalu berusaha menyediakan kebutuhan sehari-hari, menjamu tamu, dan membantu membela kebenaran.” Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
Kalo mau jujur sulit bukan mempercayai suami yang sudah meninggalkan istri sendiri bersama anak2nya selama berpuluh2 hari. Di sini Khadijah memberi sambutan positif kepada suaminya. Bisa saja Khadijah mendustakan Nabi dan malah marah karena Nabi sering meninggalkannya sendiri. Namun Khadijah mendahulukan sifat positif Nabi dalam menghadapi masalah tersebut. Dengan demikian Nabi tidak makin kalut dengan masalahnya karena sambutan positif istrinya dan masalah bisa diselesaikan dengan lebih baik.
5. saling bersabarlah
Tentu kita mengenal Umar bin Khattab, satu2nya sahabat Nabi yang berani berhijrah di siang hari. Beliau tidak takut kepada kaum Quraisy sehingga dengan pedang terhunus beliau berkata "barang siapa yang ingin anaknya menjadi anak yatim, istri kehilangan suaminya dan orang tua kehilangan anaknya, maka silahkan menghalangi Umar bin Khattab yang akan berhijrah hari ini". Tak seorang pun berani menghalangi beliau.
Tatkala beliau menjadi Amirul Mukminin setelah Abu Bakar ra, seorang lelaki mengetuk pintu rumahnya. Ia ingin mengadukan istrinya yang telah dianggapnya menyusahkannya. Namun niat itu ia urungkan tatkala mendengar Umar bin Khattab terdiam saat istrinya memarahinya. Lelaki itu berbalik arah seraya berpikir bagaimana mungkin Umar yang sebegitu beraninya hanya bisa terdiam dimarahi oleh istrinya. Umar kemudian memanggil lelaki tadi dan menanyakan keperluannya. Si lelaki ini menceritakan niatannya, namun dia mengurungkan tatkala mengetahui keadaan Umar. Umar lalu berkata “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar mendengar omelannya karena dia mempunyai hak atasku. Sesungguhnya dia memasak makananku, membuat roti untukku, memcuci pakaianku, menyusui anakku padahal semua itu tidak diwajibkan atasnya. Dia juga menenangkan hatiku untuk tidak melakukan zina. Oleh karenanya aku bersabar kepadanya".
Menurut saya, kesabaran seorang lelaki tentu saja tak beralasan hanya karena dia harus bersabar. Di riwayat itu terlihat ada kerjasama dan penghargaan di antara mereka berdua. Umar bersabar karena memang istrinya telah melakukan banyak hal untuknya. Jadi perlu kesabaran dan penghargaan dari dua belah pihak untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Adapun istri sebaiknya tidak menguji kesabaran suami sampai keterlaluan. Salah satu contoh adalah riwayat Aisyah yang terlalu cemburu kepada Khadija. Banyak kejadian dalam rumah tangga Nabi dimana Aisyah lebih sering memarahi Nabi dan mengomel-ngomel. Berulang kali Aisyah menyatakan kecemburuannya terhadap Khadija. Beliau kerap kali mempertanyakan mengapa Nabi begitu mencintai Khadija yang seorang janda. Aisyah pernah bertanya "Ya Nabi, jika anda diminta memilih antara ladang yang sudah pernah digarap orang dengan ladang yang masih belum pernah digarap, maka mana yang akan anda pilih?". Nabi menjawab "Aku memilih yang belum pernah digarap". Aisyah berkata "Aku satu2nya istri yang anda nikahi saat masih perawan dan bukankah itu lebih baik daripada istri2mu yang lain (yang janda)?". Nabi tetap tenang menghadapi kecemburuan Aisyah ini.
Hingga suatu kali Aisyah berkata yang sangat menyakitkan Nabi “Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”
Point penting dari risalah ini adalah saling bersabarlah karena lelaki dan perempuan mempunyai karakter masing2 yang harus kita terima sebagai satu paket. Kita harus menyadari ada hal2 yang bisa kita ubah dari seseorang dan ada yang tidak bisa. Kesabaran dan keikhlasan untuk saling menerima adalah titik penting kerukunan rumah tangga.
6. give romance a chance
Nabi itu kalo minum dari gelas Aisyah maka beliau akan minum tepat di bekas bibir Aisyah. Romantis gak se?
Aisyah pernah sangat marah pada Nabi, dan Nabi memahami itu. Maka Nabi bertaktik "Aisyah, siapkanlah makan malam untuk seorang tamu. Malam ini kita akan kedatangan seorang tamu istimewa". Aisyah menyiapkan makan malam dan juga mempersiapkan dirinya. Saat malam tiba, Nabi mengajak Aisyah menemui tamunya. Setelah mereka duduk berdua dengan hidangan yang ada, Nabi berkata "Engkaulah tamu istimewaku, Aisyah" *sweet sweet*
Ya Humaira....wahai gadis berpipi kemerah-merahan....*ooo...tidaaaakkk..so cuit cuit*
(maaf-maaf....back to topic)
7. berusahalah untuk saling membantu dalam memperbaiki diri
Aisyah berkata “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”
Risalah ini menunjukkan bagaimana Nabi membimbing Aisyah dengan baik tanpa kekerasan dalam rumah tangganya. Juga pernah diriwayatkan ketika Nabi menghukum istri2nya saat mereka meminta kenaikan uang belanja. Nabi memberi mereka pilihan apakah mereka tetap menginginkan harta dunia ataukah keselamatan akhirat untuk dengan tetap hidup bersahaja. Di sini Nabi sebenarnya sedang mendidik istri2nya agar tidak mendahulukan hal2 keduniawian. Tapi sekali lagi itu dilakukan dengan ma'ruf.
8. jadilah gudang ilmu untuk pasangan
Khadija ra. dan Ummu Salamah adalah dua orang istri Nabi yang mencontohkan peranan mereka dalam mendukung suaminya. Khadija membantu Nabi yang kalut saat awal menerima wahyu dengan mencari informasi lebih ke pamannya Waraqah bin Naufal. Dari Waraqah yang paham ajaran Taurat dan Injil inilah Khadija paham bahwa Nabi memanglah Nabi yang sudah diprediksikan akan diangkat sebagaimana ajaran di kitab sebelumnya. Di sini Khadija menjadi pusat informasi bagi Nabi yang membutuhkan pengetahuan lebih tentang keadaanya.
Demikian juga Ummu Salamah, saat Nabi tak mampu mencari solusi untuk permasalahan selepas perang Hudaibiyah, Ummu Salamah mengusulkan agar Nabi menyembelih hewan kurban tanpa berkata apa-apa. Tindakan Nabi ini kemudian diikuti oleh para sahabat yang akhirnya dapat mencairkan suasana permusuhan di saat itu.
Di sini perlu kerjasama kedua belah pihak untuk mengatasi suatu masalah dalam pernikahan sebagaimana dicontohkan oleh Khadija dan Ummu Salamah. Suami bukanlah manusia super yang bisa mengatasi segalanya. Pun wanita bukanlah konco wingking tak berarti apa2. Keduanya adalah manusia dengan akal yang bisa saling melengkapi.
9. be sensitive and gentle
Nabi tau kapan Aisyah marah kapan ia tidak hanya dengan memperhatikan kata2nya. Jika Aisyah marah maka dia akan menyebut "demi Tuhannya Ibrahim". Jika ia tidak sedang marah maka berkata "demi Tuhannya Muhammad". Nabi amat paham karakter Aisyah.
Nabi pun tidak mengijinkan Ali bin Abu Thalib untuk menikahi perempuan lain karena Nabi tak ingin menyakiti hati Fatimah, putri beliau yang tak ikhlas jika Ali menikah lagi.
Peristiwa lain yang menunjukkan kelembutan hati Nabi adalah saat Aisyah dituduh berzina dan Nabi tak bisa memutuskan apakah Aisyah bersalah atau tidak. Aisyah merasa terpukul dan minta ijin kembali ke rumah orang tuanya. Nabi kemudian menemui Aisyah yang ditemani ayahnya, Abu Bakar. Nabi dan Asiyah ingin menyelesaikan masalah mereka dengan meminta saran dari Abu Bakar. Saat itu Nabi bertanya "Aisyah, kau ingin aku yang bercerita ataukah engkau yang bercerita kepada ayahmu?". Aisyah berkata "engkau boleh bercerita, tapi jangan katakan apapun selain kebenaran". Abu Bakar naik pitam mengetahui hal ini karena beliau tau Nabi Muhammad tak pernah berbohong dan sangat kurang ajar saat Aisyah meragukan kejujuran Nabi. Abu Bakar menampar Aisyah. Aisyah yang ketakutan bersembunyi di balik Nabi yang kemudian meminta Abu Bakar meninggalkan mereka agar dia tidak lebih marah kepada Aisyah. Semarah-marahnya Nabi kepada Asiyah, beliau tetap dengan lembut melindungi istrinya tersebut. Aisyah akhirnya terbukti tak bersalah saat Allah menurunkan ayat Al Quran membela Aisyah.
Jadi, semarah-marahnya kita kepada pasangan, ada baiknya kita tetap menjaga perasaan mereka dan berusaha tidak melakukan kekerasan dan perkataan yang buruk.
9. do your best, so you will be remembered as the best
Aisyah berkata "ah..semua perilakunya indah". Ini yang dikatakan Aisyah saat ditanya bagaimanakah akhlak Nabi. Aisyah menekankan bahwa suaminya adalah penjelmaan Al Quran. Beliau yang mau melakukan pekerjaan rumah untuk membantu istrinya, yang mau mengajari berbagai ilmu kepada istrinya, yang meminta ijin untuk beribadah kepada istrinya, yang memilih tak mengetuk pintu demi tidka membangunkan istrinya, yang mengajaknya bermain, yang mengajaknya bercinta. Isn't he the true role model?
Nabi berkata tentang Khadija “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.” Tak mungkin Nabi akan terus terkenang akan Khadija sebegitu dalamnya jika Khadija bukan istri yang berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi Nabi.
Saya rasa setiap pasangan ingin dikenang sebagai YANG TERBAIK oleh pasangannya bukan? Maka mari menjadi yang terbaik untuk pasangan kita (sok sok-an bangeeettt...padahal yang nulis lom nikah kek kek kek).
Masih teringat rayuan suami salah satu sahabat saya "aku ingin kita selalu bisa beribadah kepadaNya, karena aku ingin engkau menjadi istriku, baik di dunia maupun di akhirat".....tisue please...hiks hiks...terharuh...
Laporan kedua selesai,
Melbourne, 8 April 2010
Salam
Now, tentang perbedaan lelaki dan perempuan, yang biasanya menjadi sumber konflik. Bagaimana menyikapinya? Ok, kita bahas dulu apa sebenarnya perbedaan dan persamaan kedua gender ini. Persamaan kedua gender ini, mengamini pendapat ibu Aminah Wadud, adalah kita semua khalifah di bumi ini. Punya kedudukan yang sama di mata Allah. Bahwa tak ada yang membedakan kualitas manusia kecuali derajat takwanya. Jadi semua punya hak dan kewajiban yang sama untuk berlomba2 menyenangkan Allah. Namun pada prakteknya, memang banyak perbedaan diantara wanita dan pria. Tak bisa dipungkiri wanita tak bisa sepenuhnya menjadi pria. Pun sebaliknya pria tak bisa menjadi wanita sepenuhnya.
Kalo ditilik dari proses penciptaannya, Adam diciptakan dari debu sedangkan Hawa dari tulang rusuk Adam (pernyataan ini mendapat tentangan dari beberapa pihak contohnya ibu Aminah Wadud, namun untuk memudahkan maka tidak saya bahas di sini karena kita tdk sedang bicara hirarki manusia, tapi perbedaan karakter). Debu sendiri dalam bahasa Arab bisa berarti "kerja". Di sini Adam mewakili seseorang yang memakai "perbuatan" sebagai cara dia berkomunikasi. Sedangkan Hawa lebih memakai "kemampuan verbal" untuk berkomunikasi.
Dari sini ada perbedaan mendasar, satu berkomunikasi lewat perbuatan tanpa banyak kata, satu berkomunikasi lewat kata2. Kegagalan memahami cara berkomunikasi membuat konflik seakan tak pernah lepas dari kehidupan suami-istri. Jadi, kelancaran komunikasi ini lah yang patutnya kita dahulukan dengan mencoba memahami cara berkomunikasi masing2. Misal suami jarang bilang I Love You, tapi sering membelikan perhiasan atau pakaian, membawa nafkah untuk keluarga. Istri akan merasa suaminya kurang cinta karena jarang bilang cinta, sedangkan suami merasa sudah mencintai karena sudah bekerja mencari nafkah. Nah, di sini ada kebuntuan komunikasi dimana lelaki tak bicara sedang perempuan tak memahami perbuatan yang sudah dilakukan suaminya. Maka solusinya "bapak2 belajarlah bilang I Love You, cuma 3 kata kok...gampang. Ibu2...pandai2lah mendengar yang tak dikatakan :D".
Perbedaan2 yang lain yang disampaikan syeikhnya sebenarnya hampir sama dengan isi buku Men are from Mars, Women are from Venus. Misalnya, bahwa pria itu monotasking-woman multitasking, pria itu bekerja dengan otak kiri (bekerja dengan angka, tahap demi tahap) - wanita dengan otak kanan (fantasi, kreasi), pria terbiasa mencari solusi - wanita lebih senang sekedar berbagi atau perbedaan2 lainnya. Jadi saya rasa rekan2 bisa membaca buku tersebut untuk lebih jelasnya.
Lalu apa yang menarik dari konferensi kali ini? Sekali lagi bahwa risalah Nabi dan sahabat2 yang digunakan untuk kita berkaca dan berkontemplasi. Bagaimana contoh2 dari shirah Nabi dipelajari untuk kita belajar. Kita mulai satu persatu ya :
1. wanita kebanyakan bersifat pencemburu
Dulu saya kira istri2 Nabi itu wanita2 tanpa cela. Akhlaknya bagus2. Memang sebagian besar terkenal dermawan, baik hati, setia dan pejuang agama, namun ada satu sifat yang juga ternyata melekat pada mereka. Istri Nabi ternyata juga adalah wanita2 pencemburu. Ada satu riwayat dimana Nabi ditegur oleh Allah karena mengharamkan yang halal gara2 istrinya cemburu. Aisyah ra dan Hafsah ra merasa bahwa Nabi menghabiskan waktu terlalu lama dengan Zainab ra yang terkenal cantik. Aisyah dan Hafsah akhirnya berkomplot bahwa setiap kali Nabi pulang dr tempat Zainab, mereka berdua akan berkata bahwa Nabi bau mulutnya. Ini dikarenakan Zainab kerap memberi madu kepada Nabi. Demi menyenangkan dua istrinya yang lain (Aisyah dan Hafsah), Nabi akhirnya menyatakan tak akan lagi makan madu supaya mulutnya tidak bau. Allah kemudian menegur Nabi yang telah mengharamkan madu untuk dirinya padahal madu itu halal. Dari sini Nabi paham bahwa istri2nya telah berbohong karena mereka saling cemburu. Baiknya akhlak Nabi adalah bahwa beliau mau memahami kecemburuan istri2nya walaupun akhirnya Nabi tertipu hehehe...
2. wanita membutuhkan jaminan kelanggengan
Karena sifatnya yang pencemburu, maka wanita kerap kali sensitif pada hal2 yang mengancam hubungannya dengan suaminya. Demikian juga dengan Aisyah ra. Beliau begitu mudah cemburu sehingga sering menanyakan bagaimana cinta Nabi kepadanya. Aisyah kerap bertanya "bagaimanakah cintamu padaku Ya Rasulullah?" Nabi akan menjawab "Cintaku padamu layaknya simpul, teguh dan kokoh". Tak puas dengan jawaban itu Aisyah akan kembali bertanya "Bagaimana cintamu padaku Ya Rasulullah?". Sekali lagi Nabi berkata "Tetap seperti dulu, tetap teguh dan kokoh". Tak terpuaskan lagi, Aisyah bertanya "Bagaimanakah cintamu padaku saat ini ya Rasulullah?". Nabi akhirnya memberikan jawaban akhir yang memberi jaminan kelanggengan cinta beliau "Tak cukupkah jaminan bahwa engkau adalah istriku bahkan sampai di surga?". Aisyah tersenyum bahagia.
Jadi bapak2...pahamilah bahwa istri2 sering mudah cemburu, makanya bapak2 jangan suka mancing cemburu. Tunjukkan yang langgeng2 kayak lagunya Bryan Adams yang "have you ever really2 loved a woman" --> romantis inggris perancis deh...
3. sebelum berargumen maka siapkan argumen dan bertaktiklah agar argumen itu bisa dipahami dengan baik.
Begini..ada satu riwayat tentang bagaimana Ummu Salamah mencoba menyampaikan berita buruk kepada suaminya Abu Talhah. Saat itu Abu Talhah sedang bepergian dan tak dinyana salah satu anak beliau meninggal. Ummu Salamah sedih tak terkira. Beliau juga sedih memikirkan bagaimana harus menyampaikan berita ini kepada suaminya. Akhirnya beliau memakai taktik "men are physically based" while "women are emotionally based". Ummu Salamah berdandan cantik, menyiapkan makan. Saat Abu Talhah datang, beliau menyambutnya dengan riang. Mereka berdua makan malam dan akhirnya bercinta malam itu. Saat Abu Talhah bertanya kemanakah anaknya? Ummu Salamah berkata bahwa anak mereka sedang tidur. Sebelum menyatakan berita duka esok paginya, Ummu Salamah berandai2 dengan Abu Talhah. Beliau bertanya "kalo tetangga kita meminjamkan barang kepada kita dan kemudian memintanya esok harinya, kita harus bagaimana?". Suaminya berkata "tentu saja kita harus mengikhlaskan mengembalikannya". Lalu Ummu Salamah berkata "anak kita telah meninggal, Allah mengambil amanah yang dititipkan pada kita layaknya tetangga kita mengambil barangnya kembali". Abu Talhah tentu saja terkejut dan bersedih, namun rangkaian cara Ummu Salamah menata suasana membuatnya bisa ikhlas menerima kenyataan pahit tersebut. Dan diriwayatkan bahwa dari hubungan suami istri malam itu mereka berdua dikarunia anak sholeh oleh Allah sebagai ganti anak mereka yang meninggal.
Di sini bisa kita lihat cara Ummu Salamah berkomunikasi dengan suaminya. Lelaki memang menyukai keindahan fisik, maka Ummu Salamah berdandan untuknya. Juga bahwa ia memakai hujjah (perumpamaan) untuk pelan2 menyampaikan berita yang sesungguhnya.
4. saat berkomunikasi gunakanlah prinsip sandwich
Apakah sandwich itu? yaitu cara mengemas argumen. Layaknya Ummu Salamah di atas, maka ada cara untuk menyampaikan masalah dengan baik. Sandwich terdiri dari 3 lapis, lapisan pertama adalah "ungkapkan sisi positif pasangan anda" . Lapisan kedua "ungkapkan hal negatif yang menjadi masalah". Lapisan ketiga "tutup dengan harapan positif". Jadi seseorang bisa menerima dengan baik kritikan kita. Kemudian juga ada prinsip change I and Me to be We and Us artinya bagaimana kita melihat kebaikan bersama dan bukan keegoisan pribadi semata.
Risalah yang mencontohkan kondisi ini adalah tentang bagaimana Khadijah ra mencoba membantu Nabi menjalani masa sulit di awal kenabiannya. Khadijah ra menenangkan Nabi yang sangat takut di awal masa kenabiannya saat Jibril mendekapnya di Gua Hira'. Nabi khawatir bahwa ada yang salah dengan dirinya. Khadijah menenangkannya dengan berkata "“Tidak begitu. Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah memperhinakanmu. Demi Allah, engkau adalah orang yang selalu menghubungkan tali silaturrahmi, jujur, selalu membantu meringankan orang lain, selalu berusaha menyediakan kebutuhan sehari-hari, menjamu tamu, dan membantu membela kebenaran.” Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.
Kalo mau jujur sulit bukan mempercayai suami yang sudah meninggalkan istri sendiri bersama anak2nya selama berpuluh2 hari. Di sini Khadijah memberi sambutan positif kepada suaminya. Bisa saja Khadijah mendustakan Nabi dan malah marah karena Nabi sering meninggalkannya sendiri. Namun Khadijah mendahulukan sifat positif Nabi dalam menghadapi masalah tersebut. Dengan demikian Nabi tidak makin kalut dengan masalahnya karena sambutan positif istrinya dan masalah bisa diselesaikan dengan lebih baik.
5. saling bersabarlah
Tentu kita mengenal Umar bin Khattab, satu2nya sahabat Nabi yang berani berhijrah di siang hari. Beliau tidak takut kepada kaum Quraisy sehingga dengan pedang terhunus beliau berkata "barang siapa yang ingin anaknya menjadi anak yatim, istri kehilangan suaminya dan orang tua kehilangan anaknya, maka silahkan menghalangi Umar bin Khattab yang akan berhijrah hari ini". Tak seorang pun berani menghalangi beliau.
Tatkala beliau menjadi Amirul Mukminin setelah Abu Bakar ra, seorang lelaki mengetuk pintu rumahnya. Ia ingin mengadukan istrinya yang telah dianggapnya menyusahkannya. Namun niat itu ia urungkan tatkala mendengar Umar bin Khattab terdiam saat istrinya memarahinya. Lelaki itu berbalik arah seraya berpikir bagaimana mungkin Umar yang sebegitu beraninya hanya bisa terdiam dimarahi oleh istrinya. Umar kemudian memanggil lelaki tadi dan menanyakan keperluannya. Si lelaki ini menceritakan niatannya, namun dia mengurungkan tatkala mengetahui keadaan Umar. Umar lalu berkata “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku bersabar mendengar omelannya karena dia mempunyai hak atasku. Sesungguhnya dia memasak makananku, membuat roti untukku, memcuci pakaianku, menyusui anakku padahal semua itu tidak diwajibkan atasnya. Dia juga menenangkan hatiku untuk tidak melakukan zina. Oleh karenanya aku bersabar kepadanya".
Menurut saya, kesabaran seorang lelaki tentu saja tak beralasan hanya karena dia harus bersabar. Di riwayat itu terlihat ada kerjasama dan penghargaan di antara mereka berdua. Umar bersabar karena memang istrinya telah melakukan banyak hal untuknya. Jadi perlu kesabaran dan penghargaan dari dua belah pihak untuk menjaga keharmonisan keluarga.
Adapun istri sebaiknya tidak menguji kesabaran suami sampai keterlaluan. Salah satu contoh adalah riwayat Aisyah yang terlalu cemburu kepada Khadija. Banyak kejadian dalam rumah tangga Nabi dimana Aisyah lebih sering memarahi Nabi dan mengomel-ngomel. Berulang kali Aisyah menyatakan kecemburuannya terhadap Khadija. Beliau kerap kali mempertanyakan mengapa Nabi begitu mencintai Khadija yang seorang janda. Aisyah pernah bertanya "Ya Nabi, jika anda diminta memilih antara ladang yang sudah pernah digarap orang dengan ladang yang masih belum pernah digarap, maka mana yang akan anda pilih?". Nabi menjawab "Aku memilih yang belum pernah digarap". Aisyah berkata "Aku satu2nya istri yang anda nikahi saat masih perawan dan bukankah itu lebih baik daripada istri2mu yang lain (yang janda)?". Nabi tetap tenang menghadapi kecemburuan Aisyah ini.
Hingga suatu kali Aisyah berkata yang sangat menyakitkan Nabi “Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”
Point penting dari risalah ini adalah saling bersabarlah karena lelaki dan perempuan mempunyai karakter masing2 yang harus kita terima sebagai satu paket. Kita harus menyadari ada hal2 yang bisa kita ubah dari seseorang dan ada yang tidak bisa. Kesabaran dan keikhlasan untuk saling menerima adalah titik penting kerukunan rumah tangga.
6. give romance a chance
Nabi itu kalo minum dari gelas Aisyah maka beliau akan minum tepat di bekas bibir Aisyah. Romantis gak se?
Aisyah pernah sangat marah pada Nabi, dan Nabi memahami itu. Maka Nabi bertaktik "Aisyah, siapkanlah makan malam untuk seorang tamu. Malam ini kita akan kedatangan seorang tamu istimewa". Aisyah menyiapkan makan malam dan juga mempersiapkan dirinya. Saat malam tiba, Nabi mengajak Aisyah menemui tamunya. Setelah mereka duduk berdua dengan hidangan yang ada, Nabi berkata "Engkaulah tamu istimewaku, Aisyah" *sweet sweet*
Ya Humaira....wahai gadis berpipi kemerah-merahan....*ooo...tidaaaakkk..so cuit cuit*
(maaf-maaf....back to topic)
7. berusahalah untuk saling membantu dalam memperbaiki diri
Aisyah berkata “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”
Risalah ini menunjukkan bagaimana Nabi membimbing Aisyah dengan baik tanpa kekerasan dalam rumah tangganya. Juga pernah diriwayatkan ketika Nabi menghukum istri2nya saat mereka meminta kenaikan uang belanja. Nabi memberi mereka pilihan apakah mereka tetap menginginkan harta dunia ataukah keselamatan akhirat untuk dengan tetap hidup bersahaja. Di sini Nabi sebenarnya sedang mendidik istri2nya agar tidak mendahulukan hal2 keduniawian. Tapi sekali lagi itu dilakukan dengan ma'ruf.
8. jadilah gudang ilmu untuk pasangan
Khadija ra. dan Ummu Salamah adalah dua orang istri Nabi yang mencontohkan peranan mereka dalam mendukung suaminya. Khadija membantu Nabi yang kalut saat awal menerima wahyu dengan mencari informasi lebih ke pamannya Waraqah bin Naufal. Dari Waraqah yang paham ajaran Taurat dan Injil inilah Khadija paham bahwa Nabi memanglah Nabi yang sudah diprediksikan akan diangkat sebagaimana ajaran di kitab sebelumnya. Di sini Khadija menjadi pusat informasi bagi Nabi yang membutuhkan pengetahuan lebih tentang keadaanya.
Demikian juga Ummu Salamah, saat Nabi tak mampu mencari solusi untuk permasalahan selepas perang Hudaibiyah, Ummu Salamah mengusulkan agar Nabi menyembelih hewan kurban tanpa berkata apa-apa. Tindakan Nabi ini kemudian diikuti oleh para sahabat yang akhirnya dapat mencairkan suasana permusuhan di saat itu.
Di sini perlu kerjasama kedua belah pihak untuk mengatasi suatu masalah dalam pernikahan sebagaimana dicontohkan oleh Khadija dan Ummu Salamah. Suami bukanlah manusia super yang bisa mengatasi segalanya. Pun wanita bukanlah konco wingking tak berarti apa2. Keduanya adalah manusia dengan akal yang bisa saling melengkapi.
9. be sensitive and gentle
Nabi tau kapan Aisyah marah kapan ia tidak hanya dengan memperhatikan kata2nya. Jika Aisyah marah maka dia akan menyebut "demi Tuhannya Ibrahim". Jika ia tidak sedang marah maka berkata "demi Tuhannya Muhammad". Nabi amat paham karakter Aisyah.
Nabi pun tidak mengijinkan Ali bin Abu Thalib untuk menikahi perempuan lain karena Nabi tak ingin menyakiti hati Fatimah, putri beliau yang tak ikhlas jika Ali menikah lagi.
Peristiwa lain yang menunjukkan kelembutan hati Nabi adalah saat Aisyah dituduh berzina dan Nabi tak bisa memutuskan apakah Aisyah bersalah atau tidak. Aisyah merasa terpukul dan minta ijin kembali ke rumah orang tuanya. Nabi kemudian menemui Aisyah yang ditemani ayahnya, Abu Bakar. Nabi dan Asiyah ingin menyelesaikan masalah mereka dengan meminta saran dari Abu Bakar. Saat itu Nabi bertanya "Aisyah, kau ingin aku yang bercerita ataukah engkau yang bercerita kepada ayahmu?". Aisyah berkata "engkau boleh bercerita, tapi jangan katakan apapun selain kebenaran". Abu Bakar naik pitam mengetahui hal ini karena beliau tau Nabi Muhammad tak pernah berbohong dan sangat kurang ajar saat Aisyah meragukan kejujuran Nabi. Abu Bakar menampar Aisyah. Aisyah yang ketakutan bersembunyi di balik Nabi yang kemudian meminta Abu Bakar meninggalkan mereka agar dia tidak lebih marah kepada Aisyah. Semarah-marahnya Nabi kepada Asiyah, beliau tetap dengan lembut melindungi istrinya tersebut. Aisyah akhirnya terbukti tak bersalah saat Allah menurunkan ayat Al Quran membela Aisyah.
Jadi, semarah-marahnya kita kepada pasangan, ada baiknya kita tetap menjaga perasaan mereka dan berusaha tidak melakukan kekerasan dan perkataan yang buruk.
9. do your best, so you will be remembered as the best
Aisyah berkata "ah..semua perilakunya indah". Ini yang dikatakan Aisyah saat ditanya bagaimanakah akhlak Nabi. Aisyah menekankan bahwa suaminya adalah penjelmaan Al Quran. Beliau yang mau melakukan pekerjaan rumah untuk membantu istrinya, yang mau mengajari berbagai ilmu kepada istrinya, yang meminta ijin untuk beribadah kepada istrinya, yang memilih tak mengetuk pintu demi tidka membangunkan istrinya, yang mengajaknya bermain, yang mengajaknya bercinta. Isn't he the true role model?
Nabi berkata tentang Khadija “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.” Tak mungkin Nabi akan terus terkenang akan Khadija sebegitu dalamnya jika Khadija bukan istri yang berusaha sebaik-baiknya untuk mendampingi Nabi.
Saya rasa setiap pasangan ingin dikenang sebagai YANG TERBAIK oleh pasangannya bukan? Maka mari menjadi yang terbaik untuk pasangan kita (sok sok-an bangeeettt...padahal yang nulis lom nikah kek kek kek).
Masih teringat rayuan suami salah satu sahabat saya "aku ingin kita selalu bisa beribadah kepadaNya, karena aku ingin engkau menjadi istriku, baik di dunia maupun di akhirat".....tisue please...hiks hiks...terharuh...
Laporan kedua selesai,
Melbourne, 8 April 2010
Salam
RSS Feed
Twitter
Tuesday, April 22, 2014
Unknown
Posted in
Tante Zubeth, kayaknya tulisannya perlu diedit deh. Kan sekarang sudah nikah. Ntar diprotes pak Dian lho ya(LoL).
ReplyDelete